BAB 20
Sudut Pandang Penulis
Gianna masih nangis kejer, Ibu sama Jamal berusaha nenangin dia.
Pintu kebuka dan tiga perawat cowok pake baju putih masuk, mau dorong Xander pergi.
"Kalian mau bawa dia kemana?" kata Gianna sambil berdiri dari lantai.
"Kami mau bawa jenazah ke kamar mayat."
"Gak, gak boleh! Kalian gak boleh bawa orang yang masih hidup ke kamar mayat!" kata Gianna dan mereka semua ngeliatin dia kayak orang gila.
"Gigi, kamu ngomong apa sih?" tanya Ibunya Gianna.
"Aku bilang Xander belum mati, dia cuma tidur, aku yakin banget!"
Gianna mendekat ke ranjang Xander, dia buka kain dari wajahnya.
"Xander, ini aku, Gianna, kamu harus bangun, kamu udah tidur lama banget, bangun dong!"
"Mbak, anda harus pergi" kata dokter.
"GAK, AKU GAK AKAN PERGI KALAU XANDER GAK BANGUN!" Dia teriak kenceng banget.
"Xander, mereka mau bawa kamu kalau kamu gak bangun, jadi tolong, bangun dong" kata Gianna udah sambil nangis.
"Sis, dia udah mati dan…"
"Jamal, kalau kamu bilang dia mati lagi, sumpah aku gak akan anggap kamu sebagai kakakku lagi!"
Gianna mulai ngeguncang-guncang badannya dia.
"Bangun, Xander, Oke, aku minta maaf aku bilang hal-hal buruk ke kamu, aku gak maksud tapi bukan berarti kamu harus ninggalin aku, Xander, bangun.
Kamu gak bisa ninggalin aku gitu aja, kamu belum nyampe impian kamu jadi penyanyi terkenal!"
Dia naruh kepalanya di dada dan nangis sejadi-jadinya.
"Xander, aku minta maaf, tolong jangan tinggalin aku kayak gini, kamu gak boleh.
Oke, aku tau aku keras kepala dan nyebelin tapi kamu gak bisa ninggalin aku, dan kamu tau kenapa?
Karena aku cinta kamu, iya, aku bilang, aku cinta kamu banget, Alexander, aku cinta kamu jadi tolong bangun.
Alexander McQueen, aku cinta kamu jadi bangun dong!" Gianna teriak kenceng banget.
Tiba-tiba Xander bersin keras banget.
"Dia punya denyut nadi" kata dokter.
Sudut Pandang Gianna
"Dia punya denyut nadi" kata dokter dan jantungku langsung kayak loncat.
"Kalian semua harus pergi sekarang."
"Tapi…"
"Ayo pergi, Gigi, biar dokter yang kerjain" Kata Ibuku memotong pembicaraan.
Ibuku narik aku keluar dari ruangan.
"Gigi!" Seseorang manggil dan itu Ashley, aku lari ke dia dan meluk dia.
"Gak papa, aku di sini sekarang" Kata dia.
* * *
* *
Satu jam kemudian.
Setelah aku cerita semua ke Ashley, dokter keluar.
"Gimana temenku?" tanya Jamal.
"Jujur, ini mukjizat dia bisa hidup lagi, dia baik-baik aja dan pemulihannya cepet banget."
Kita semua nghela napas lega.
"Boleh kita lihat dia?" tanya Ibuku.
"Boleh tapi dia masih gak sadar sekarang."
"Oke, makasih dokter."
Kita masuk dan Xander tidur nyenyak banget, dia kelihatan ganteng banget.
Aku gak tau kenapa aku gak sadar perasaan aku ke dia dari dulu.
Aku mendekat dan duduk di depannya dan ngelus wajahnya.
"Mom, dia hidup, dia beneran hidup!"
"Iya sayang, kita cuma harus nunggu dia bangun."
"Aku bodoh banget gak sadar perasaan aku ke dia dan betapa dia cinta aku."
"Yah, Gigi, pas dia bangun, kalian berdua bakal punya banyak hal buat diomongin."
* * *
* *
Tiga hari kemudian.
Aku lagi ngeliatin diri sendiri di cermin, Jamal nelpon aku dan bilang Xander udah bangun jadi aku harus kelihatan cantik.
"Gigi, kamu udah lama banget ngeliatin cermin" kata Ibuku.
"Mom, aku hampir selesai, tunggu aku di mobil ya."
Gak lama, aku udah selesai dan aku turun.
"Wah, malaikatku kelihatan cantik" kata Ibuku sambil nyalain mobil.
"Makasih, Mom, aku beneran gak sabar ketemu Xander" kataku dan Ibuku cekikikan.
Akhirnya kita sampe di rumah sakit dan pergi ke kamar Xander, dia udah keluar dari UGD karena keadaannya udah membaik.
Pas di jalan ke rumah sakit, aku beli cokelat kesukaan Xander.
"Selamat pagi, Semua" kata Ibuku pas dia masuk.
"Selamat pagi, Tante" aku denger Xander ngomong, terus aku masuk.
Mata kita ketemu, kita saling pandang.
"Xander" kataku dan meluk dia erat banget.
Dia dorong aku sedikit bikin aku bingung.
"Kamu gak papa? Kamu ngerasa sakit?"
"Kenapa kamu peduli? Aku pikir kamu cuma peduli sama diri sendiri."
"Gak, Xander, aku peduli sama kamu kayak kamu peduli sama aku."
"Gak, kamu salah paham, aku gak peduli sama kamu, aku udah berhenti peduli sejak kamu bilang aku mengecewakan" katanya dingin.
"Xander, aku tau aku bilang banyak hal buruk ke kamu tapi aku minta maaf, makanya aku di sini."
"Gak, kamu cuma kasihan sama aku, kamu di sini cuma buat bersihin hati nurani kamu, itu aja."
"Gak, Xander, gak gitu, aku udah minta maaf."
"Kamu lupa berapa kali aku minta maaf ke kamu tapi kamu gak peduli."
"Aku cuma…"
"Aku gak mau denger, aku gak mau liat muka kamu."
"Apa maksudnya?"
"Aku minta kamu pergi, pergi aja, tinggalin aku sendiri."
"Bro, pikirin lagi deh" kata Jamal.
"Aku udah mikirin, dia cuma di sini karena kasihan sama aku, dia masih egois."
"Xander, tolong jangan lakuin ini ke aku."
"Gianna, aku bilang pergi, keluar sana!"
"Xander, jangan terburu-buru" kata Ibuku.
"Gak, dia bener, aku harus pergi, aku gak mau bikin kesehatannya makin parah jadi aku bakal pergi tapi sebelumnya, aku cuma mau kasih ini ke kamu."
Aku ngeluarin cokelat yang aku beli buat dia.
"Aku beli buat kamu, kalau kehadiran aku gak bikin kamu seneng, mungkin cokelatnya bisa.""
Aku jatohin cokelat di samping dia.
"Mom, Jamal, aku bakal ke rumah Ashley."
"Oke, hati-hati ya" kata Ibuku dan meluk aku.
Aku ngeliat Xander terakhir kali sebelum pergi.
T.B.C