BAB 31
Sudut Pandang Gianna
Dalam beberapa menit, kita udah gak pake baju, desah-desahan di telinga satu sama lain.
Setiap bibirnya nyentuh, rasanya kayak ada api di tubuhku, aku mau dia, aku pengen banget.
'Masukin aku sekarang juga!' aku mendesah bikin dia cekikikan.
'Belum, sayang,' katanya menggoda.
Dia naruh bibirnya di puting kiriku bikin aku mendesah.
Lidahnya muter-muter di sana, sementara tangan kanannya meraba puting satunya.
Dia nyium aku dari dada ke bawah.
Lidahnya mulai beraksi di 'Honeypot' ku.
Aku terus mendesah kayak orang gila, tanganku di rambutnya.
'Kamu enak banget,' katanya terus nyium bibirku.
'Udah siap?' Dia nanya dan aku ngangguk.
'Yakin?'
'Iyaaa!'
Dia masukin dirinya ke aku pelan-pelan, aku megangin bahunya.
'Sialan, kamu kenceng banget!'
Dia masukin semuanya ke aku, terus mulai dorong keluar masuk pelan-pelan.
Kenikmatannya gak bisa dijelasin, dia ningkatin tempo bikin b*b-ku mental-mentul.
'Kamu manis banget, Sialan!' Xander mendesah.
'Lebih cepet, Hmmm… Xander, jangan berhenti, jangan!' kataku nikmat banget dengan mata tertutup.
Kita mencapai klimaks berkali-kali malam itu, kita bercinta berulang-ulang dan berulang lagi.
*
*
*
*
*
Sudut Pandang Alexander
Aku bangun sambil senyum sendiri, aku udah bercinta yang luar biasa sama cewek impianku.
Malam tadi adalah yang terbaik dan aku gak akan pernah lupain itu.
Desahannya bikin aku gila banget, kita udah terbang ke bulan dan balik lagi malam tadi.
Kalo aja kamarku gak kedap suara, semua orang di lingkungan rumah pasti udah denger desahan kita.
Aku liat ke sampingku dan di sana dia, tidur kayak Ratu.
Aku bisa liatin dia seharian tapi dia pelan-pelan buka mata.
'Selamat pagi, Cantik,' kataku dan dia senyum.
'Selamat pagi.'
Kita berdua duduk tegak dengan selimut nutupin tubuh telanjang kita.
'Malam tadi tuuuuuh luar biasa, aku gak pernah ngerasa seenak ini seumur hidupku,' katanya sambil senyum lebar.
'Sama kayak kamu, kamu keren banget.'
Dia ngambil hapenya dari sisi ranjang, terus dia teriak.
'Ada apa?'
'Ini udah jam 2 siang, kita bolos sekolah!'
'Jam 2 siang? Kok bisa sih?'
'Kita kesiangan dan itu semua salah kamu!'
'Salahku? Gimana?'
'Kamu mau terus-terusan gitu!'
'Kamu gak nolak, malah kamu yang minta lebih banyak kan?'
'Oke, udah deh berantemnya, kita bercinta sepanjang malam, kecapean dan kesiangan, itu salah kita berdua.'
'Itu keren sih,' kataku dan dia cekikikan.
'Bener banget tapi sekarang, aku ada 33 panggilan tak terjawab dari Ibu, aku mau nelpon dia.'
Sudut Pandang Gianna
Aku nelpon hapenya Ibu dan dia ngangkat.
'Dasar anak nakal, hapemu ditaruh di mana?'
'Di silent, maaf, Ibu.'
'Kamu sama Xander gak sekolah, kenapa?'
'Kita…'
Aku keinterupsi sama rasa bibir Xander di putingku.
Dia masuk ke bawah selimut dan mulai ngisep b*b-ku.
Aku berusaha keras buat gak mendesah, cowok ini bakal bunuh aku.
'Jelasin, apa alasannya?'
Suara Ibu ngebuat aku balik ke dunia nyata.
'Umm, aku dan Xander..hmmm'
Aku nutup mulutku waktu sadar aku udah mendesah.
'Ada apa sih, suara kayak gitu kenapa?'
'Ummm.. gak ada apa-apaaa, aku gak sengaja kejeduk kaki di tembok, itu aja kok.'
Xander lagi asik nyium leherku.
'Oke, pulang aja sekarang.'
'Oke, Ibu, daaa,' kataku terus nutup teleponnya.
'Kamu hampir bikin Ibu tau,' kataku sambil sedikit mundur.
'Maaf, aku cuma pengen denger kamu mendesah.'
'Aku mau mandi di rumahku, aku mau ganti baju dulu.'
Aku mau berdiri tapi Xander nahan aku.
'Nggak, aku gak mau kamu pergi.'
'Xander, aku harus.'
'Kamu bisa mandi di sini, kita bisa mandi bareng,' katanya sambil nyengir sementara aku cuma muter mata.
'Mandi bareng?'
'Iya, seru kan, kamu sama aku, telanjang di kamar mandi.'
'Oke deh, ayo.'
Dia gendong aku ala pengantin ke kamar mandi, dia nyalain shower, terus narik aku lebih deket dari pinggang.
'Kamu bilang kita cuma mau mandi.'
'Oh, aku lupa,' katanya terus mulai nyium leherku, tangannya neken b*b-ku yang telanjang.
Kita akhirnya ngelakuin 'quickie' sebelum kita mandi.
*
*
*
*
*
Di hari yang sama.
Aku udah balik ke rumah sama Ibu sementara Jamal dan Xander lagi main basket di luar.
Aku lagi makan siang dan kenangan malam tadi terus muter di kepalaku bikin aku senyum lebar.
'Kenapa senyum-senyum?' Ibu nanya.
'Umm, gak ada apa-apa, aku cuma inget sesuatu.'
'Inget cara kamu dan Xander bercinta malam tadi?' Dia nanya dan mataku langsung kaget.
Kok bisa dia tau?
'Kamu kaget? Gianna, aku ibumu, aku tau kalo ada perubahan di tubuhmu.'
'Perubahan apa?'
'Kulitmu keliatan lebih cerah, kamu bersinar, itu tandanya.'
'Iya, bener, kita bercinta tapi aku sumpah dia gak maksa, aku mau kok.'
'Aku tau itu, Kamu kan udah kayak cewek dewasa tapi Ibu gak mau kamu hamil sebelum kamu lulus kuliah.'
'Aku janji gak bakal hamil.'
'Dan juga coba pake sesuatu dan tutupin bekas cinta di lehermu, banyak banget,' katanya dan aku langsung malu.
*
*
*
*
Seminggu kemudian.
'Oke, Xander, aku bakal sampe di sana lima menit lagi, aku mau bilang Jamal dulu kalo aku mau pergi,' kataku ke Xander lewat telepon, terus nutup teleponnya.
Aku jalan ke kamar Jamal, aku mau ngetok pintu waktu aku mulai denger suara-suara.
Itu cewek lagi mendesah, Jamal ngelakuinnya lagi, tidur sama cewek random.
'Kita liat siapa jalang kali ini,' kataku dalam hati.
Aku buka pintu dan orang yang aku liat bikin aku kaget banget.
'Gigi, aku bisa jelasin,' kata Jamal.
Aku gak percaya sama mataku.
'ASHLEY?'
B.T.C