Bab 46
"Itu pasti berat banget buat lo, gue minta maaf," dia menempelkan ciuman lembut di hidung Shia, "lain kali gue nginep, gue bakal pake 2 celana cuma buat lo."
"Makasih, cuma itu yang gue minta." Tanpa sepatah kata pun, Ryder mulai menggeliat keluar dari pelukan Shia yang membuatnya memeluk cowok itu lebih erat, "mau kemana sih?"
"Cuma mau ambil air," Ryder menjelaskan sambil melihat Shia, "gue balik lagi kok sebelum lo sadar."
"Oke deh, 10 detik," Shia melonggarkan pelukannya, "10, 9, 8..." Ryder tertawa kecil saat dia keluar dari tempat tidur, keluar dari kamar Shia cuma pake celana dalam dan salah satu kaus Shia.
Berjalan ke dapur, Ryder mengambil gelas, membuka keran untuk mengisinya, saat dia hendak mengangkat cangkir ke bibirnya, Ryder mendengar "Shia udah bangun belum?"
Terkejut oleh suara Ibunya Shia yang bertanya saat dia berjalan di belakangnya, "Selamat pagi Nyonya Yorkton," Ryder berbalik, "dan ya, dia udah bangun kok."
"Nah, bisakah kamu kasih tau dia kalau dia harus pergi ke toko? Gak ada makanan di sini... kamu tau kan
kalau dia udah selesai sama kamu di dalam."
Memilih untuk mengabaikan pernyataan itu, Ryder mengambil segelas air berusaha untuk meninggalkan dapur, tapi dihentikan saat Ibunya Shia memutuskan untuk melanjutkan, "yang bisa aku katakan padamu, Nak, hati-hati ya, cowok-cowok Yorkton punya cara untuk menghisap masa mudamu lalu membiarkanmu membusuk," dia mengeluh sambil memasukkan sebatang rokok ke mulutnya. "Jangan percaya sama yang di dalem, mungkin sekarang keliatannya cinta banget sama kamu, tapi dia sama aja kaya ayahnya, percaya deh. Sekumpulan cowok gak bener," memutuskan dia sudah cukup mendengar, Ryder meninggalkan dapur tapi berhenti saat dia menemukan Shia berdiri di sana di balik tembok, mendengar semuanya.
Mengerutkan kening, Shia pergi dan Ryder mengikutinya sampai mereka kembali ke kamar, meletakkan segelas air di suatu tempat, Ryder berjalan ke arah cowok itu yang sedang duduk di tempat tidurnya dengan kepala tertunduk. "Jangan dengerin dia," Ryder duduk di sampingnya, "semuanya omong kosong, dia gak kenal kamu."
"Ibu gue sendiri aja gak kenal gue?" Shia bertanya dengan senyum sedih, sudah terbiasa dengan kepahitan ibunya, "gimana kalau dia beneran? Gimana kalau gue sama kaya dia? Ninggalin semua hal baik yang gue punya tanpa alasan."
"Gue gak kenal ayahmu, tapi gue kenal lo, dan gue tau kalau lo bukan orang kaya gitu. Ibumu akan mengatakan apapun yang dia mau karena apa yang dia alami, tapi lo harus percaya itu gak bener Shia, kesengsaraan emang suka banget sama teman."
Shia udah sengsara sama ibunya sejak lama, ya, dia bersyukur udah nemuin Ryder, tapi kekhawatiran itu masih ada. Gimana kalau dia sama rusaknya kaya keluarganya dan itu menyebabkan dia kehilangan Ryder? Dia gak tau betapa dia butuh cowok itu, dan sekarang setelah mereka akhirnya bersama, Shia tau dia gak akan membiarkan ibunya merusak semuanya.
"Kita gak harus di sini kalau lo gak mau," "Kenapa gue gak mau?" Ryder bertanya bingung
"Ibu gue akan terus melakukan ini sampai dia bikin lo takut, dan gue gak bisa mengendalikan dia."
"Lo udah ketemu Evan, kan?" Shia mengangguk "jadi gue rasa kita berdua berada di perahu yang sama, butuh lebih dari sekedar taktik menakut-nakuti kecil ini dari ibumu untuk menakut-nakuti gue."
Mendekat, Ryder melingkarkan lengannya di sekitar Shia "Gue gak bakal kemana-mana, oke? Lo di sini, jadi tentu aja
gue juga pengen selalu di sini."
