Di Bawah Permukaan
Pagi setelah pelarian dari gudang datang kayak nyala api yang pelan—sinar matahari cuma bisa nyaring dikit doang lewat gorden di tempat aman Brooklyn. Di luar, New York masih ramai, gak sadar sama kekacauan yang hampir nelen semuanya. Di dalam, udaranya berat banget sama ketegangan, kayak dindingnya aja ikutan nahan napas.
Alina duduk di meja, sikutnya nyangga, jari-jarinya saling ngait di depan muka. Dia gak tidur. Tiap kali dia nutup mata, dia liat seringai berlumuran darah Victor, denger gema tembok yang roboh, dan ngerasain dorongan flash drive di kantong jaketnya kayak kebakar nembus kain.
"Kopi?" tanya Damon dari seberang ruangan, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Dia ngangguk tanpa kata, ngasih Damon senyum yang keliatan capek. Damon nuangin dia kopi, terus duduk di sebelahnya. Bajunya bersih, rambutnya lembap abis mandi, tapi matanya kayak dihantui. Dia juga gak tidur.
"Gue mikirin remote itu terus," gumam Alina, ngegenggam kopi. "Masih ada di luar sana."
"Kita bakal nemuin," katanya. "Sebelum Victor bisa make itu."
"Gimana kalo udah terlambat?" Suaranya pecah dikit. "Gimana kalo ini cuma pengalih perhatian, dan dia udah pindah ke Fase Dua?"
Damon nyender di kursinya, rahangnya ngeras. "Kalo gitu, kita harus lebih dulu dari dia. Cuma itu satu-satunya pilihan."
Roman masuk, bawa tablet. Lucia nyusul di belakangnya, peta dilipet di bawah lengannya.
"Kita mungkin punya petunjuk," kata Roman, naruh tablet di depan mereka. Di layar ada rekaman pengawasan—agak buram dan diambil dari kamera lalu lintas, tapi nunjukin Victor masuk ke SUV hitam beberapa jam setelah kabur dari gudang. Plat nomornya keliatan sebagian.
"Kita lacak SUV itu ke perusahaan cangkang yang terhubung sama Victor," Lucia ngejelasin, ngebuka peta dan nunjuk ke lokasi yang dilingkarin merah. "Sebuah perkebunan di luar kota. Pribadi, dijaga ketat, dan benar-benar terpencil."
Tatapan Alina jadi gelap. "Itu tempat dia ngumpet?"
"Kemungkinan besar," kata Roman, "itu tempat dia mulai fase selanjutnya."
Damon ngambil peta, ngamatin wilayah sekitar. "Kita harus masuk diam-diam. Gak ada bantuan. Gak boleh salah langkah."
Alina tegak. "Gue ikut."
Damon gak langsung jawab. Insting protektif lamanya nyala di matanya, insting buat ngejagain dia dari bahaya. Tapi udah terlambat buat itu. Dia udah masuk terlalu jauh ke perang ini buat ditinggalin.
"Lo pantas kok," akhirnya dia bilang, ngangguk. "Tapi begitu kita masuk, lo deketan terus. Gak ada risiko."
Alina ngasih dia tatapan tajam. "Kita udah ngelewatin 'berisiko' sejak lama."
—
Malam Itu – Perkebunan
Bulan menggantung rendah, ngelempar bayangan perak di atas bukit-bukit yang luas saat tim jongkok di semak-semak di luar perkebunan. Itu benteng—pagar baja, sensor gerak, penjaga bersenjata patroli berpasangan. Itu teriak tentang seseorang yang udah bikin banyak musuh.
Lucia ngecek earphone-nya. "Kita punya waktu sekitar enam menit sebelum kamera nge-loop. Itu jendela kita."
Damon ngangguk. "Ayo gerak."
Mereka nyelinap lewat titik lemah di pagar yang ditemuin Lucia—salah satu titik buta Victor. Jongkok rendah, mereka bergerak kayak bayangan, hati berdebar sama adrenalin dan rasa takut.
Alina ngikutin Damon ke pintu masuk samping. Lorongnya gelap dan dingin, dijajarin sama potret lama dan lantai marmer. Terlalu sepi.
"Egonya Victor adalah kelemahannya," Damon berbisik. "Dia gak bakal bisa nolak buat nyimpen rencananya deket. Di suatu tempat dia bisa ngaguminnya."
Mereka bergerak lebih dalam ke perkebunan, akhirnya nyampe ke pintu terkunci yang dijaga dua orang. Roman ngejagain satu orang, Damon yang satunya. Dalam hitungan detik, kedua penjaga udah pingsan.
Di dalam ruangan, mereka nemuin apa yang mereka cari.
Monitor ngebaris di dinding, tiap layar berkedip sama urutan kode, skema bangunan, dan pengawasan real-time dari landmark-landmark utama—Grand Central, Bursa Efek New York, bahkan Pentagon.
Alina natap semuanya, kaget. "Dia gak cuma ngejar New York. Dia ngejar dunia."
Pip terdengar.
Mereka membeku.
Satu layar berkedip dan nyala—muka Victor ngeisi monitor, tenang dan sombong.
"Halo, Damon. Alina," katanya halus. "Gue liat kalian udah nemuin pusat saraf kecil gue. Keren. Tapi kalian telat."
"Matiin itu," geram Damon. "Sekarang."
Victor senyum tipis. "Gue mau, tapi gue udah mindahinnya. Semuanya di sini cuma umpan. Fase Dua dimulai sejak kalian nginjek kaki di ruangan ini."
Napas Alina tersentak. "Apa yang lo lakuin?"
Victor nyender lebih deket, suaranya lebih dingin. "Kalian mau kebenaran, Alina. Sekarang kalian bakal dapet. Tapi kebenaran selalu dateng sama pengorbanan."
