Bab 130
"Aku cowok ganteng, kan?" Dia bertanya sambil menyeringai, "Apa aku tipe cowok yang kamu suka?"
Kami saling pandang. "Jujur aja, bilang ke aku, Nathan. Kalau aku datengin kamu terus bilang aku suka sama kamu atau aku ngerasa kamu menarik banget, pikiran pertama kamu nggak akan pengen mukul aku? Buat nyelametin ego cowok kamu yang merasa paling hebat."
"Aku nggak akan mukul kamu."
"Kamu juga nggak akan suka, kan? Aku nggak bisa seberani kamu kalau aku pengen sesuatu." Orang yang menarik tahu mereka nggak perlu usaha keras buat dapetin yang mereka mau. Dia nggak bilang apa-apa, jadi aku noleh ke dia dan nemuin dia lagi natap aku, ngambil tangan dan naruh di leherku dan hal berikutnya yang aku tahu adalah bibirnya udah nempel di bibirku. Dia mulai cium aku, dan walaupun dalem hati aku panik, tapi belum nyampe keluar, jadi aku bales ciumannya, tapi setelah beberapa detik aku kaget, "Kenapa?" Aku menjauh sambil berdiri. "Kenapa kamu lakuin itu?"
Dia buru-buru ikut berdiri juga. "Aduh," dia berhenti. "Keburu-buru," keseimbangannya agak goyah, terus dia noleh ke aku, "Maaf, aku penasaran."
"Penasaran soal apa?!"
"Gimana rasanya cium kamu, aku nggak tahu! Aku mabuk!" Aku nggak mabuk-mabuk amat. "Maaf kalau itu bikin kamu nggak nyaman, aku nggak akan ngulangin lagi."
"Oke."
"Mau bikin kopi biar kita nggak ngantuk?" "Aku nggak gitu suka kopi, ada teh nggak?"
"Harusnya aku ikutan." Kami jalan ke dapur, masih cuma pake handuk di pinggang, dia buka lemari. "Emm, ada teh hitam, teh hijau, sama teh chamomile, apa pun itu."
"Aku mau chamomile." Dia ngasih kotak tehnya. Aku bikin teh, dia bikin kopi. "Ini semua camilan yang aku bisa temuin," dia nutupin meja dapur dengan makanan.
"Ya ampun, kamu beli supermarket?"
"Aku suka makan," dia mulai makan. Duduk bersebelahan waktu kami makan, Nathan naruh makanannya dan noleh ke aku dengan mulut penuh, "Kamu mau jadi apa kalau udah gede nanti?"
"Apa?" Aku ketawa dengar pertanyaannya.
"Serius," dia noleh ke aku, terus puter tubuhku biar hadap ke dia. "Apa yang kamu bayangin kamu lakuin setelah kuliah?"
"Aku nggak tahu, maksudku aku mungkin masuk ke sekolah menengah dan-" "Kamu terlalu pinter buat sekolah menengah, Riley."
"Iya sih, tapi itu takdirku." Aku bisa aja bilang ke dia kalau aku nggak mampu, tapi kenapa harus bikin dia nggak enak karena apa yang dia punya dan yang aku nggak punya? "Kalo kamu?"
"Nggak tahu mau apa, mungkin nggak kuliah, mungkin jalan-jalan dan lihat banyak hal." "Lihat banyak hal kedengarannya seru."
"Menurutmu, aku cocoknya jadi apa?"
"Model," Aku jawab tanpa mikir dua kali. "Kamu punya muka, garis rahang, dan" mataku turun, "body yang oke." Aku buang muka, nyumpel makanan ke mulut.
"Yang praktis."
"Aku rasa nggak ada yang praktis dari hidup kamu, Nathan. Kamu tinggal di sini, dan kamu punya Porsche." "Seniman, aku rasa kamu bakal jadi seniman yang bagus, apa pun itu."
Aku senyum. "Oke, aku bakal ambil kuas lukis dan bikin karya seni." Sambil ketawa bareng, aku sadar lutut kami bersentuhan, kita duduk terlalu deket, aku bisa aja maju dan cium dia, dia natap aku, ini sempurna. Tapi, aku nggak seberani itu, jadi aku berdiri. "Kita harusnya pake baju." Aneh juga duduk sedeket ini sama dia telanjang.
"Ide bagus," dia ikut berdiri. "Ke kamarku kita pergi," dia jalan duluan dan aku membeku, aku udah di rumahnya entah berapa lama dan belum pernah masuk kamarnya.
Aku jalan ke kamar Nathan Skylar. "Sial," aku bilang pelan. "Hah?" Dia noleh waktu kita jalan.
"Emm, nggak ada apa-apa, aku bilang baju."
"Iya, aku ngerti." Dia berhenti di depan pintu ganda yang megah, mendorongnya. Iya, kamarnya sebesar rumahku. Aku masuk sambil berputar, harus muter minimal 3 kali buat lihat semua, Ya ampun! "Sini!" Dia manggil dan aku sadar dia nggak bareng aku.
"Di mana?" Aku teriak nggak tahu dari mana suaranya. "Sini," dia nyembulin kepalanya dan aku jalan ke dia.
"Ini kamar kedua yang isinya baju semua?" Aku narik rahang sambil bengong ke apa yang cuma bisa aku deskripsiin sebagai kamar kedua yang isinya baju semua.
"Nggak, ini lemari aku, pake apa aja."
Jalan-jalan, aku berhenti di bagian yang cuma ada jaket kulit. "Berapa banyak yang kamu butuhin?" Aku nunjukin mereka.
"36," dia ngeliat ke aku sambil senyum waktu dia pake celana dalam dan celana panjang. Aku milih beberapa baju biasa dan make, tapi aku nggak bisa berhenti natap jaketnya, mereka semua mengkilat dan baru. "Pake satu."
"Beneran?" Dia ngangguk dan aku nyari-nyari, milih satu, aku pake. "Gimana menurutmu?" "Menurutku otot adalah faktor penting buat jaket kulit."
"Iya, aku juga mikir gitu cocok di aku." Aku noleh ke cermin, ngeliat diri sendiri, dan dia ketawa.
"Ayo," dia narik aku keluar dari lemari dan kita pergi ke kasurnya yang gede, dia rebahan dan aku berdiri di sana, ngeliatin. "Tiduran, Riley."
"O-Oke," dengan enggan aku naik dan tiduran di sebelahnya. "Sekarang apa?" Aku tanya sambil kita berdua natap langit-langit. "Rahasia yang belum pernah kamu kasih tahu siapa pun."
"Nggak, aku nggak bisa kasih tahu kamu."
"Kamu udah bilang nggak terus dari tadi, Riley, pada akhirnya kamu bakal kasih tahu aku juga." Bener juga. "Satu hal yang nggak ada orang tahu? Bahkan Mia juga nggak."
"Aku nggak tahu, aku kasih tahu dia semuanya." Berhenti, aku mikirin itu. "Emm, oke, aku punya satu, tapi itu melibatkan Mia, jadi kamu nggak boleh kasih tahu dia!"
"Oke," kita saling pandang masih telentang.
"Aku tahu Tristan selingkuh sebelum dia tahu." Dia menghela napas. "Iya, aku juga."