Bab 113
Merasa mau nangis, aku nutup muka, narik napas dalam-dalam. "Ini salah," bisikku. "Salah apa?"
"Ini," aku berbalik, nunjuk ke arah kita. "Aku cium kamu, kamu datang ke rumahku, bilang mau sama aku. Aku tahu semua ini salah."
"Silas, kita kan asik banget kemarin. Kenapa bisa gini?"
"Kamu bohongin aku!" Dia natap aku bingung. "Aku udah bikin kamu mual dari pertama kali aku cium kamu, dan bukannya menjauh, kamu malah bikin makin parah."
"Maksudnya—"
"Abby bilang kamu nelpon dia, bilang nggak enak badan, dan udah muntah-muntah seharian. Jadi, bilang aja kamu nggak suka sama aku, dan kita selesai. Soalnya, seenggaknya aku mau ngerasa nyaman, Trevor, tapi ini bikin perutku nggak enak juga."
Dia menghela napas. "Aku nggak tahu kenapa, Sy, tapi aku janji, kamu nggak bikin aku nggak enak. Cuma aku nggak bisa... Susah buat—" kalimatnya kepotong, berusaha nyari kata-kata.
"Memahami kita bersama?"
"Persis! Dan aku pengen coba, beneran. Tapi makin sering aku cium kamu, makin susah jadinya." "Kenapa kamu terus cium aku kalau susah buat kamu?"
"Aku marah banget sama kamu, jadi aku ngomong banyak hal buruk yang nggak aku maksud. Aku nggak tahu gimana lagi caranya biar kamu
maafin aku."
"Kamu mau aku maafin kamu?"
"Iya... Aku bilang kamu egois dan munafik. Aku minta maaf."
"Trevor, kamu nggak perlu minta maaf. Aku nggak pernah nyangka kamu bakal baik-baik aja sama apa yang terjadi. Aku cuma nggak tahu gimana lagi caranya bilang perasaan aku."
"Gimana kalau bilang langsung?" dia tertawa. "Sy, kalau kamu jujur sama aku, kita bisa selesain bareng-bareng. Aku nggak bakal pernah berhenti jadi teman kamu."
"Kalau gitu, kita mulai dari awal aja."
Dia senyum. "Hah? Maksudnya?"
"Trevor, aku cinta sama kamu. Udah lama banget. Dan aku tahu, bilang ini bisa bikin persahabatan kita rusak. Tapi aku nggak mau nyimpen rahasia lagi dari kamu."
"Aku... nggak kaget sih. Maksudnya, kamu lihat aku nggak?" Kita berdua tertawa. "Tapi serius, kalau kamu bilang apa yang harus kita lakuin buat benerin ini, aku siap."
"Kamu luar biasa." Aku senyum. "Kamu juga."
Sekolah selesai dan Trevor sama aku jalan pulang bareng, yang ternyata agak lama, jadi kita mutusin ngobrol lagi. "Kamu beneran mau ngeseks sama aku kalau aku nggak berenti?" "Jujur, iya."
"Kenapa gitu?" Aku tertawa. Dia mengangkat bahu. "Aku berkomitmen."
"Mungkin aku harusnya diem aja dan biarin terjadi. Mungkin itu yang aku butuhin biar kamu hilang dari pikiranku."
"Ya udah, tapi udah telat, kamu nolak aku." Kita lanjut jalan, dan dia bilang, "Karena kita udah baikan, mau janji nggak bakal lagi nyoba ngerusak hubungan aku?"
"Iya, aku janji."
"Makasih." Akhirnya kita nyampe di rumahku, dan kita berdua lihat Paris lagi duduk di tangga berandanya. Dia ngelihat kita, senyum, dan lambaikan tangan. Aku balas lambaiannya. Trevor noleh ke aku. "Kamu nggak apa-apa kalau—"
"Sana."
"Yakin?" "Iya, aku nggak apa-apa."
"Makasih, Sy." Dia lari ke sana, ngobrol sama dia.
Masuk ke rumah, Ibuku nyapa dari dapur. "Hai, sayang!" Aku nyamperin dia yang lagi masak. "Hai," aku senyum.
"Hai, muka cerah. Gimana hari kamu?"
"Bagus."
"Kenapa kamu belum di sini?"
"Aku masih beberapa mil lagi, Ibu! Lagian, buru-buru banget. Semua orang juga datengnya nanti." "Semakin cepat kamu di sini, semakin baik." Lebih baik buat siapa? Aku benci pulang karena yang aku dapet cuma pertanyaan-pertanyaan tentang hidupku di kampus, bukan gimana nilai kamu atau kamu makan nggak? Nggak. Aku malah dapet pertanyaan siapa yang kamu tidurin? Dan gimana keamanannya di asrama kamu? Apa mereka ngebiarin semua orang masuk dan keluar? Aku muak. Aku nggak bakal dapet pertanyaan ini kalau aku normal. "Suara apa itu?" Ibuku nanya lewat speaker.
"Hidupku berakhir," bisikku. "Apa?"
"Cuma mesin, udah bunyi-bunyi sejak di jalan tol. Tapi aku hampir nyampe, jadi jangan khawatir." Akhirnya dia matiin teleponnya, dan aku sendiri lagi selama 30 menit lagi, sampai semua itu hilang.
Bukannya aku benci keluargaku, cuma aku nggak tahan sama mereka, apalagi pas Natal. Aku balik sebulan penuh, dan malam ini aku bakal dibombardir pertanyaan-pertanyaan bodoh. Satu-satunya cara aku bisa ngelewatin ini adalah dengan sekeranjang vod—"wha—" asap mulai keluar dari depan mobil, mesinnya bunyi 'klotok'. "Nggak, nggak, jangan kayak gini." Mobilnya melambat. "Ini nggak terjadi," aku menghela napas, nelpon Ibuku.
"Kamu di mana?" "Kena masalah kecil." "Mobilnya kan?"
"Jangan pake nada sok tahu gitu, Ibu. Mobilku emang sampah, aku tahu." "Siapa salahnya, Flynn? Kirim lokasi kamu, aku bakal telpon derek."
"Makasih." Aku matiin telepon. "Siapa salahnya, Flynn?" Aku niruin dia setelah matiin telepon. Keluar dari mobil, aku ngelihat sekeliling kota yang aku tinggalin 2 tahun lalu. Ya Tuhan, tempat ini nahan aku dari banyak hal. Aku terus ngelihat sekeliling, berdiri di samping mobil sambil nunggu.
Jadi gay di sini emang ngebatasin, dan SMA itu neraka. Kecuali—"Flynn?" Aku denger namaku, dan noleh. "Flynn Shay!"
"Carson! Wow, hai!" Carson Davis, hal terbaik yang pernah ada. "Kamu ngapain balik ke kota?"