Layar jadi hitam.
Tiba-tiba, alarm meraung.
Damon noleh ke Roman. "Kita harus gerak—sekarang!"
Mereka lari, ngehindarin penjaga saat lampu merah berkedip di langit-langit. Perkebunan lagi lockdown. Di luar, mesin meraung.
Victor kabur lagi.
Tapi Alina gak mikirin orang itu lagi. Pikirannya ke file-file, layar, target.
Fase Dua udah dimulai.
Dan dunia berdiri di tepi sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang mereka bayangin.
Suara alarm masih menggema di telinga Alina saat dia lari. Paru-parunya kebakar tiap napas, udara malam yang dingin menusuk tenggorokannya. Di belakangnya, Damon nutupin pelarian mereka, pistol bersuara di tangan, gerakannya tepat dan mematikan. Roman di depan, ngebimbing mereka lewat koridor belakang perkebunan, pikirannya udah ngitung rute teraman keluar. Lucia ngejagain mereka, diam dan fokus.
Hati Alina gak cuma berdebar karena takut—itu berdebar karena kebenaran yang baru aja diungkap Victor.
Ini bukan tentang Damon lagi. Bahkan bukan tentang dia. Ini global. Sebuah pembongkaran yang diperhitungkan, didanai dengan baik, diorkestrasi dengan ahli dari struktur-struktur yang nyangga dunia. Kalo Victor berhasil, dia gak cuma bakal ngehancurin Damon—dia bakal ngeruntuhin semuanya.
Mereka menerobos keluar pintu belakang dan ke hutan di sekitar perkebunan. Pohonnya lebat, semaknya lembap sama embun. Kegelapan melilit mereka kayak jubah, nyembunyiin mereka dari lampu sorot perkebunan yang nyapuin tanah.
"Dia di depan kita," gumam Damon, matanya ngelirik ke sekeliling. "Dia mau kita liat ruangan itu. Itu bukan cuma ego—itu pesan."
Roman setuju. "Dia pamerin jangkauannya. Dia mau kita sadar kita ngejar hantu."
Alina berenti lari, napasnya gak teratur. "Kalo gitu, kita berenti ngejar. Kita jebak dia aja."
Yang lain ngeliatin dia. Ini pertama kalinya Alina ngomong dengan nada perintah yang kayak gitu, dan bahkan Damon keliatan kaget.
"Kita selalu bereaksi," katanya. "Kita nunggu dia nyerang, terus bergegas buat bertahan hidup. Tapi gimana kalo kita balik skripnya? Gimana kalo kita bikin dia bereaksi?"
Lucia menyipitkan matanya. "Apa yang lo saranin?"
"Kita bocorin informasi," kata Alina. "Gak semuanya—cuma cukup buat bikin dia keringetan. Biarin dia mikir orang lain dateng buat ngejar kerajaannya. Seseorang yang kita bikin berpihak."
Mata Roman berbinar. "Bikin dia paranoid. Paksa dia buat bikin kesalahan."
"Kita kasih dia ilusi pengkhianatan," kata Damon pelan, idenya terbentuk secara real-time. "Dia terisolasi, ya, tapi dia percaya sama beberapa orang. Lingkaran dalamnya. Kalo dia percaya salah satu dari mereka udah berpihak…"
"Dia bakal keluar dari persembunyian," Lucia nyelesaiin. "Buat nangani sendiri."
Alina ngangguk. "Dan kita bakal nunggu."
Damon natap dia, rasa bangga dan khawatir berantem di tatapannya. "Lo udah berubah."
Suaranya melembut. "Lo bikin gue kuat."
—
Nanti Malam – Tempat Aman
Tim balik ke tempat aman Brooklyn sebelum fajar, memar dan kelelahan. Alina gak tidur. Sebagai gantinya, dia duduk di deket jendela dengan laptopnya kebuka dan pikirannya berputar.
Rencananya berani. Berbahaya. Tapi itu kesempatan terbaik mereka.
Dia mulai nulis.
Laporan intelijen palsu. Dibuat dengan hati-hati, diisi sama referensi yang bisa dipercaya, jenis yang cuma orang deket sama Victor yang tau. Dia masukin remah roti, petunjuk kalo salah satu orangnya udah ngebocorin file ke Damon Cross. Itu cerita yang dibumbui sama kebenaran yang cukup buat menggoda… dan racun yang cukup buat memicu kemarahan Victor.
Pas dia selesai, dia ngirim file lewat saluran aman ke server boneka—yang sistem Victor udah diprogram buat ngawasin pelanggaran. Itu bakal keliatan kayak kesalahan. Kesalahan dari seseorang di dalam.
Dia mencet kirim.
Terus dia nyender dan menghembuskan napas.
Sekarang mereka nunggu.
—
Pagi Berikutnya
Gak butuh waktu lama.
Pagi berikutnya, Roman masuk ke ruangan dengan telepon di tangan. "Dia udah makan umpan."
Dia ngelempar telepon ke meja. Foto pengawasan yang diambil di Munich—Victor, pake mantel panjang dan kacamata hitam, ketemu sama calo senjata terkenal. Dia udah keluar dari persembunyian. Dan yang lebih penting, dia gelisah.
"Dia lagi berusaha buat bersih-bersih," kata Roman. "Nyari mata-mata yang gak ada."
Damon nyengir, tajam dan tanpa humor. "Kita dapet dia."
Lucia narik umpan yang udah diupdate. "Dia mindahin aset. Cepat. Itu ngasih kita jejak."
Alina senyum tipis, kelelahan memberatinya tapi percikan harapan menyala.
Mereka gak ngejar lagi.
Sekarang mereka berburu.
Dan Victor Knight baru aja bikin kesalahan pertamanya.