Jam Terakhir
Ruangan itu terasa pengap, kayak udaranya menebal karena beratnya semua yang udah mereka pelajari beberapa hari ini. **Alina** berdiri di depan meja darurat, buku catatan yang dikasih **Maren** ke dia terbuka di depannya. Kata-kata itu kabur di depan matanya saat kenyataan dari apa yang dia baca meresap. Inilah dia—titik baliknya.
Piece terakhir.
Kerajaan **Langston** nggak cuma dibangun di atas uang, kekuasaan, dan manipulasi—itu dibangun di atas sesuatu yang jauh lebih gelap. Setiap nama di buku catatan itu terkait dengan jejak kehancuran. Setiap tindakan adalah bagian dari rencana yang diatur dengan hati-hati yang membentang melintasi batas dan pemerintahan, ke setiap sektor industri paling berpengaruh di dunia. Tapi yang paling bikin **Alina** ngerasa kayak pisau yang muter di perutnya adalah pengungkapan tentang putri **Langston**, pewaris sejati kerajaan itu.
Dia membalik halaman, jari-jarinya menyentuh tinta. Ini bukan cuma cerita lagi—ini perang. Taruhannya terlalu tinggi. Orang-orang yang udah bantu **Langston** bangun kerajaannya, orang-orang yang terlalu buta karena ambisi mereka sendiri untuk melihat kehancuran yang ditinggalkan, tersebar di seluruh dunia, kayak rayap di fondasi bangunan yang runtuh.
Dan sekarang, saatnya untuk merobohkan semuanya.
**Damon** berdiri di dekat jendela, memunggunginya, tapi kehadirannya nggak bisa disalahartikan. Dia setenang dunia di luar sana, tatapannya hilang di kota yang luas yang ada di luar. Penthouse itu terasa kayak mau menjebak mereka, kayak mereka terjebak dalam jaring laba-laba yang perlahan-lahan mengencang. Dia belum banyak bicara sejak mereka ninggalin kabin. Wajahnya kayak topeng yang nggak menunjukkan emosi, tapi **Alina** lebih mengenalnya dari itu.
"**Damon**," katanya pelan, nggak ngelihat dari buku catatan. "Kita nggak bakal punya kesempatan lagi buat ini. Kalo kita nggak bertindak sekarang, kalo kita nggak menjatuhkannya… ini nggak akan pernah berakhir."
Bahu **Damon** menegang, dan dia perlahan berbalik menghadapinya. Ada kilatan di matanya, sesuatu yang dalam dan hampir nggak bisa dikenali. Suaranya, ketika keluar, rendah, terkontrol. "Lo pikir gue nggak tahu itu? Lo pikir gue nggak ngerasain beratnya ini setiap detik setiap hari?"
**Alina** menatap matanya. "Kalo gitu kenapa lo masih berdiri di sini? Kenapa kita nggak melakukan sesuatu tentang itu?"
Rahang **Damon** mengeras, dan sejenak, **Alina** ngelihat sesuatu di matanya—sesuatu yang nggak dia duga. Rasa bersalah. Penyesalan. Dia udah mengubur begitu banyak masa lalunya, menyembunyikan begitu banyak kebenaran, sehingga itu adalah keajaiban dia bisa tetap tenang selama ini.
"Gue berusaha ngejaga lo," katanya pelan. "Gue berusaha ngejaga kita semua."
Dia mendekatinya, menutup jarak di antara mereka. "Lo nggak bisa ngejaga siapa pun dengan menyembunyikan kebenaran, **Damon**. Lo nggak bisa ngejaga gue dengan menjauhi gue."
Tatapannya melunak, tapi nggak ada yang salah paham dengan urgensi di kata-kata berikutnya. "Gue nggak mau lo ngelihat kegelapan dalam diri gue. Nggak kayak yang lagi muncul sekarang. Gue nggak mau lo tahu sedalam apa itu."
Hati **Alina** sakit karena pengakuannya, tapi dia tetap berdiri. "Gue harus tahu, **Damon**. Gue harus tahu semuanya. Karena ini… ini lebih besar dari kita berdua. Kalo kita mau menghentikan **Langston** dan orang-orangnya, kita harus siap untuk apa yang akan datang. Dan gue nggak akan siap kalo gue nggak tahu seluruh kebenarannya."
