Bab 121
Dengan senyum tipis, **Winnie** berdiri buat nyapa produser film yang udah familiar di ruangan itu.
Di ujung karpet merah, seorang **pria** pake setelan hitam jalan dengan mantap ke arah kamera. Penampilannya yang simpel cuma dilengkapi sama jam tangan perak yang keliatan kalem di tangannya, dan kacamata yang juga nggak mencolok nangkring di hidungnya. Pas tanda tangan, dia ragu sebentar; penanya diem bentar sebelum dia nulis "**Kim**" dengan mulus. Sebelum spidolnya dikembaliin ke pembawa acara, dia ngangguk pelan, dan kata "Terima kasih" keluar dari bibirnya. Suaranya yang berat dan sikapnya yang tenang, meski agak jaga jarak, bikin orang di sekitarnya langsung salting.
Pembawa acara, yang udah pengalaman banget dari channel film, pake senyum yang berwibawa dan nanya, "**Kim** hadir hari ini sebagai perwakilan MARS Real Estate. Bisa bagi cerita film mana aja yang kamu suka dari yang dicalonin malam ini?"
Walaupun cuma ada beberapa bintang yang tersisa di karpet merah, suasana di lokasi langsung berubah drastis begitu **Kim** dateng. Kolom komentar langsung heboh:
"**Kim** ganteng banget!"
"Tingginya, kakinya, auranya nggak ada obat!"
"Perwakilan MARS Real Estate, serasa lagi di acara rekrutmen kampus."
"Tangannya! Nggak kuat, awas fetis tangan."
"Jari-jari yang nahan diri itu—bisa bikin jantungku jebol."
"Kharismanya kuat banget."
**Wendy** asik banget nonton live streaming. Pas **Tuan Marlowe** muncul, dia langsung nyembur minuman.
**Eric**, yang nonton dari samping, ngerasain campur aduk emosi. Ngadepin semua komentar yang muji-muji ini, dia mulai ngerasa kewalahan. Dia nggak bisa ngilangin perasaan kayak lagi ngeliat **tuan muda** keluarga lagi pawai di jalanan, hatinya penuh penyesalan yang mendalam dan menyakitkan!
**Tuan Marlowe** biasanya nggak nonton film, jadi pas pembawa acara nanya dia, dia ngangguk sopan dan jawab dengan suara beratnya, "Saya tertarik sama semua film yang dicalonin."
Pembawa acara tetep bikin suasana tetep enak dan terus nanya, "**Kim**, bisa kasih semangat buat para pembuat film malam ini?"
**Tuan Marlowe** senyum tipis dan jawab dengan santai, "Semoga Hollywood sukses terus."
Setelah foto bareng juri acara, **Tuan Marlowe** dengan mulus keluar dari karpet merah. Walaupun jalan di karpet merah bukan acara utamanya, kilatan kamera yang menyilaukan itu luar biasa, dan bahkan ada di sorotan beberapa detik aja bikin agak kesel.
**Tuan Marlowe** benerin jam tangannya, ngeliat ke staf, dan bilang singkat, "Makasih buat kerja kerasnya."
**Resepsionis** narik napas dalem-dalem, nyoba nenangin diri saat dia muter ulang kharisma **Tuan Marlowe** yang memerintah di pikirannya. Jantungnya berdebar kencang, hampir kayak berhenti sama sekali. Nggak kayak selebriti yang berkilauan yang biasa dia liat, **Tuan Marlowe** punya aura yang bikin semuanya di sekitarnya kayak memudar, bikin dia ngerasa hampir sesak napas karena kehadirannya.
Dengan gugup, dia nuntun **Tuan Marlowe** ke kursinya, suaranya hampir nggak stabil saat dia ngomong, "**Kim**, ini kursimu. Kamu bakal ngasih penghargaan sama **Nona Loxley** malam ini..."
