Langkah Terakhir
Udara malam yang dingin banget menusuk ke dalam safehouse kecil dan tersembunyi, tempat Damon dan Alina berdiri barengan, punggung mereka nempel tembok. Di luar, kota gempar, nggak peduli sama badai yang lagi terjadi di bawah permukaan. Peta di depan mereka sekarang isinya potensi jalan buntu dan harapan tipis—masing-masing ditandai sasaran, masing-masing selangkah lebih dekat ke akhir permainan mereka.
Jari Damon menelusuri garis merah, tegas dan penuh tekad, sampai berhenti di sebuah bangunan yang letaknya agak keluar dari jalur, tersembunyi di jantung distrik keuangan. Sebuah pencakar langit, keren dan mengesankan.
"Lo tahu kan kita mau ngapain di sini, kan?" Alina bertanya, suaranya memecah keheningan tebal yang menyelimuti mereka.
Damon mengangguk. "Kita nggak cuma nyerang bangunan. Kita motong jalur hidup Adrian. Setiap kesepakatan, setiap keuntungan yang dia punya—semuanya berasal dari menara itu." Dia berhenti, tatapannya sedingin baja. "Kalau kita ambil itu, kita jatohin dia."
Jantung Alina berdebar kencang. Ada sesuatu dari cara dia ngomong—final, pasti, seolah ini satu-satunya pilihan yang tersisa. Tekad di mata Damon nggak menyisakan ruang buat yang lain.
Dia melihat peta lagi. Bangunan itu dikelilingi labirin jalan sempit dan gedung-gedung tinggi, tempat yang sempurna buat penyergapan. Lebih parah lagi, Adrian nggak pernah jauh dari operasinya sendiri. Kalau mereka gagal di sini, kalau mereka ketahuan... bukan cuma nyawa Damon yang dipertaruhkan—tapi juga nyawa dia.
"Yakin nih?" dia bertanya, lebih ke diri sendiri daripada ke dia.
Bibir Damon membentuk senyuman dingin. "Nggak ada lagi balik, Alina."
Jam-jam yang mengarah ke gerakan mereka kayak kabur gitu. Nggak ada ruang buat rasa takut, nggak ada waktu buat mikir dua kali. Cuma persiapan. Mereka ngumpulin senjata—pistol peredam Damon, beberapa senapan bertenaga tinggi buat anak buahnya, dan banyak bahan peledak buat ngamanin bangunannya. Tangan Alina sedikit gemetar saat dia masang senjatanya sendiri, beratnya jadi pengingat kalau dia juga ada di dalamnya.
Jalanan di luar sekarang lebih sepi. Detak kota melambat saat jam larut tiba, dan satu-satunya suara yang bisa mereka dengar adalah dengungan mobil yang lewat sesekali, obrolan jauh penghuni malam kota.
Tapi buat Alina, semuanya terasa lebih intens. Setiap suara, setiap gerakan membuatnya kaget. Tubuhnya tegang, siap menghadapi bahaya.
"Siap?" Suara Damon memecah ketegangan di udara.
Alina menatap matanya, jantungnya berdebar. "Siap banget."
Rencananya sederhana tapi berisiko. Anak buah Damon akan menyusup ke lantai bawah, ngamanin titik akses utama bangunan sementara Alina dan Damon menuju lantai atas—penthouse Adrian. Kalau mereka mau mengakhiri ini, mereka harus langsung ke jantung kekaisaran Adrian.
Saat mereka bergerak di balik bayang-bayang, setiap langkah mereka diperhitungkan, pikiran Alina melayang ke pertama kali dia ketemu Damon. Ke rasa takut dan rasa penasaran yang menghantuinya. Dia ketakutan, nggak yakin dengan dunia yang dia masuki. Tapi sekarang, berdiri di sampingnya, sebagian dari dirinya merasakannya—hubungan yang nggak bisa disangkal, terjalin lewat kekacauan dan api.
Mereka sampai di pintu belakang bangunan. Keamanannya minimal—Damon udah merencanakan itu. Orang-orang yang dia punya di dalam udah ngeyakinin itu.
