Bab 104
Trevor pt. 1 "Siapa namanya?" "Hah?"
"Cowok yang kamu pikirin bikin kamu susah fokus sama apa yang aku omongin, siapa namanya?"
"Gak ada cowok" "Itu bohong"
"Gak ada cowok, ma" Aku duduk di seberang meja menghadapnya saat dia masak "Silas, aku tahu kamu, ada cowok dan aku mau tahu namanya."
Aku udah nyimpen rahasia dan sekarang di hari yang random aku mau jujur ke Ibu, aku perlu
gakuin ini ke seseorang sebelum aku rusak "Trevor"
Berhenti, dia naruh pisau terus ngeliatin aku, ya pasti, apa yang dia lakuin selanjutnya aku
harapin banget. Ketawa sekenceng-kencengnya dia mukul meja "Trevor, sahabat terbaikmu?" Dia nanya di tengah ketawanya "Ya ampun"
"Aku gak bohong, Ibu" Aku naikin alisku, itu tandanya kalau serius
Ketawanya mereda "Silas... ngga, itu-" dia bahkan gak tahu harus bereaksi gimana "kenapa kamu nyiksa diri sendiri kayak gitu?"
"Aku gak tahu"
"Kapan ini mulai?" Dia natap aku
"Gak ada yang nyadar, ini cuma sesuatu yang pasti, dia baik sama aku dan gak masuk akal aku gak bisa punya pacar tapi dia selalu ada, apapun yang terjadi."
"Itu kan sahabat, sayang, bagus Trevor ada buat kamu tapi kamu udah tahu kan dia straight, ditambah lagi dia ngejar cewek sebelah rumah, kan? Siapa namanya"
"Paris"
"Ya Tuhan, seberapa sok sih sampe namain anak Paris?"
"Aku gak peduli dia suka sama siapa dan aku juga gak yakin dia straight, dia pernah bilang ke aku kalau dia mimpi kita berdua ngelakuin semuanya"
"Tolong jangan kasih tahu aku hal kayak gitu, Silas" dia masang muka. "Kenapa kamu ngasih tahu aku sekarang? Kelihatannya kamu udah tahu perasaanmu selama ini"
"Aku gak bisa nahan lagi, aku beneran mau meledak, Ibu, aku gak bisa ngeliat dia pacaran sama cewek lain dan jadi orang tempat dia curhat kalau semuanya gak beres. Aku juga butuh seseorang buat curhat tentang ini, tapi aku gak bisa cuma ngeluh ke Trevor tentang dirinya sendiri." Ibuku ngeliatin aku sambil senyum "Aku senang kamu bisa senyum di saat kayak gini"
"Kamu tahu aku selalu ada di pihakmu, apapun yang terjadi dan tentu saja aku akan senang kalau ini terjadi buatmu, aku cinta Trevor, dia cocok banget buatmu, kalian udah deket banget. Tapi kenyataannya dia gak pernah
nunjukin ketertarikan kayak gitu sama kamu, kan? Dan kamu gak bisa salah ngira persahabatan kalian dan kenyataan dia memperlakukanmu dengan cara tertentu itu lebih dari sekadar itu."
"Susah banget buat gak mikir kayak gitu! Maksudnya aku gak bisa mulai hari aku sampai aku denger suara seraknya di tangga teriak ke aku buat ayo pergi" Aku beneran cinta sama suara dia, kayak suara cowok yang serak tapi dia selalu punya nada yang cerah, senang banget masih hidup gak kayak kita yang gak sabar buat bangun terus mati.
"Atau kalau dia masuk sambil teriak BANGUN BENSONS padahal jamnya udah jam 2 siang" dia ketawa "Jadi, kamu ngerti?"
Dia ngangguk "Tentu saja" terus lanjut masak sambil kita ngobrol. "Jadi, apa yang akan kamu lakuin?" "Ini, aku gak mikir lebih jauh dari ngasih tahu kamu, aku gak akan ngasih tahu dia, itu bodoh"
"Aku setuju-" "Wow"
"Tapi! Itu juga bisa jadi hal yang bagus kalau kamu ngasih tahu dia, buat lihat apa dia ngerasa sama" "Atau aku kasih tahu dia dan dia beneran jauhin aku, aku gak bisa kayak gitu"
"Kalau gitu, jangan kasih tahu dia"
"Tapi aku harus!" Aku cemberut "Ibu, aku gak bisa ngelewatin hari lain ngeliat dia sama seseorang yang bukan aku, itu akan ngebunuhku!"
"Kamu tahu ini apa?" "Jangan bilang teen angst"
"Ini teen angst," katanya padahal aku udah bilang jangan
"Ibu, semua masalahku bukan teen angst, oke, itu cuma masalah kayak masalah lainnya" "Aku minta maaf kamu suka sahabat terbaikmu dan dia gak tahu..."
"Masalah biasa"
"Teen Angst." Kesel, aku muter mata, nyerah.
"SEMUANYA BERHENTI APA YANG KALIAN LAKUIN!" Kita denger Trevor teriak dari pintu depan "Kayaknya aku berhenti bikin makan malam"
"Enggak Helen, jangan pernah berhenti bikin makan malam, tapi dengerin," katanya sambil jalan ke arah kita "coba tebak siapa yang akhirnya bilang iya buat pergi"
"Paris?" Aku nebak dengan nada yang salah
"Wow, bahagia sedikit buat sahabat terbaikmu, Silas! Dia bilang iya!"
"Aku minta maaf, maksudku, hore" Ibuku ngeliatin aku dengan pandangan kamu benci ini banget, dan dia beneran bener, aku benci ini.
"Ini rencananya, aku perlu kamu ke rumahku malam ini dan bantu aku nyiapin halaman belakang, aku punya lampu-lampu kerlap-kerlip murahan buat digantung di mana-mana karena cewek suka hal kayak gitu dan tamannya kelihatan luar biasa, makasih buat sarannya, Helen"
"Sama-sama"
"Aku gak bisa bantu, aku ada PR"
"Tapi kamu udah ngerjain itu, kan, sayang?" Beneran, Ibu? Kamu beneran ngelakuin ini ke aku? "Ehm, ya, aku belum selesai"
"Jadi, kamu bohong sama aku?" Aku tahu dia bercanda sama aku tapi aku beneran mau nangis sekarang "Enggak, aku-"
"Jadi, kamu bohong sama aku, kan?" Aku noleh ke Trevor yang lagi cemberut dan sebenci apapun aku sama ini, aku
gak bisa ngerasa nyakitin perasaannya
"Sebenernya kamu tahu apa, aku rasa aku udah ngerjain semuanya, jadi iya aku akan bantu kamu bikin Paris terkesan, karena apa lagi yang akan aku lakuin di Jumat malam."
"Ngerasa sedikit sarkas di sana tapi aku terima!" Dia duduk di bangku sampingku "jadi, kita mau makan apa?" Dia ngeliatin Ibuku dan aku sambil nanya dengan senyum.
—
"Apa yang terjadi sama kamu?" Trevor nanya saat aku ngeliatin dia masang lampu di halaman belakangnya dan aku duduk di tangga deknya
"Gak ada apa-apa"
"Bohong! Kamu diem banget sepanjang malam, kamu marah sama aku karena sesuatu?" Iya! "Enggak"
"Ini teen angst?" Dia senyum mengejek "Berhenti" Aku menghela napas