BAB 37
Sudut Pandang Gianna
'Gak nyangka kita bakal lulus kuliah bentar lagi,' kataku sambil nyenderin kepala di dada Xander.
Kita lagi di teras rumah Xander, waktu itu malam dan suasananya hangat dan sepi.
'Iya, kayak baru kemarin gue pindah ke sini.'
'Gimana reaksi lo pas orang tua lo bilang mau pindah?'
'Gue marah banget soalnya mereka gak pernah ada buat gue dan satu-satunya sahabat sejati gue itu teman-teman kuliah gue dulu, jadi pindah artinya mulai dari nol lagi, jadi gue marah banget.'
'Terus apa yang ngerubah reaksi lo?'
'Hari gue pindah ke rumah ini, gue milih kamar sendiri, terus gue liat keluar jendela dan gue liat cewek, meskipun gue gak bisa liat mukanya tapi gue liat rambut panjangnya yang hitam, gue tau dia cantik,' Katanya dan gue cekikikan di dadanya.
'Tau gak sih, pas pertama kali liat lo, gue beneran kagum sama lo sedikit,' kataku dan dia terkekeh.
'Terus kenapa lo jutek banget sama gue?'
'Gue kan cewek, gak mungkin gue nyerah gitu aja sama lo, lagian lo nyebelin banget, masih sih tapi gak senyebelin dulu, tapi lama-lama gue malah jatuh cinta sama lo, gue gak tau gimana atau kapan, gue cuma gak mau lo ninggalin gue.'
'Lo bener-bener beda dari cewek yang pernah gue temui, lo kuat dan bener-bener gigih dan seksi banget dan berhubungan badan sama lo tuh kayak surga,' Katanya dan gue blushing parah.
'Gue sayang banget sama lo, Bro,' kataku dan dia nyium kening gue.
'Gue lebih sayang, mata abu-abu.'
Dia nguasai bibir gue dan gue langsung nyerah, kita terus berciuman dan jalan masuk rumah di saat yang sama.
Kita sampai di ruang tamu, gue berhenti ciuman.
'Coba yang beda yuk,' kataku sambil ngedipin mata ke dia.
Gue cium dia balik, tangan gue ngelus dadanya, turun ke celana.
Kita masih ciuman, gue lagi buka gespernya.
Gue berhenti ciuman, terus mulai ngasih ciuman di lehernya.
'Gue bakal bikin lo desah nama gue,' bisikku di telinganya bikin dia cekikikan.
Gue berlutut terus buka celana dan boxer-nya.
Gue ambil 'adik'nya yang udah keras di mulut gue, terus gue mulai ngisepnya, muter-muterin lidah gue di atasnya.
'Hmm..oh, iya..Giannaaa..hmmmm'
Itu suara desahan Xander, dia desah gak karuan.
Dia ngerapiin rambut gue ke belakang biar gak ganggu gue.
Gak lama kemudian, dia gendong gue dan naruh gue di sofa.
Dia buka bajunya buru-buru, terus lanjut buka pakaian gue.
'Santai dong,' kataku ke dia karena dia gak sabaran banget.
'Gue juga mau coba yang baru,' katanya sambil nyengir ke gue.
'Maju empat kaki'
Gue berlutut, langsung aja dia masukin ke gue dari belakang.
Dia mulai dorong masuk keluar cepet banget, kenikmatannya luar biasa.
'Hmm..
'Oh..iya..
'Jangan berhenti, pleaseeee…'
Suara kulit kita beradu dan desahan cuma itu yang kedengeran.
Seminggu kemudian.
Gue lagi di rumah ngerjain tugas akhir, itu kan emang harus dikerjain semua mahasiswa yang mau lulus kuliah.
Gue mulai denger suara ribut dari luar tapi gue abaikan.
Jamal langsung masuk kamar gue.
'Lo belum denger…'
'Xander sama orang tuanya berantem,' Katanya.
'Hah?'
'Cepetan,' kata Jamal dan narik gue ke bawah.
Kita keluar, Ayah Xander lagi teriak ke dia, sementara Xander bawa koper mau naik motornya.
'Ada apa sih?' tanyaku sambil mendekat ke Xander.
'Lo udah tau selama ini?' Ibu Xander nanya.
'Tau apa?'
'Kalo Xander gak pernah kuliah Teknik tapi kuliah Musik, ya ampun,'
'Iya tapi…'
'Tapi gak ada, gue gak mau liat muka dia lagi di rumah ini,' Ayah Xander bilang dengan marah.
'Dan lo kecil…'
'Mom, jangan berani-berani hina pacar gue, jangan berani-berani,' kata Xander dengan marah
'Xander, tenang,' kataku sambil megang tangannya.
'Pergi dari sini, lo tuh bikin kecewa,'
'Gak, Ayah, lo yang bikin kecewa, bikin kecewa jadi orang tua, lo sama Mom karena gak pernah ada waktu buat gue,' kata Xander dan ayahnya mau nyerang dia tapi ibunya nahan.
'Pergi dan jangan balik lagi sampe lo mutusin buat jadi insinyur'
Orang tua Xander balik ke rumah mereka.
'Kok bisa mereka tau?'
'Mereka liat tugas gue di meja belajar gue, gue sih gak peduli mereka tau, mereka pasti bakal tau juga'
'Jadi lo mau gimana? Lo bisa nginep di rumah kita, i…'
'Gak, gue gak mau, gue mau sendiri buat mikir,'
'Tapi lo mau kemana?'
'Gak usah khawatir, gue bakal ke rumah temen gue'
'Xander tapi lo bisa…'
'Gak, Gianna, jangan maksa, biarin gue sendiri,'
'Oke, oke, deh, kapan lo balik?'
'Cepet'
'Gue boleh peluk gak?' tanyaku dan ekspresinya melunak.
'Tentu aja, sayang'
Kita pelukan beberapa detik, terus dia naik motornya.
'Gue sayang lo,' kataku dan dia senyum.
'Gue lebih sayang,' katanya dan ngebut pake motornya.
T.B.C
Rahasia terbongkar