BAB 3
Sudut Pandang Alexander
'Lepas dulu lensa kontak lo' kataku sambil senyum ke arahku.
Bikin dia kesel tuh bikin gue seneng, mukanya lucu banget.
'Oke deh' Kata dia trus dia lepas lensanya.
'Seneng kan? Sekarang, balikin buku gue'
Gue natap matanya yang indah, dia terus ngomong sesuatu tapi gue gak denger karena gue kelelep dalam tatapannya.
'WOI!' Dia teriak bikin gue balik ke dunia nyata.
'Oh, maaf, gue ngelamun bentar'
'Balikin buku gue, bocah nyebelin'
'Gue balikin kalau ada syaratnya'
'Syarat apalagi, denger ya, lo udah hampir banget kena pisau di kepala'
'Lo harus mohon sama gue'
Sudut Pandang Gianna
'Lo harus mohon sama gue' katanya dan gue ketawa kecil.
'Lo pasti becanda kan, mohon buat buku gue sendiri, konyol'
'Oke, buku lo selamat tinggal' katanya trus nyoba nutup jendelanya.
Gue gak bisa biarin dia ngambilnya, itu novel Tamara Blair dan gue udah pengen banget baca.
'Tunggu' kataku dan dia naikin lagi jendelanya.
'Ya, Nona Gianna' katanya sambil nyengir ke gue, aduh, gue pengen banget cekek dia.
'Tolong balikin buku gue'
'Hmm, lumayan sih, tapi lo harus senyum pas ngomongnya'
'Xander, gue rasa lo beneran gila'
'Kalo lo gak nurut, gue masukin novel kesayangan lo ke celana dalam gue'
'Lo gak bakal berani'
Dia nyoba masukin buku itu ke celananya.
'Oke deh, tolong balikin buku gue' kataku sambil maksa senyum.
'Nah gitu dong, lo liat dunia bakal lebih baik kalo lo nurut'
Dia ngelempar buku itu ke gue yang langsung gue tangkep.
'Sekarang, dengerin gue, bocah ingusan, idung gede, kalo lo ngulangin lagi, gue kirim lo langsung ke rumah sakit' kataku trus nutup jendela.
Gue bisa denger dia ketawa, tolol banget.
*
*
*
*
*
*
2 minggu kemudian.
'Bro, cowok itu nyebelin banget, kemarin dia terus-terusan ngelemparin kertas ke kamar gue gak jelas' kataku ke Jamal.
Kita lagi nonton film bareng Ibu.
'Mungkin dia suka sama lo' kata Jamal dan gue muter mata.
'Serius, Jamal, itu doang yang lo bisa bilang?'
'Ya, emangnya lo mau gue bilang apa? Xander kan cowok baik dan dia bahkan bukan playboy, gue jarang liat dia sama cewek kecuali Madison tapi dia tuh yang maksa-maksa'
'Tipikal Madison, dia tuh maksa ke semua hal, dia pikir karena dia populer semua cowok pengen dia'
'Lo tau gak sih, lo tuh bisa jadi cewek paling populer di kampus kalo lo nunjukkin diri lo yang sebenarnya dan berhenti ngumpet'
'Jamal, kan udah gue bilang gue gak mau jadi pusat perhatian, Xander aja udah bikin gue pusing'
'Lo ngomongin Xander, tetangga kita itu?' Ibu nanya sambil masuk bawa semangkuk popcorn.
'Iya, Bu'
'Xander, dia tuh cowok yang manis dan sopan'
'Ibu udah ngobrol sama dia?' tanyaku.
'Udah, dia tuh sering nganter Ibu ke mall buat beli barang, dia tuh sopan banget dan dia selalu nanyain kamu, Gianna'
'Bu, cowok itu tuh kadang nyebelin banget sampe gue nahan diri buat gak cekek dia'
'Aduh, udah deh Gigi, dia kan cowok baik dan Ibu rasa dia suka sama kamu'
'Oke, cukup, kita balik nonton film aja ya?'
Jamal mau ngomong sesuatu pas bel pintu bunyi.
'Biar Ibu yang buka' kata Ibu.
Dia jalan ke pintu dan bukain.
'Xander, kamu dateng'
Apa? Xander ada di sini, dia masuk pake hoodie abu-abu dan celana olahraga item.
'Woi, Bro, apa kabar' kata Jamal sambil tos sama Xander.
'Bu, kok dia di sini?'
'Ibu ajak dia nonton film bareng kita'
'Oke, gue udah gak minat lagi sama filmnya, mau ke kamar buat tidur'
'Sis, jangan gitu deh'
'Gianna, gue gak ada maksud jahat kok' kata Xander yang keliatan polos banget.
'Gigi, liat deh dia baik banget sama kamu' kata Ibu dan gue ngehela napas.
'Oke, gue nonton filmnya'
Gue duduk di sebelah Jamal, dia langsung berdiri.
'Gue lebih suka duduk di sisi ruang tamu itu, jadi Xander, kita tukeran tempat, lo duduk di sebelah Gigi'
'Itu gak…'
'Oke, boleh deh' kata Xander motong omongan gue.
Dia sama Jamal tukeran tempat, jadi Xander duduk deket banget sama gue, gue gak bisa geser karena sofa nya kecil.
Gue ngasih tatapan 'gue bunuh lo' ke Jamal, dia ngedipin gue.
Xander makin deket ke gue.
'Kalo lo makin deket, gue bakal tonjok muka lo' bisikku ke dia, dia ketawa kecil.
*
*
*
*
*
*
*
'Filmnya seru banget gila' kata Xander.
'Bener banget' kata Jamal.
'Xander, mau makan siang bareng kita?'