Pas mereka nyampe tempatnya, suara sepatu hak dan sepatu pantofel yang klik-klikan dalam ritme sempurna memenuhi ruangan. Pandangan **Winnie** langsung jatuh ke kulit hitam mengkilap sepatu **Tuan Marlowe**, lipatan rapi di celananya yang nangkap cahaya. Pelan-pelan, matanya bergerak ke atas, ngikutin garis rapi rahangnya, keanggunan halus kemeja hitamnya, dan presisi dasinya yang rapi. Terus, pandangannya berhenti, nggak bisa dihindari tertarik ke matanya—mata yang nahan dia di momen itu, bikin dia nggak bisa ngalihin pandangan.
**Winnie** nggak bisa nggak ngerasa gugup, hampir reflek berdiri. Gaun malam merahnya berputar-putar di sekelilingnya saat dia berdiri, kainnya bergoyang dengan hidupnya sendiri, hampir nggak terkendali.
**Tuan Marlowe** tetep tanpa ekspresi, tapi tatapan di balik kacamatanya yang bening dalem dan menusuk, kayak bisa ngeliat tembus segalanya, tapi nggak ada sedikit pun emosi di wajahnya. Tapi, stafnya bisa ngerasain perubahan halus di aura **Tuan Marlowe**. Kedinginan dan nggak sabar yang dulu dia pancarin kayak, buat sesaat, melembut jadi sesuatu yang lebih lembut.
**Resepsionis** lanjutin perkenalannya, "**Tuan Chandler**, ini **Nona Loxley**, Aktris Terbaik di Celestial Excellence Awards."
Terus dia nyamperin **Winnie** dan nambahin, "**Nona Loxley**, ini **Tuan Chandler**, CEO MARS Real Estate."
**Winnie** membeku sebentar, jantungnya berdebar kencang. Dia tiba-tiba sadar kalau pertemuan sama **Kim** ini bukan kebetulan.
**Tuan Marlowe** ngulurin tangannya, nadanya tenang tapi tegas, "Senang bertemu denganmu, **Nona Loxley**."
Sapaannya yang simpel dan hormat itu bawa sedikit jarak, tapi bikin debaran yang nggak bisa dijelasin di dada **Winnie**.
Dia narik napas dalem-dalem, nawarin senyum manis. Dia nunduk sedikit, ujung jarinya nyentuh telapak tangannya sebelum ngegenggam pelan. "Senang bertemu denganmu, **Tuan Chandler**."
Di luar, acara karpet merah selesai, dan lampu di lokasi mulai meredup dengan tertib saat upacara penghargaan mau dimulai.
Mereka berdua duduk berdampingan. **Winnie** nundukin pandangannya buat buka-buka buku acara di kursinya, pikirannya ngebut.
"**Tuan V**... **Kim**." Dia hampir nyebut namanya keras-keras, tapi saat itu juga, dia denger suara berat di sampingnya, "Kamu nggak boleh manggil aku **Tuan Marlowe**."
Dia ngeratin bibirnya, pelan-pelan nanya, "**Tuan Chandler**, kok bisa ada di sini?"
**Tuan Marlowe** senyum tipis. "Kebetulan."
**Winnie** buka-buka buku acara, keliatan agak nggak yakin. "Kebetulan banget?"
**Tuan Marlowe** jawab dengan serius, "Aku beneran nggak nyangka."
Dia awalnya mikir ada kemungkinan ketemu dia di lokasi, tapi dia nggak nyangka skenario malam itu bakal sempurna banget, klop banget sama niatnya.
"Beneran cuma kebetulan?" **Winnie** nggak bisa nahan tawa, sorot mata nakal berkedip. "Jangan bilang kamu beneran dateng ke sini cuma karena kebetulan."
Suara **Tuan Marlowe** makin pelan. "Aku atur sebagian, sisanya... takdir."
**Winnie** noleh, sedikit cemberut di bibirnya, tapi matanya berbinar. "Jadi, yang mana yang diatur, dan yang mana yang takdir?"