BAB 32
Sudut Pandang Gianna
Aku masih gak percaya, aku selalu tau kalau Ashley tertarik sama Jamal, tapi aku pikir itu cuma gitu doang.
Ashley selalu benci cowok yang tukang tebar pesona, dan Jamal adalah definisi sempurna dari seorang playboy.
Kenapa dia mau tidur sama Jamal?
"Aku mau ke bawah, kalian berdua harus dandan dan temuin aku di ruang tamu," kataku lalu pergi.
Aku gak percaya sahabat terbaikku tidur sama saudara kembar ku, Jamal dari semua orang.
Ini gila.
"Gianna, ini bukan seperti yang kamu pikirkan," kata Ashley saat dia turun dengan Jamal.
"Bukan seperti yang aku pikirkan, Ashley? Jadi, apa yang kalian berdua lakukan di kamar, ngobrol?"
Ashley, dari semua orang di dunia, harus saudara kembarku, Sialan.
Ashley, Jamal itu tukang tebar pesona kronis, dia tidur sama cewek random, dia gak peduli perasaan.
Dia…"
"AKU CINTA SAMA DIA," teriaknya memotongku.
"Kamu apa?"
"Aku cinta sama dia, aku mengakuinya, aku jatuh cinta sama Jamal tanpa harapan."
"Ashley, kamu gak bisa cinta sama playboy kayak dia, aku mencoba melindungimu, dia akan menyakitimu, aku kenal dia."
"Yah, udah terlambat buat aku, Gigi."
"Jadi, hubungan kalian apa? Bahkan tanya dia, kalau kalian berdua tidur bareng mengubah sesuatu buat dia... Tanya dia.
Ashley, apa yang terjadi sama kamu? Tidur sama seseorang yang gak peduli sama perasaanmu?"
"Itu gak bener, Gigi, aku peduli."
"Kamu yang gak peduli, Gigi," kata Ashley.
"Maksudnya?"
"Gianna, kamu bilang kamu sahabat terbaikku tapi kamu gak pernah peduli sama aku."
"Kamu ngomong apa, Ashley? Aku selalu peduli sama kamu."
"Sejak kamu sama Xander mulai pacaran, kamu kasih semua waktumu buat dia, kamu lupa sama aku.
Kadang kamu gak nelpon seminggu penuh, satu-satunya waktu kamu nelpon cuma buat minta saran tentang Xander, nyebelin tau gak sih kalau sahabat terbaikmu berhenti peduli."
"Ashley, aku gak pernah berhenti peduli, aku cuma…"
"Kamu gak pernah punya waktu buat aku, gak papa, kayaknya gini deh jadinya, orang asing," katanya lalu pergi.
Aku duduk di sofa.
"Aku mau ngasih tau kamu tapi…"
"Tapi apa, Jamal, pergi aja deh."
"Aku udah nungguin kamu dari tadi," kata Xander saat aku tiba di taman yang dia suruh aku temuin.
"Maaf, aku ada urusan," kataku sedih.
"Kenapa? Kamu keliatan sedih, ada yang nyakitin kamu, cerita dong."
"Enggak, aku malah nyakitin orang."
"Siapa?"
"Ashley, kita berantem dan aku rasa dia gak mau temenan lagi sama aku."
"Kalian berdua sahabat terbaik."
"Dulu sih."
"Apa yang bikin berantem?"
"Aku nemuin dia di ranjang… sama Jamal."
"Oh, jadi kamu tau?" Xander bertanya dan aku menatapnya bingung.
"Kamu juga tau tentang Jamal dan Ashley... Kenapa gak bilang aku?"
"Karena aku tau kamu akan kayak gini."
"Tentu aja aku bereaksi, Jamal itu playboy banget, maksudnya dia mainin perasaan cewek.
Aku pernah liat cewek-cewek dateng ngemis ke aku buat ngomong sama Jamal dan aku gak mau Ashley patah hati."
"Sayang, Jamal udah berubah, Ashley yang bikin dia berubah."
"Gimana?"
"Jamal bilang ke aku kalau dia mikir dia beneran punya perasaan sama Ashley tapi dia mau yakin, pas dia akhirnya yakin, dia nembak Ashley dan Ashley nolak.
Ashley bilang dia gak akan pernah pacaran sama playboy kayak dia, jadi Jamal bertekad buat berubah, dia berhenti deketan sama cewek-cewek, dia berhenti ngegombal."
"Itu bener, pantesan aku jarang liat dia nyelinap bawa cewek ke rumah."
"Betul, dia ngelakuin semua itu buat nunjukin ke Ashley kalau dia udah bener-bener berubah."
"Oh, aku buta dan bodoh banget, aku gak sadar, aku pikir Jamal cuma bohongin dia."
"Kamu harus minta maaf sama mereka dan juga balikin sahabat terbaikmu."
"Dia malah bilang aku jarang ngabisin waktu sama dia."
"Kamu bisa bikin acara cewek-cewek malam mingguan."
"Iya, makasih, sayang, aku tanpa kamu kayak gimana ya?"
"Sekarang, bikin persahabatan itu berhasil."
* * * * * *
"Jamal, kita perlu ngomong," kataku pas udah sampe rumah.
Aku liat dia lagi main video game, aku duduk di sampingnya di sofa.
"Iya, boleh," katanya sambil matiin game.
"Aku bener-bener minta maaf udah salah paham sama kamu dan Ashley, aku harusnya dengerin kalian berdua.
Aku cuma marah karena aku tau kamu playboy, aku serius gak tau kamu udah berubah."
"Gak papa, maksudnya kita kan saudara, kembar malah, kita tau segalanya tentang satu sama lain, gak papa, maksudnya aku tuh bajingan idiot."
"Kamu cinta sama dia?"
"Aku cinta dia sepenuh hati, aku cinta dia banget."
Aku langsung meluk dia, dia ketawa dan meluk balik.
"Kamu tau ini pertama kalinya kita meluk lebih dari 30 detik," katanya dan aku ketawa.
"Sana balikin sahabat terbaikmu."
"Iya, dan aku punya rencana."
* * * * * *
"Semoga berhasil," kataku pada diri sendiri.
Aku nge-teks Ashley buat ketemu di taman, bukan taman biasa tapi taman yang jadi awal persahabatan kita.
"Ashley!!" Aku berseri-seri waktu liat dia.
"Kenapa kamu nyuruh aku kesini?"
"Kamu gak inget taman ini? Ini taman waktu pertama kali kita ketemu, kita masih kecil kayak umur 5 tahun.
Kalungku ilang, aku lagi nyariin pas aku nabrak kamu, terus kamu bantuin aku nemuin kalungnya.
Terus persahabatan kita mulai, kita selalu ngebela satu sama lain, kamu bakal gebukin siapa aja yang macem-macem sama aku.
Aku inget waktu aku luka karena geng cowok, waktu kamu tau, kamu datengin rumah mereka satu-satu dan gebukin mereka pake tongkat baseball.
Atau… atau…"
Aku mau lanjut ngomong tapi aku mulai nangis kejer, bahkan Ashley juga mulai nangis.
"Atau waktu cowok yang aku taksir ngehina aku, kita telanjangin tuh cowok dan foto-foto," kata Ashley juga sambil nangis.
"Maaf, aku bener-bener minta maaf, aku gak seharusnya nyuekin kamu, maaf," kataku dan dia meluk aku.
"Aku maafin kamu, sayang," katanya dan kita berdua cekikikan.
"Makasih, jadi bestie?" tanyaku.
"Enggak, kita sekarang saudara"
"Yesssss"
Kita cekikikan dan saling berpelukan.
T.B.C