'Enggak, dia gak bakal makan siang bareng kita' kataku sambil natap Xander tajam.
'Aduh, jangan gitu dong, Gianna bikin nasi merah dan salad, enak banget loh'
'Gue gak bisa nolak makanan bikinan Gianna, jadi ayo' kata Xander.
Ibu sama Jamal udah jalan ke ruang makan, gue narik Xander menjauh.
'Ingetin gue buat bunuh lo sebelum lo pergi' kataku trus jalan duluan.
Sudut Pandang Alexander
Ibu Gianna nyajiin makanan, Gianna terus ngasih gue tatapan maut yang bikin gue ketawa kecil.
'Ayo, Xander, makan'
'Oke' Gue ngambil sesendok makanan, gue makan dan pasang muka lucu ke Gianna.
'Enak gak?' Ibu Gianna nanya.
'Enak banget, Gianna, lo jago banget'
'Bodo amat' Katanya sambil muter mata.
'Gigi, baik sama dia dong'
'Iya, Gigi, gue cuma muji lo doang, minimal lo baik lah sama gue' kataku.
Dia ngasih tanda 'gue bunuh lo', gue ngedipin dia bikin dia buang muka.
'Gigi, inget gak sih dulu Ayah sama Ibu sering lomba masak, seru banget'
'Iya, selalu seru dan kita banyak makan' Katanya senang.
'Pasti seru banget ya' kataku sedih inget kalo ortu gue aja gak punya waktu buat gue.
'Alex, gimana ortu kamu?'
'Mereka pergi jalan-jalan kayak biasa, tapi gak papa kok' Kataku sambil senyum tipis.
'Aduh, jangan khawatir, anak-anak Ibu bakal nemenin kamu kok'
'Gue gak bakal nemenin soalnya gue punya hal yang lebih penting buat dikerjain' kata Gianna.
'Gigi, baik dong'
'Gak usah peduliin, Gigi tuh emang gak suka sama gue'
'Gimana kalo lo sama gue ke lapangan basket di jalan itu?' Jamal nanya.
'Seru tuh'
'Gigi bisa ikut juga, dia jago main basket juga'
Sudut Pandang Gianna
'Gigi bisa ikut juga, dia jago main basket juga' kata Ibu.
Ada apa sih sama Ibu, kok pengen banget gue main sama Xander?
'Gak, gue ada PR'
'Gigi, kan hari Jumat, PR nya bisa dikerjain besok'
'Gak, gue mau kerjain sekarang'
'Bu, udah deh, jangan lupa kan dia kutu buku' kata Jamal.
'Gue bukan kutu buku'
'Kalo gitu buktiin kalo lo bukan kutu buku dan ikut kita' kata Xander sambil nyengir ke gue.
'Oke'
*
*
*
*
*
*
'Oke, gue siap, ayo' kataku ke Xander sama Jamal.
'Lo pake lensa?' tanya Xander.
'Iya, gue gak mau ada yang liat warna mata gue'
'Mata abu-abu lo tuh cantik loh'
'Kita berangkat gak sih?'
Kita jalan ke lapangan basket, untung gak ada siapa-siapa.
'Oke, kalian berdua main, gue nonton aja' kataku trus duduk di bangku.
'Lo tuh bosenin, Sis' kata Jamal bikin Xander ketawa kecil.
'Lanjutin terus, Jamal, nanti Ibu tau daftar cewek yang lo selundupin ke rumah kita' kataku dan dia muter mata.
Mereka mulai main dan gue harus akui Xander jago banget.
'Xander, lo jago banget' kata Jamal.
'Ayo, Gigi, kita main'
'Gak, gue sih enak-enakan aja di bangku ini'
'Ayo dong, kecuali lo takut' kata Xander dan gue berdiri.
'Oke'
Kita mulai main, gue akalin dia dan ngegolin.
'Gue ngalah nih sama lo' katanya dan gue muter mata.
Kita terus main, Jamal nontonin kita, skornya 4-4.
'Oke, kalo salah satu dari kita menang, yang kalah harus beliin es krim buat yang menang' kata Xander.
'Siap-siap aja beliin gue es krim'
Kita mulai main, susah banget karena kita gak mau ngalah dan gue pengen menang.
'Liat, itu Beyonce!!!' kataku semangat, Xander kealihan dan gue ngegolin.
'GUE MENANG!!!!' Kataku sambil lompat kegirangan.
'Lo curang, Nona'
'Enggak kok, lo yang kealihan'
'Beyonce aja gak ada di sana, lo ngerjain gue'
'Maaf ya, gue menang, lo kalah, es krim gue'
'Bodo amat' katanya sambil muter mata.
'Woi, kayaknya lo jago juga'
Kita noleh dan ada 5 cowok.
'Emangnya ada masalah?' Xander nanya.
'Gimana kalo kita main?' Cowok berambut pirang nanya.
'Hadiahnya apa?'
'Gak tau, apa aja deh, cuma gue sama lo'
'Yang menang dapet cium dari adek gue' kata Jamal dan gue beneran membeku.
'Deal, adek lo cantik' kata cowok pirang itu.
'Mulai' kata Xander dan dia buka bajunya nunjukkin otot perutnya.
Gue bisa denger suara cekikikan, trus gue sadar lapangan basket penuh sama orang dan cewek-cewek pada ngiler liatin Xander.
'Orang yang skornya paling tinggi dalam 10 menit ke depan yang menang' kata Jamal.
'Mulai' Seseorang teriak.
'Jamal, lo gila ya, gue gak mau cium orang asing'
'Tenang aja, Xander jago kok, dia pasti menang'
'Tapi gue juga gak mau cium Xander'
Jamal jalan ke cewek-cewek, gue beneran gak mau cium siapa pun.
T.B.C