Untuk waktu yang lama, cuma ada keheningan. Lalu, **Damon** mengangguk, hampir nggak terlihat. "Gue akan kasih tahu lo. Tapi pertama, kita harus pindah. Malam ini. Sebelum **Langston** nyadar kita punya potongan-potongan buat menghancurkan semua yang udah dia bangun."
Denyut nadi **Alina** meningkat. "Kalo gitu, ayo pergi."
***
Pada saat mereka tiba di rumah aman yang udah disiapkan di luar kota, ketegangan di udara sangat terasa. Setiap bayangan sepertinya menyembunyikan bahaya, setiap suara papan lantai di gedung tua itu mengingatkan berapa banyak yang dipertaruhkan. **Tobias** udah mulai kerja, menyiapkan saluran terenkripsi dan jalur komunikasi, bersiap untuk langkah selanjutnya. Dia nggak banyak bicara, tapi **Alina** bisa ngerasain kegelisahannya.
"Ini dia," kata **Tobias**, suaranya rendah saat dia bergerak ke arah monitor. "Begitu kita kontak dengan orang-orang **Langston**, nggak ada jalan balik. Kita nggak boleh salah."
**Damon** mengangguk, matanya fokus. "Gue tahu."
Menit-menit terasa kayak berjam-jam saat mereka menunggu dalam gelap. Berat dari keputusan yang akan mereka ambil menggantung di atas mereka, lebih berat dari apa pun yang pernah **Alina** rasain sebelumnya. Dia melirik **Damon**, yang posturnya udah berubah dari pemimpin yang tegang menjadi seseorang yang menanggung beban sesuatu yang terlalu berat. Dia udah berkorban—pengorbanan yang bahkan nggak bisa dia pahami. Tapi dia akan melakukannya.
Untuk dia. Untuk mereka.
Akhirnya, telepon berdering. Itu cuma pesan singkat: Potongan terakhir sedang bergerak.
Hati **Alina** berdebar kencang. Permainannya dimulai.
"Siap?" tanya **Damon**, suaranya tajam dengan fokus.
**Alina** mengangguk, ngerasain adrenalinnya naik. "Ayo lakukan."
Mereka bergerak cepat, menyelinap keluar dari rumah aman dan masuk ke mobil yang menunggu yang akan membawa mereka ke lokasi rahasia **Langston**. **Tobias** yang nyetir, matanya memindai spion setiap beberapa detik, memeriksa tanda-tanda pengejaran. Tapi **Alina** nggak bisa menghilangkan perasaan kalo mereka udah diawasi, bahwa badai udah berputar di atas kepala mereka.
Rute ke markas **Langston** adalah labirin jalan sempit dan jalan berliku, yang dirancang untuk mengacaukan siapa pun yang mungkin melacak mereka. Seluruh jaringan itu kayak benteng, dan malam ini, itu akan menjadi medan perang mereka.
Saat mereka mendekati perimeter, tangan **Damon** bertumpu di lutut **Alina**, jari-jarinya dingin menyentuh kulitnya. Dia menatapnya, dan sejenak, beban dari semua yang udah mereka lalui sepertinya terangkat.
"Kita melakukan ini," bisiknya.
"Kita lakukan," jawabnya, suaranya mantap. "Tapi apa pun yang terjadi malam ini, **Alina**, ketahuilah ini: Lo udah mengubah segalanya buat gue."
Hati **Alina** menegang. "Gue nggak tahu apakah gue siap untuk apa yang akan datang."
Mata **Damon** melembut. "Lo nggak harus. Ikuti aja arahan gue. Dan gue akan ngejaga lo."
SUV itu berhenti di depan gerbang yang nggak mencolok. Udaranya terasa penuh, kayak dunia itu sendiri sedang menahan napas. Mereka berada di tepi, dan begitu mereka melewati ambang ini, nggak akan ada jalan kembali.
**Damon** membuka pintu.
"Ayo akhiri ini."