Bab 33
"Lo ngapain?" Gentry menatapku kaget.
"Harusnya sih nggak apa-apa, gue cuma mau tau gue gila apa emang suka sama pelatih gue. Pokoknya, gue ngikutin dia pulang dan gue liat dia punya pasangan yang nggak ada yang tau. Pelatih itu gay," aku menatap Gentry, "dia nangkep gue parkir di seberang jalan dan ngadu ke sekolah, tapi gue nggak kena masalah... dia yang kena." Ya Tuhan, makin gue mikirin cerita ini, makin gue benci sama diri gue sendiri. "Terus, dia gimana?"
"Dia dipecat karena nyembunyiin fakta kalau dia gay, dan bokap gue entah gimana yakinin sekolah kalau dia udah ngaco sama pikiran gue, dan bikin gue ngikutin dia biar dia bisa bikin gue jadi gay," gue senyum nggak percaya sambil ngulang kejadian itu. "Bokap sialan gue yang bikin mereka nyalahin dia buat semuanya, padahal gue udah bilang kalau itu salah gue dan pelatih nggak ngapa-ngapain. Setelah itu, semua orang di sekolah hampir benci sama gue dan gue kehilangan semua temen gue, kecuali Pen."
"Sialan, Shane," gue bisa bilang dia nggak nyangka. "Gue tau, gue emang sialan karena biarin itu terjadi."
"Nggak," Gentry jalan ke gue dan berlutut di depan gue biar kita bisa sama-sama ngeliat, "bokap lo yang sialan, lo masih anak kecil yang bingung, lo nggak tau apa-apa."
"Gue nguntit pelatih gue, harusnya gue tau sih."
"Shane, gue ngabisin empat tahun SMA jatuh cinta sama guru bahasa Spanyol gue, Nona Esperanza," dia nyengir abis nyebut namanya. "Cewek itu ngerubah gue... pokoknya, beberapa temen gue sama gue nemuin Facebook dia dan bikin akun palsu buat nembak dia."
"Lo nge-catfish guru bahasa Spanyol lo?"
Dia ngangguk sambil cekikikan, "juga sekitar setahun... kita semua ngelakuin hal bodoh waktu masih muda, lo nggak bisa biarin bokap lo terus make ini sebagai alasan buat ngalahin lo."
"Dia tau gimana perasaan gue soal itu dan dia nanya juga," menutup mata, gue narik napas, "gue benci di sini."
"Gue mulai ngerti itu," berdiri, Gentry duduk di sebelah gue, ngerangkul bahu gue, dia nyoba nenangin gue, "gue tau ini Thanksgiving, tapi kalau lo mau kabur, gue nggak masalah ngabisin Thanksgiving gue di asrama."
"Lo nggak masalah ninggalin?" Gue noleh ke dia dan dia ngangguk, dengan matanya menatap mata gue, kita terus saling pandang sampai jadi momen, momen nyata di antara kita sejak semua yang terjadi. Tapi itu berakhir cepet waktu pintu gue dibuka
"SIAPA YANG KANGEN—" Pen berhenti waktu dia masuk dan ngeliat tangan Gentry melingkar di bahu gue, "gue..." dia nyelesaiin kalimatnya sambil natap kita bingung.
"Sialan, akhirnya lo dateng juga!" Gue loncat nyamperin dia, "syukurlah!" Kita saling peluk erat. "Penerbangan 13 jam jadi gue agak linglung," katanya waktu gue lepasin.
"Kapan lo sampe?"
"Tadi malem," dia jawab dan gue bisa bilang ketertarikannya bukan ke gue, tapi apa yang ada di belakang gue... atau siapa yang harus gue bilang. "Lo ngapain di sini?" Dia nanya Gentry yang lagi berdiri.
"Sopan dikit," gue bergumam ke dia dan dia ngeliat gue.
"Baru aja lo nyuruh gue sopan ke cowok yang hampir ngebunuh sahabat gue?" Nundukin kepala, gue menghela napas siap-siap buat drama. "Gentry, kan?"
