Bab 171
Connor
"LO LO KOK BISA SIH, BRADON!?" Connor masuk ke kantor polisi waktu gue lagi diborgol di bangku, bibir berdarah. "LO UDAH JANJI!" dia terus teriak sambil jalan ke arah gue.
"Tuan, tolong pelankan suara Anda, Anda berada di kantor polisi," salah satu polisi mencoba menenangkannya.
Dia memalingkan muka dari gue terus ngomong ke polisi, "Berapa jaminannya?" Connor nanya. "Coba tanya petugas di seberang sana," Connor pergi.
Gue suka jalan-jalan dan gue suka berantem, gue nggak pernah mundur dari perkelahian. Begitulah cara gue ketemu Connor, dia lagi di-bully di luar bar sama dua cowok, terus gue hajar abis-abisan dua-duanya. Connor langsung klepek-klepek sama gue, dan gue juga klepek-klepek sama dia. Dia suka gimana gue yang badas, tapi ini udah ketiga kalinya gue ditangkep dalam dua bulan terakhir, dan dia udah nggak tahan lagi. Percaya deh, gue berusaha buat nggak berantem, tapi gimana ya, orang-orang nyari masalah sama gue, dan gue harus nunjukkin ke mereka kalau gue bukan orang yang bisa diinjek-injek.
Setelah hampir satu jam, Connor balik lagi, dan gue bisa liat dia nangis. Dia jalan ke meja petugas, ngasih beberapa kertas, terus setelah semenit, petugas itu jalan ke gue. Waktu dia ngelepas borgol gue, gue liat Connor pergi. Begitu petugas itu selesai, dia ngembaliin barang-barang gue, dan gue lari nyusul Connor. "Connor! Tunggu!" Gue ngejar pas dia buka pintu mobilnya. Gue putar dia biar ngadep gue, matanya penuh air mata. "Maaf," dia nggak jawab apa-apa. Dia buka pintu mobil buat masuk, dan gue nutup pintunya, ngehalangin dia kali ini. "Connor, gue minta maaf, oke?"
Dia mau pergi, tapi gue tahan dia. "Minggir dari gue, Brandon!" Dia nuntut. "Ngomong sama gue, plis."
"Apa? Lo mau gue ngomong apa? Kalau gue kecewa lo bisa ngelakuin ini berkali-kali tanpa mikirin dampaknya ke gue?" Dia ngusap matanya. "Gue capek banget, Brandon! Gue capek sama lo! Sama semua ini! Harus dateng ke sini total 11 kali selama dua tahun kita pacaran!"
"Lo bener."
"KATA-KATA SAMA PERSIS KAYAK WAKTU ITU! DAN WAKTU SEBELUMNYA, DAN SEBELUMNYA LAGI!" Dia teriak ke gue. "Gue nggak tau lagi harus ngomong apa ke lo, Brandon. Setiap kali gue dapet telepon kalau lo di rumah sakit gegara tulang rusuk patah atau di sel gegara ada orang ngatain lo homo, gue kayak kehilangan sedikit diri gue," dia berhenti buat ngatur napas. "Gue udah siap-siap dapet telepon yang gue tau gue nggak akan pernah bisa pulih lagi, menyedihkan banget kan?" Gue cuma diem, nggak tau harus ngomong apa, dia bener, gue pengen berubah, tapi emosi gue adalah sesuatu yang nggak bisa gue kendaliin.
"Gue minta maaf," gue nggak tau harus ngomong apa lagi.
"Cuma itu? Lo minta maaf?" Dia ngusap air mata lagi. "Lo mau gue ngomong apa, Connor?"
"Bilang ke gue lo nggak akan ngelakuin ini lagi! Kalau ini yang terakhir--" dia berhenti. "Nggak usah deh, jangan bilang gitu, karena lo udah pernah bilang, dan jelas bohong.\" Ngambil kunci dari sakunya, dia ngelempar ke gue. "Antar gue pulang, udah malem dan gue terlalu emosi buat nyetir sekarang." Tanpa ngomong apa-apa lagi, dia pergi dan masuk mobil.
Pas gue nyetir pulang, Connor bahkan nggak mau liat gue, gue bisa tau dia marah karena dia gemeteran. Gue tau dia udah muak sama gue, dan nggak lama lagi dia bakal ninggalin gue, gue bisa ngerasainnya. "Gue bakal lebih baik, gue janji," gue bilang, mecahin keheningan.
"Nggak bakal," jawab dia dengan suara serak sambil nangis. Kita sampe rumah, dan dia masuk, ninggalin gue di luar. Gue masuk, dan dia ngelempar bantal sama selimut ke sofa. "Lo tidur di sini malem ini, gue nggak mau lo di deket gue."
"Gue pantes nerima itu," gue jawab.
"Nggak, yang lo pantes terima itu bogem mentah! Tapi gue nggak bakal mukul lo karena siapa tau lo malah nyari masalah sama gue."
"Gue nggak akan pernah nyakitin lo, Connor, lo tau itu."
"Lo nggak harus mukul gue buat nyakitin gue, goblok! Lo nggak mikir kelakuan lo nyakitin?" Gue nggak jawab, dan dia masuk kamar, terus banting pintu.