"Lo yakin?" Shia berbalik menunggu kepastian, "Gue tau baru 2 minggu jadi gue ngerti—" "Sst" Ryder mendekat, menempelkan bibirnya ke bibir cowok itu untuk menghentikannya berbicara. "Gak ada
balik lagi, sayang, lo udah terjebak sama gue."
Hari ini udah 3 bulan, 4 hari, 19 jam, dan 12 menit sejak mereka jadi pasangan. Ternyata, hari ini juga ulang tahun Ryder. Dengan bantuan teman sekamar cowok itu, Shia berhasil mengeluarkan Ryder dari apartemennya sepanjang hari.
Setelah menghabiskan hari yang sangat menyenangkan bersama para cewek, Ryder bertanya, "ada apa sih?" Saat mereka menaiki tangga kembali ke apartemen. Lin udah gak bisa nahan diri sepanjang hari karena kegembiraan, dan Tamsin udah berusaha sekuat tenaga untuk membuat Lin tetap tenang.
Tapi semuanya udah terlambat karena mereka gak perlu menyimpan rahasia lagi, "gak ada apa-apa," jawab Tamsin.
Saat mereka sampai di lantai mereka, Lin yang pertama membuka pintu, setelah mereka berjalan di dalam sebelum Ryder, giliran dia yang masuk. Saat dia melangkah melewati pintu, Ryder melihat ke bawah dan bertanya, "itu tas Shia, ya?" Dia melihat ransel cowok itu tergeletak di lantai, "ngapain di sini?"
Mereka berdua mengangkat bahu sambil berbagi pandangan cepat, "dia ada di sini?" Ryder berjalan di antara mereka menuju kamarnya, "Gak Ryder, tunggu!" Lin mengejarnya tapi mereka terlambat menghentikannya untuk membuka pintu kamar tidurnya.
Berhenti di tempatnya, Ryder menatap pacarnya yang sedang menyeka cat dari tangannya, lalu matanya beralih ke
tembok di seberang tempat tidurnya, tembok terbesar di kamarnya. Tapi bukan hanya temboknya, tapi apa yang ada di atasnya, "Ryder—" dia mendekat berjalan melewati Shia, terlalu terganggu oleh tembok yang dicat, "gue bisa jelasin" "Lo lakuin ini buat gue?" Dia melihat sekilas ke Shia lalu kembali ke tembok
Shia mengangguk, "gak apa-apa kalau lo gak suka, kita bisa cat ulang—" "Sempurna," Ryder akhirnya mengalihkan perhatiannya ke Shia, "lo udah di sini sepanjang hari buat ngerjain ini?" Shia mengangguk lagi, "kenapa?"
"Lo suka banget sama mural di sekolah, mikir lo pantas punya sendiri, yang cuma buat lo." Berjalan ke Shia, Ryder meletakkan dahinya ke dahi pacarnya, "gue gak pantes buat lo," bisiknya
"kok gue bisa seberuntung ini?"
"Gue yang beruntung," Shia menciumnya, "selamat ulang tahun."
"Makasih," dengan seringai Ryder melanjutkan, "indah banget, gue suka" "Gue cinta lo," kata Shia tanpa ragu
"Gue juga cinta lo, Shia, cinta banget." Bibir mereka bertemu lagi, berbagi ciuman berdiri di tengah kamar tidur Ryder.
"Gue bangga banget sama kita," kata Lin berbaring di tempat tidur Tamsin saat dia berkeliling membersihkan, "kalo bukan karena kita, Ry gak akan pernah ngomong apa-apa,
dan sekarang lihat dia." Dia secara lisan menepuk punggungnya sendiri, "gue emang mak comblang yang hebat" "Beneran? Terus kenapa kita masih jomblo?" tanya Tamsin
"Duh, karena kita ini udah gak ada harapan, ditakdirkan untuk mati bersama," "Gue gak mau mati sama lo,"
"Udah terlambat, Tammy, takdir udah berbicara." "Sialan takdir, dan jangan panggil gue Tammy"
"Lo menyangkal gue sekarang, tapi lo akan lihat, pemakaman kita bareng akan indah banget" Lin tertawa Dan Tamsin mendengus, "ada yang bener-bener salah sama lo."