Bab 153
Ezra
"Hai," gue pelan-pelan kebangun karena rasa jari-jarinya yang elus-elus rambut gue, setengah muka gue nyungsep di bantal.
"Selamat pagi," dia senyum sambil terus elus rambut gue. "Gue kangen, jadi gue pengen lo bangun."
"Lo kangen gue pas gue lagi tiduran di samping lo?"
"Iya, sekarang bangun, gue mau bikin sarapan," dia berdiri di kasur terus lompat sambil teriak, "Kita bakal punya hari yang seru!" Gue ketawa ngeliatin pantat telanjangnya yang ngilang di lorong.
Bangun, gue jalan ke kamar mandi terus sikat gigi. Ganti baju dan ambil beberapa pakaian buat Ezra, gue jalan ke dapur dan dia lagi joget-joget sambil dengerin musik kenceng sambil motong paprika. "Pake celana dong!" Gue ngelempar celana ke arah dia.
Berhenti dari yang dia lakuin, dia ambil celananya terus pake. "Hari ini bakal jadi hari yang seru!" Katanya, terus lanjut masak.
Mengecilkan musik. "Kenapa sih lo terus-terusan bilang gitu?" Gue duduk di seberang dia di sisi lain pulau di dapur kita.
"Gue nggak bisa tidur semalem, jadi gue begadang bikin daftar hal yang mau dilakuin hari ini," dengan tangan kotornya dia ambil kertas terus nyerahin ke gue. "Gue udah beliin kita tiket buat banyak hal dan gue nemu ranch keren banget, jadi gue telepon dan udah dapet kamar malem ini setelah hari petualangan kita!"
Gue baca lembaran itu. "Kebun binatang"
"Mereka punya panda baru minggu lalu!" "Istana arc"
"Tempat favorit kita di tepi danau, gue udah siapin piknik," dia nunjuk dan gue ngikutin jarinya ke keranjang piknik di seberang ruangan yang lagi nunggu.
Gue terus baca. "Show dome"
"Alex cerita tentang pertunjukan yang mereka adain di sana hari ini dan gue beliin kita tiket."
Semakin gue baca daftarnya, semakin banyak hal yang mau dilakuin. Gue ngeliatin Ezra semangat banget saat dia ngaduk telur, gue tau apa yang bakal terjadi. "Sayang, gue rasa kita nggak bisa lakuin semuanya, nggak dalam sehari," Gue turun dari kursi dan jalan ke dia. "Kenapa kita nggak telepon dan batalin semuanya terus kita cuma habisin sehari berdua aja?"
"Nggak, nggak Miles, ayolah! Gue butuh semalaman buat nentuin waktu dan merencanakan hari ini! Kita harus bersenang-senang!" Dia memohon dan hati gue bilang iya!
Tapi mulut gue nggak setuju. "Kalo kita di rumah..." Gue pelan-pelan cium bahunya ke arah punggungnya. "kita bisa lakuin apa aja yang kita mau..." Gue terus nyium-nyium
dipunggungnya. "Lo nggak mau ini aja?"
"Mau banget," katanya saat otot punggungnya menegang saat kena bibir gue. "Tapi kita bisa lakuin itu kapan aja! Kita nggak bakal punya hari kayak yang udah gue rencanain!" Dia ngebuang semuanya dan berbalik ke gue, dia nggak senyum lagi. Alisnya naik dan tangannya mulai gemeteran. "Gue mau
habiskan hari ini!"
Gue usap-usap tangannya dari atas bahunya ke sikunya berulang kali, itu bikin dia tenang. "Ezra, tolong tarik napas dan dengerin, ayolah," Gue narik napas dan buang napas bareng dia. "Kita nggak mampu buat lakuin semua hal ini, maaf ya sayang," gue bilang dengan suara paling tenang.
Matanya mulai marah. "Lupakan aja," dia dorong tangan gue, ambil jadwalnya, terus disobek dan pergi ke kamar, terus membanting pintunya.
Ngambil potongan kertas, gue duduk di konter dengan selotip dan mulai menyatukan kembali.
Ezra itu bipolar, gue udah ngerawat dia dari kita masih kecil. Orang tuanya pindah ke kota kita buat punya dia karena mereka orang kota yang pengen ngerawat dia di pinggiran kota. Mereka nemuin Ezra sakit pas kita umur 4 tahun, dia sering mukulin anak-anak di TK, tapi dia salah satu anak paling pinter yang semua orang nggak bisa nggak suka sama dia. Kita pikir Ezra aneh, tapi pas dia didiagnosa, orang tuanya ngepak semua barang-barangnya pas dia di sekolah dan nggak pernah jemput dia lagi. Gue sama dia biasa barengan naik mobil sekolah, jadi bokap gue nganter dia bareng kita pulang sekolah dan setelah nelpon orang tuanya ratusan kali, orang tua gue udah muak. Mereka nganter dia dan ngeliat pintu depan rumah Ezra kebuka, rumahnya kosong banget. Yang gue inget cuma kita berempat jalan di rumah kosongnya, Ezra bingung banget sama apa yang dia liat sampai dia nangis dan lari.
Kita nggak pernah nemuin dia malem itu, tapi orang tua gue laporin ke polisi dan mereka nemuin Ezra telanjang di hutan 3 hari setelah dia lari.
Dia dimasukin ke panti asuhan dan sejak itu semua orang yang pernah dia temui udah ninggalin dia, kecuali gue.
Nempelin daftar itu lagi, gue liatin sekali lagi terus jalan ke kamar. Masuk, gue nemuin Ezra mondar-mandir dengan cepat sambil mukul-mukul kepala. "Sayang, hei, berhenti!" Gue langsung ke dia, narik tangannya. "Nggak apa-apa, liat gue," gue nenangin dia.
"Nggak, nggak apa-apa! Gue nggak pernah ngelakuin apa pun yang bener! Lo marah sama gue, kan?" Dia nyoba narik tangannya buat mukul dirinya lagi.
"Nggak, gue nggak marah, liat," gue kasih dia daftarnya. "Kita nggak bisa lakuin semua hal ini karena kita nggak mampu, gue seneng banget bisa lakuin semuanya di daftar ini bareng lo."
"Beneran?" Dia mulai tenang.
"Iya, gue janji, tapi gue kasih tau lo, mari kita duduk dan pilih satu hal dari daftar yang bisa kita lakuin, dan kita bakal telepon dan batalin sisanya bareng."
—
Setelah ngasih obatnya, Ezra biasanya langsung pingsan berjam-jam, makanya dia benci minum obat, dia bilang itu bikin dia mati rasa, tapi dia harus minum obat karena ini bakal lebih parah kalau dia nggak minum.
"Gimana dia?" Gue masuk ke rumah kakak gue, Julia. Julia udah nikah dan punya anak, dan rumahnya kayak tempat pelarian gue setelah ngadepin salah satu ledakan emosinya Ezra.
"Baik, atau setidaknya lebih baik sekarang. Dia nggak tidur semalaman dan pas gue bangun pagi ini dia udah bangun, dia bikin jadwal hari ini, dan Julia, gue nggak bohong pas gue bilang dia punya 30 hal yang mau dilakuin di daftar itu," gue ngejatuhin diri gue di salah satu kursi di sekitar meja dapur saat dia jalan-jalan masak.
"Hal-hal kayak apa?"