Mereka menyelinap masuk tanpa ketahuan, adrenalin memompa melalui pembuluh darah Alina, ngasih dia fokus yang dia butuhin. Saat mereka naik tangga menuju penthouse, udara makin tebal, beban dari apa yang akan mereka lakukan menekan dadanya. Ini bukan cuma tentang Adrian lagi—ini tentang kelangsungan hidup Damon, kelangsungan hidup mereka. Taruhannya meningkat dengan cara yang nggak bisa dia abaikan.
"Lo diem banget," kata Damon, melirik ke arahnya, wajahnya tanpa ekspresi.
"Gue lagi mikir," jawabnya. "Tentang apa yang terjadi selanjutnya."
Ekspresi Damon nggak berubah. "Jangan mikir kebanyakan. Fokus aja sama yang ada di depan lo. Tetap fokus, Alina."
Kata-kata itu kena lebih keras dari yang dia duga. Fokus. Itu sesuatu yang udah dia lakuin selama berbulan-bulan—nunduk, tetap fokus. Tapi dengan setiap langkah lebih dekat ke Adrian, sesuatu yang mendalam di dalam dirinya bergejolak. Takut, mungkin. Penyesalan. Rasa bersalah. Semakin jauh mereka pergi, semakin terasa seperti tembok-tembok itu semakin dekat.
Mereka sampai di lantai atas. Damon ngasih kode, dan pintu ke penthouse berderit terbuka. Interiornya mewah, dihiasi perabotan mahal dan karya seni yang teriak kaya dan kekuasaan. Itu semua yang pernah Damon inginkan—semua yang Adrian bangun kerajaannya di atasnya.
Dan semuanya akan segera hancur.
Mereka bergerak cepat, sistematis. Damon memimpin, matanya memindai setiap sudut, setiap bayangan, setiap potensi ancaman. Alina tetap dekat, senjatanya siap, indranya waspada.
"Adrian?" Damon memanggil ke dalam keheningan, suaranya rendah tapi terdengar di seluruh ruangan besar.
Beberapa saat hening.
Lalu, sebuah suara. Gesekan lembut kursi di lantai. Sesosok muncul dari bayang-bayang.
Itu dia. Adrian.
Dia berdiri di sana, matanya yang gelap bersinar dengan tawa, seolah seluruh situasi ini nggak lebih dari sekadar permainan. Permainan yang kejam dan berbahaya.
"Damon," sapa Adrian, suaranya halus, hampir mengejek. "Gue penasaran kapan lo bakal muncul."
Damon nggak bergeming. "Lo udah selesai, Adrian. Ini berakhir malam ini."
Adrian tertawa, suaranya dingin dan hampa. "Apa itu yang lo pikirin? Lo nggak pada tempatnya. Kota ini, kerajaan ini—nggak ada satu pun yang bisa lo ambil."
"Lo udah main game lo terlalu lama," balas Damon. "Udah selesai. Lo nggak bisa lari lagi."
Adrian maju selangkah, tangannya terangkat seolah menyerah. "Gue nggak lari, Damon. Gue berdiri di sini. Pertanyaannya—apa yang akan lo lakuin tentang itu?"
Tatap mata Damon mengeras. Dia nggak jawab. Udara di antara mereka tebal dengan beban dari semua yang telah mereka lalui. Pengkhianatan. Kematian. Kekuasaan. Pada saat itu, kepastian dari semuanya terasa tak terhindarkan.
"Lo pikir lo bisa ngehentiin gue?" Adrian bertanya, senyumnya melebar.
"Gue udah," jawab Damon.
Momen terakhir itu kayak kabur gitu. Tembakan terdengar. Dunia miring. Adrian roboh ke lantai, permainan akhirnya selesai. Pria yang menarik benang, yang mengancam semua yang telah dibangun Damon, telah tiada.
Tapi saat gema tembakan memudar, Alina menyadari sesuatu—ini bukan kemenangan. Ini kelangsungan hidup. Dan kelangsungan hidup datang dengan harga.
Harga dari semua yang telah mereka lakukan, semua yang telah mereka korbankan.
Dan saat Damon berdiri di atas tubuh Adrian yang tak bernyawa, Alina tahu bahwa pertempuran yang sebenarnya—apa yang akan terjadi setelah momen ini—baru saja dimulai.