Bab 64
Di kedua sisi, membentang luas, kayaknya lapangan hijau yang nggak ada ujungnya. Jelas bukan dikelola pemerintah daerah, karena rapinya yang liar dan kehijauan yang subur bikin setiap pemandangan berasa nyegerin.
Mereka nyetir di jalan aspal selama lima menit sebelum ada bilik keamanan putih muncul di depan, sama pembatas parkir horizontal. Di samping bilik ada plang logam perak yang tulisannya: "Jalan Pribadi, Masuk Tanpa Izin Dilarang."
Winnie nengok buat nanya, "Markas perlindungan hewan?"
Van narik bibirnya jadi senyuman. "Santai aja, gue nggak bakal jual lo!"
Winnie cemberut kesel, ngomong pelan, "Gue bukan hewan!"
Penjaga keamanan di bilik pake setelan hitam, badannya tinggi, tegak, mirip pohon pinus. Dia punya ear piece yang nyambung ke walkie-talkie. Pas mobilnya mendekat, dia nunduk dikit dan tetep di posisi itu sampe mobilnya lewat.
Pembatas parkir otomatis ngenalin plat nomor mobilnya. Begitu masuk gerbang, pemandangannya kebuka ke banyak banget tanaman hijau. Di kejauhan, lautnya bergulung, sementara ombaknya nabrak bebatuan di deketnya. Kadang-kadang, muncul pantai pasir putih, berkilauan kayak mutiara yang keluar dari cangkang kerang.
Winnie baru nyadar mereka lagi nyetir di dataran tinggi yang ngadep tebing. Mungkin mereka ngeratain sebagian gunung. Siapa yang tau?
Setelah lima belas menit lagi, sama bau kelapa dan liat pohon palem, mereka nggak ketemu satu orang atau mobil pun. Akhirnya, mereka nyampe di bilik keamanan kedua.
Di belakang bilik, ada bangunan—pendek, cuma dua atau tiga lantai, tapi nyebar luas di area yang lebar. Dinding putihnya udah kena angin laut, ninggalin bekas abu-abu, nunjukkin tempat itu udah lama ada di sini.
Di belakang bilik keamanan ada tempat parkir kecil. Winnie bisa liat ada sekitar selusin mobil parkir di sana, tapi bukan mobil mewah; mobil sedan atau SUV biasa yang orang biasa bisa beli.
Tapi, mobilnya nggak belok ke arah bilik. Malah, dia ngelewatin air mancur dan belok ke jalan lain.
Di pintu masuk jalan ini ada plang peringatan "Jalan Pribadi" lagi. Nggak ada penjaga, tapi banyak banget kamera gantung di atas pintu masuk, ngasih kesan nakutin yang kuat dan dingin.
Jalannya landai ke atas. Yang keliatan di depan cuma langit biru, awan putih, dan jalan lebar, diapit sama pohon pinus yang baris di jalan dengan cara yang jarang tapi rapi, berdiri tegak dan lurus.
Sepi banget; suara laut udah ilang, dan cuma suara burung yang berkicau jauh bisa kedengeran pas mereka santai terbang ke awan.
Setelah sekitar tiga menit lagi muter-muter, mereka nyampe di bilik keamanan ketiga. Kali ini, gerbang listrik dari besi tempa hitam. Setelah scan plat nomornya, gerbangnya pelan-pelan kebuka ke dua sisi.
Begitu di dalem, pemandangannya masih penuh warna hijau, tapi jalan utamanya udah berubah jadi jalan putih bersih dan elegan, sekitar 300 kaki panjangnya. Di ujung jalan ada air mancur tiga tingkat gaya Romawi. Di belakangnya ada vila tiga lantai, desainnya kebuka dalam bentuk geometris yang nggak beraturan.
Vila itu gede dan luas banget sampe hampir bikin mata kaget. Bagian luar putihnya bersih banget, keliatan baru direnovasi atau dirawat dengan teliti. Setiap fasad punya dinding kaca panorama transparan, ngasih liat sekilas ke area-area berbeda di vila.
Lantai dua ada kolam renang tanpa batas luar ruangan sekitar 70 kaki panjangnya, ngadep ke laut biru di tepi tebing, ngelengkapin pemandangan yang memukau.
Winnie kedip, kaget. "Lo nyebut ini rumah??"
Maybach-nya berhenti mulus di gerbang depan. Eric keluar dari mobil, bukain pintu buat dia dengan gestur yang sopan, dan nunduk dikit, bilang, "Nona Loxley, selamat datang."
Winnie berasa bingung, kaget sebentar dan nggak yakin mau ngomong apa. Di depan rumah kayak gitu, kata-kata pujian atau kekaguman berasa nggak perlu.
Van keluar dan, liat dia belum nyusul, bilang dengan dingin, "Biar gue tunjukkin sekelilingnya."
Heels Winnie bunyi klik, dan pelayan muncul, megang sepasang sepatu kulit nabati baru buat perempuan. "Nona Loxley, boleh saya saranin pake sepatu yang lebih nyaman buat jalan?"
Winnie ngelirik Van, yang ngasih anggukan dikit dan bilang, "Gue tungguin lo."
Dia ngikutin pelayan itu ke ruang depan dan duduk di bangku empuk. Pelayan itu pelan-pelan berlutut. "Biar saya bantu ganti."
Pelayan itu pelan-pelan ngangkat betis dan pergelangan kaki Winnie, hati-hati ngelepasin sepatu hak tinggi 3 inci dari kakinya. Sebelum make sepatu barunya, Winnie nanya, "Lo punya kaus kaki sekali pake?"
"Jangan khawatir, sepatu ini baru banget dan cuma buat Nona," kata pelayan itu, nyelipin sepatu ke jari-jari kaki Winnie. "Pas banget buat jalan tanpa alas kaki di rumah—nyaman, bernapas, dan dibuat dengan bahan yang bikin kaki Nona bisa bernapas."
Winnie nggak bisa nahan buat nggak ketawa. "Lo harus kerja di konter barang mewah sebagai penjual."
Pelayan itu senyum balik. "Makasih atas pujiannya. Tolong berdiri dan coba. Kasih tau saya kalo pas."
Winnie berdiri dan jalan beberapa langkah, takjub. "Wow. Gue ukuran 7.5, dan susah nemuin sepatu yang pas."
Pelayan itu nggak ngomong apa-apa lagi, berdiri dengan tangan dilipat di depan dan ngasih sedikit hormat. "Selama Nona nyaman, itu aja yang penting. Tuan muda nunggu di luar."