Dia ngangguk. "Lo cewek yang selalu ada di layarnya," Gentry senyum.
Baik Gentry maupun gue ngeliat dia buka tasnya trus mulai ngacak-ngacak isinya. "Lo ngapain—" gue nyoba nanya tapi dia cuma nyuruh gue diem dan terus nyari di tasnya.
Kesel, Pen buka tasnya dan ngebalikkin isinya sampai semuanya jatuh. "Aha!" Dia teriak trus membungkuk ngambil bola kecil. "Ngerti ini?" Dia ngangkat bola ke wajah Gentry, "selama gue di sini beberapa hari ke depan, kapan aja bisa kena muka. Ini bukan baseball tapi gue masih bisa bikin sakit."
"Lo janji?" Dia senyum.
"Dia— lo ngeremehin gue? Gue bakal bunuh lo pake tangan kosong gue, oke jangan uji gue."
"Oke," akhirnya gue ikut campur, "gue rasa jetlag bikin lo agak gila, Pen, ayo." Gue narik dia keluar dari kamar gue. "Lo ngapain?" Gue nanya pelan sambil ninggalin Gentry sendirian di kamar gue.
"Gue ngapain? Lo ngapain? Kenapa dia ada di sini?"
"Ceritanya panjang— tapi singkatnya, pelatih kita bilang kalau kita nggak akur dan nggak balik jadi temen, kita berdua keluar dari tim."
"Oy," dia bereaksi dan gue ngangguk, sambil mengangkat bahu dia nambahin, "ya lo harus temenan sama dia, gue nggak. Salah langkah, gue keluarin matanya karena udah bikin sahabat gue luka," dia mendekat nyium pipi yang kena luka, padahal memarnya udah bener-bener ilang.
"Juga kenapa lo nggak pake baju dan kenapa dia meluk lo?"
"Nggak penting, sana gangguin nyokap gue, kita turun bentar lagi." Dia ngangguk, "dan nanti beresin semua barang lo di lantai gue!"
"Mungkin," dia menuju tangga.
Balik ke kamar gue, gue nemuin Gentry natap rak sama piala dan foto gue. Ngambil kaos gue dari kasur, gue pake dan dia noleh ke gue. "Gue suka dia, dia ngejagain lo."
"Iya, dia satu-satunya alasan gue bisa ngelewatin SMA tanpa masalah."
"Lo tau," Gentry noleh ngehadap gue waktu dia ngomong, "gue kaget lo nggak bilang ke orang tua lo."
"Nyokap gue tau apa yang terjadi, dia cuma nggak tau itu lo, dan bokap gue... nggak peduli." Ngikutin gue keluar dari kamar waktu kita mau turun, Gentry nanya, "gue tau dia mungkin nggak bermaksud buruk, tapi apa gue harus khawatir sama Pen?" "Gue bakal khawatir kalau gue jadi lo," gue ngejawab sambil jalan duluan.
Tapi gue denger dia menghela napas sambil bergumam, "oke."
Masuk dapur, kita denger nyokap gue lagi ngobrol sama Pen, "nggak, kamu nggak bisa makan malam Thanksgiving sama kita, Pennsylvania, ibumu terus-terusan ngomongin kamu harus pulang, aku tau banget dia pasti mau kamu di sana malam ini."
"Tunggu—" Gentry berhenti dan kita semua noleh ke dia, natap Pen dia nanya, "nama kamu Pennsylvania?"
Mata gue membesar ke dia, nyoba ngasih kode jangan nanya gitu, tapi gue telat. "Orang tua gue orang hippie dari California yang pergi ke Timur dan jatuh cinta sama Hershey Park," gue ngeliat Pen waktu dia ngejelasin dengan tenang, kaget dia nggak ngamuk, dia benci kalau orang nanya soal namanya. Noleh ke gue, dia mengangkat bahu, "gue udah ngejelasin ke semua orang di sekolah selama 4 bulan terakhir, sekarang gue udah nggak peduli."
"Bagus deh," gue jalan nyamperin dia sambil ngelus bahunya. "Tapi tetep aja nggak usah nanya lagi ya," gue bilang ke Gentry.