Jalan ke kamar mandi, gue coba bersihin bibir gue yang berdarah. Abis itu, gue duduk di sofa. Gue udah bikin Connor marah, tapi kita nggak pernah tidur tanpa baikan sebelumnya. Dia udah cukup, dan kali ini gue nggak tau bisa baikan apa nggak. Gue bisa lebih baik, gue tau gue bisa! Gue cuma harus ngendaliin diri, daripada nyelesain masalah pake tinju, gue harus pake cara lain. Ngerasa capek, gue rebahan dan nggak lama kemudian ketiduran. Pas gue tidur nyenyak, gue ngerasa tangan Connor pelan-pelan ngegoyangin gue. "Bangun, Brandon, bibir lo berdarah lagi," gue denger suaranya. Gue buka mata.
"Connor? Ada apa?" gue nanya.
"Bibir lo berdarah," dia nunjuk bantal yang penuh darah. Gue langsung duduk. "Sial!"
Dia duduk di meja kopi di depan gue. "Sini, biar gue bersihin," dia buka kotak P3K kita, dia nuangin alkohol gosok ke kapas, terus pelan-pelan diusap ke bibir gue.
"Aduh, perih," gue bereaksi.
"Diem, bayi gede," dia terus bersihin. "Lo bisa kena bogem, tapi nggak kuat sama alkohol gosok," dia senyum tipis.
Gue senyum. "Tapi perih, loh." Gue nggak tau dia masih marah apa nggak. "Jam berapa ini?" gue nanya. "Hampir jam 5 pagi, kayaknya."
"Lo ngapain bangun?"
"Cuma mau ngecek lo." "Beneran?" Gue senyum lagi.
"Jangan senyum, gue masih marah sama lo." Abis bersihin, dia masang plester di luka. "Nih." Dia nutup kotak P3K dan bangun.
Gue narik tangannya dan nyuruh dia duduk lagi di depan gue. "Gue tau gue nyebelin, gue tau lo udah muak, dan gue takut lo bakal ninggalin gue karena gue nggak mau kehilangan lo. Gue tau gue mungkin udah pernah bilang ini sebelumnya, tapi gue janji, Connor, gue bakal usaha. Gue nggak sanggup kalau lo ninggalin gue, gue nggak tau harus gimana kalau lo pergi, jadi gue bakal usaha, gue janji."
"Gimana gue harus percaya sama lo kali ini?"
"Lo nggak harus percaya sama gue langsung, yang gue minta cuma kesempatan buat ngebuktiin ke lo." "Gue udah keabisan kesempatan, Brandon."
"Gue tau, dan gue nggak nyalahin lo, tapi plis, gue sayang banget sama lo, Connor, dan kalau lo percaya gue bisa berubah, gue bakal berubah."
"Gue percaya lo bisa ngelakuin apa aja, Brandon, tapi gue nggak bisa terus-terusan kayak gini. Gue capek banget." Gue mendekat. "Gue tau, gue nggak pantes buat lo, tapi gue bisa lebih baik, percaya sama gue, plis?"
Dia nyamperin dan nyium gue. "Bahkan waktu lo ngecewain gue, gue selalu percaya sama lo."
"Makasih." Gue tarik dia dan nyium dia. Bangun, dia naik ke pangkuan gue dan terus nyium gue. Gue buka kemejanya dan dia buka punya gue, ciuman di lehernya, erangan kecil keluar dari mulutnya. Ngebaringin dia, gue naik dan dia melilitkan kakinya di pinggang gue. Gue peluk dia erat, melingkarkan tangan gue di sekelilingnya saat tangannya menuju celana gue.
Ngelepas baju masing-masing, gue duduk telanjang di sofa sementara dia berlutut di depan gue, siap ngisep kontol gue. Pelan-pelan ngecium ujungnya, gue bisa ngerasain napas gue makin cepet, dia ngelingkarin bibirnya dan gue mengarahkan tangan ke kepalanya, pelan-pelan mendorongnya ke bawah. Setelah beberapa lama, dia bangun dan duduk di pangkuan gue sambil nyium gue. "F*ck gue," bisiknya, dan gue melingkarkan tangan di pinggangnya, pelan-pelan mendorong kontol gue ke lubangnya yang sempit. Merem, dia membenamkan kepalanya di leher gue. "Ya Tuhan," dia bernapas di leher gue saat gue mendorong masuk dan keluar darinya. Kukunya mencengkeram punggung gue.
"Aduh, sayang, sakit,"
"Maaf," dia nyium gue. "Cuma rasanya enak banget."
Ngangkat dia, gue baringin dia di meja kopi, erangannya makin keras saat gue dorong lebih dalam.
"Udah mau keluar,"
"Lakuin, sayang, isi lubang gue," konfirmasinya yang gue butuhin.
Gue ewe dia lebih cepet dan tanpa peringatan gue ngeluarin cairan gue di dalem dia. "Oh, sial!!" Gue ambruk di atasnya. Dia meluk gue. "Rasanya luar biasa banget."
Saling senyum. "Gue sayang banget sama lo, Connor." "Gue juga."