Bab 131
"Seharusnya gue kasih tau dia, tapi dia tergila-gila banget sama dia dan gue emang temen yang nggak becus buat itu, tapi pas gue akhirnya punya keberanian buat ngomong, dia udah tau dan gue nggak pernah ngomong apa-apa. Gue emang parah, ya kan?"
"Nggak, bagusnya lo nggak usah ikut campur, mereka berdua emang gila kalau bareng, dan gue nggak pernah ikut campur urusan mereka."
"Iya, tapi Mia nggak pantes dapat yang kayak gitu."
"Tristan emang brengsek, dia temen gue, tapi dia emang brengsek."
"Iya, kayaknya gen itu emang ada di kolam orang populer." Gue harus kasih tau dia kalau gue tau, gue tau harusnya, tapi dia pasti bakal marah banget dan gue benci kalau dia udah marah. "Gimana sama lo?" Gue ngeliatin dia yang lagi natap langit-langit.
Dia senyum. "Gue nggak nyangka bakal ngasih tau ini ke lo..." dia natap mata gue. "Ini bukan warna rambut asli gue."
Berusaha buat nggak ketawa atau senyum, "Hah?"
"Gue pirang, gue benci banget, selalu bikin gue kayak cewek, jadi gue mulai ngecat rambut gue hitam, dan udah deh." "Ya Tuhan." Gue cekikikan. "Ini keren banget."
"Lo nggak boleh kasih tau siapa-siapa! Bahkan Tristan nggak tau."
"Gue nggak bakal, gue janji, tapi pirang?! Ya Tuhan, gue pengen banget lihat." Sambil bangun, gue ngeliatin dia jalan di seberang kamarnya, buka laci, dia balik lagi ke gue sambil ngasih foto. "Ini lo?!" Gue natap foto anak kecil pirang.
"Iya, waktu itu gue umur 6 tahun, foto terakhir gue dengan rambut itu."
Gue balikin fotonya ke dia. "Gue suka, gue rasa pirang bakal jadi perubahan yang bagus buat lo sekarang." "Nggak, udah telat, nanti malah bikin semua orang kaget."
Sambil rebahan lagi. "Wah, Nathan Skylar pirang, gue beneran udah lihat semuanya." Pas gue lagi rebahan di sana, gue ngerasa Nathan merangkak ke arah gue dan selanjutnya gue nggak tau, wajahnya ada di atas gue. "Nathan Skylar, lo ngapain?" Gue senyum.
"Gue mau cium lo." Dia mendekat ke gue, dan gue nggak ngehentiin dia, bibirnya menempel ke bibir gue saat kita mulai ciuman. Sambil pegang kepalanya dan ngusap-ngusap leher dan rambutnya, gue nikmatin momen itu, dan kalau ada yang bilang gue bakal ciuman sama Nathan Skylar malam ini, gue nggak bakal percaya sama sekali.
Pagi berikutnya, gue bangun, Nathan tidur di samping gue, karena nggak terlalu mabok, gue inget kejadian semalam dan gue senyum kecil. Diam-diam keluar dari kasurnya, gue ambil semua barang-barang gue, ninggalin rumahnya. Sambil ngendap-ngendap pulang sebelum orang tua gue bangun, gue mandi dan berangkat sekolah.
"Riley Sams! Lo dari mana aja semalaman?!" Gue denger Mia pas gue masuk sekolah. "Eh, pulang, gue pingsan." Gue bohong.
"Oh, oke, gue semalam seru banget, Tris sama gue seru banget s-"
"Nggak perlu tau." Gue ngehentiin dia.
"Lo pake apa?" Dia nanya pas kita udah di loker gue. "Lo nggak suka?"
"Nggak gitu deh, Ry." Setelah malam yang gue alamin, gue rasa nggak ada lagi yang kayak gue.
Nggak dengerin Mia yang maksa cerita tentang malamnya yang menjijikkan, sesuatu yang nggak gue sangka terjadi. "Hai." Nathan nyamperin kita.
"Hai." Gue senyum saat dia berhenti di depan Mia dan gue. "Hai, Nate." Mia ngeliatin dia.
"Nih, gue bawain sesuatu buat lo." Dia ngasih gue salah satu cangkir bawa pulang yang dia pegang. "Nggak usah khawatir, ini chamomile, kesukaan lo." Dia senyum.
"Oh, makasih." Kita semua diem canggung.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi?" Mia nanya, natap kita bolak-balik, tapi sebelum kita ngomong apa-apa, bel berbunyi. "Apapun itu, nanti aja ceritanya, harus berangkat pagi biar nggak gagal!" Dia teriak kalimat terakhir sambil ninggalin Nathan dan gue sendirian di loker gue.
"Jaketnya bagus." Dia noleh ke gue.
Sambil nyengir. "Makasih, otot gue jadi bagus, nggak sih?"
"Lo punya otot? Dari mana aja lo nyimpennya?" Dia ketawa. "Lucu banget, anak pirang." Gue godain dia dan kita ketawa bareng.
"Ayo, gue anterin ke kelas." Gue nutup loker gue dan kita jalan bareng.