Pergi ke halaman belakang, kita semua duduk di kursi di samping kolam renang yang tertutup, baik Gentry maupun Pen lagi sibuk sama HP mereka dan gue terjebak di tengah tanpa ada yang bisa di-chat, karena satu-satunya orang yang mau gue chat udah di sini.
"Gue suka quality time," gue ngomong agak kesel karena mereka nggak peduli sama gue.
"Maaf," Gentry cepet-cepet noleh, "Julia baru aja cerita soal semua hal gila yang terjadi di rumah."
Noleh ke Pen, gue nunggu alesan dia, dia keliatannya ragu mau ngomong tapi tetep ngomong, "Kylan nge-chat gue." "Kylan Fogerty, kenapa?" Gue nanya bingung.
"Beberapa anak dari kelas kita berencana buat pesta besok malem sebelum semua orang harus balik ke sekolah."
"Oh," tentu aja iya dan tentu aja gue nggak tau soal itu, "lo mau dateng?"
"Gue berencana, beberapa cewek mau dateng," gue selalu nyoba buat inget gue bukan satu-satunya temennya. "Satu-satunya alasan gue nggak bilang lebih awal karena gue tau lo nggak mau dateng, dan gue nggak bakal maksa lo."
"Oke," gue cuma ngangguk, nggak mau lanjutin lagi. Gue udah nggak sabar buat ngebuang SMA jauh-jauh jadi dia bener gue nggak mau dateng ke reuni bodoh beberapa bulan kemudian buat diperlakukan sama.
"Lo mau dateng?" Gue denger suara Gentry nanya waktu gue lagi mikir.
Noleh ke dia, gue nyoba buat mikirin pertanyaannya tapi Pen ngejawab buat gue, "nggak, Shane benci semua orang dari sekolah."
"Gue nggak benci siapa-siapa—" "Collin Avery,"
"Itu beda—" "Danika Stice,"
"Oke iya tapi—"
"Dan lo nggak suka orang yang nyembah tanah tempat mereka berpijak, kalau lo tambahin semua itu, itu hampir semua orang. Lo benci semua orang."
"Ya, gue udah berubah! Dan nggak ada satupun orang yang berarti buat gue, jadi gue nggak benci mereka.... lagi."
"Ya Shane cuma benci satu orang sekarang, dan itu gue jadi semua orang harus antre," ngeliat Gentry gue cekikikan sama candaannya yang bodoh dan dia ketawa kecil. Noleh ke Pen gue nemuin dia lagi marahin kita dan kita cepet-cepet berhenti ketawa.
"Apa Collin dan Danika bakal dateng?"
"Mungkin, atau mungkin Danika mikir dia terlalu berkelas buat pesta dan tetep di rumah meratap. Tapi mau gimana juga, lo nggak dateng."
"Gue nggak tau," gue mengangkat bahu mutusin, "mungkin gue bakal dateng." "Serius?" Dia duduk tegak sambil nyengir.
Ngangguk. "Nggak semua orang di kelas kita brengsek, Kylan baik. Tapi gue cuma mau dateng kalau Gentry ikut."
Kita berdua saling pandang menunggu jawaban dia, senyum dia ngejawab, "kemana pun lo pergi, di situ gue mau ada, jadi ya gue ikut."
Cepet-cepet buang muka biar gue nggak salting, gue denger Pen bilang, "awww ngomong yang manis nggak bakal bikin lo keluar dari masalah, genti."
"Ini Gentry, Pennsylvania," dia benerin sambil nyengir, "Gue—"
"Makanannya udah siap!" Nyokap gue teriak dari pintu dapur, "Pennsylvania sayang, udah waktunya kamu pulang."
Gentry ketawa waktu kita semua berdiri, "nggak bakal pernah biasa sama itu," dia ngegeleng, "Shane bilangin pacar lo buat ngitung hari sialannya."
"Dia nggak—" sebelum gue nyelesaiin, dia pergi masuk duluan sebelum kita.