Bab 156
Mereka semua tepuk tangan dan gue naik ke panggung. Gue jalan dan dia salaman sama gue terus nepuk punggung gue. Dengan senyum paling lebar di muka gue, gue nunggu mereka berhenti tepuk tangan "makasih, seru banget balik lagi, dua minggu itu kelamaan banget. Nggak gampang buat tutup kesepakatan ini, tapi kita di sini malam ini lebih kaya dari kemarin" kita semua ketawa dan gue ngeliat ke Felix yang nggak keliatan seneng. Gue dengan canggung berhenti ketawa "tapi serius gue seneng banget balik lagi, nggak pernah asik jauh dari rumah karena lo mulai kangen, tapi selalu bagus buat kangen sesuatu, bikin lo punya sesuatu yang ditunggu-tunggu." Gue natap lurus ke Felix yang matanya tertuju ke gue "gue kangen suami gue setiap menit gue jauh dari dia, dia yang gue tunggu-tunggu, dia alasan gue lakuin semua ini. Makasih sayang"
Semua orang tepuk tangan dan Felix senyum sambil bilang 'I love you' ke gue, ngedipin mata ke dia gue selesai pidato gue "makasih." Gue jalan pergi, ngelewatin semua orang sampai gue nyampe ke suami gue, ngedeketin muka gue ke dia sampe bibir kita cukup deket buat ciuman "gue pengen banget cium lo sekarang" gue bilang sambil pake semua tenaga buat nahan diri.
"Gue tau, tapi lo nggak bisa" dia senyum dan pergi lagi ninggalin gue. Ini nyiksa banget!" Gue ngeluh ke Rhiannon "berapa lama lagi ini selesai?"
"46 menit" dia jawab "gue juga udah itung, mending gue di rumah nonton acara-acara random"
"Satu masalah dulu Rhiannon. Dengerin besok pagi datang lebih awal dan coba cari tau apa yang dibicarain Warner ke gue tadi, soalnya dia pengen terus bahas itu dan gue nggak ngerti sama sekali apa yang dia omongin"
"Gue cinta banget sama kerjaan gue" dia ketawa dan pergi.
"Gue bener-bener harus cium lo" gue ngendap-ngendap ke Felix pas dia akhirnya berdiri sendiri "40 menit lagi, kita bisa kan?" Dia ngebalikin kata-kata gue.
"Baru enam menit?!
"Apa?"
"Felix kenapa lo nyiksa gue?"
"Karena kita harus dateng ke sini." Dia berdiri deket gue "gimana rasanya?" "Gimana rasanya apa?"
"Dibilang nggak bisa? Kita berdua menderita malam ini dan gue minta maaf tapi gue serius sama yang gue bilang" "Oke deh, kayaknya gue bakal tetep ngehindar dari lo"
"Iya kayaknya berhasil, setiap kali gue ngeliat lo, lo selalu ngeliatin gue" dia nyengir "Itu karena ada sesuatu di gigi lo"
"Apa?" Dia panik "kenapa lo nggak bilang apa-apa?" "Nggak tau" dia pergi dengan kesal dan gue ketawa.
Berdiri di pojok gue itungin menit sampe waktunya Felix dan gue pergi "gue dateng jam 7 besok?" Rhiannon nanya ke gue sambil ngambil barang-barangnya buat pergi.
"Oke deh, gue datengnya agak siangan tapi kasih tau gue kalau lo nemuin sesuatu ya?"
"Siap bos" kita pelukan dan dia pergi.
Setelah Rhiannon pergi bos gue sama istrinya nyamperin gue "seneng banget liat lo Donovan" Lisa meluk gue.
"Selamat datang kembali nak, ketemu besok pagi ya"
"Kalian have a good night ya" kita senyum dan mereka pergi.
Ruangan perlahan-lahan kosong "sekarang giliran kita belum sih?" Felix nanya sambil nyamperin gue "kayaknya sih iya."
Kita nunggu di luar buat mobil kita dateng "gue suka banget pidato lo" "itu semua tentang lo"
Dia senyum "makanya gue suka banget" gue ngejek. Mobilnya dateng dan gue bukain pintu buat dia "makasih" dia masuk dan setelah ngasih tips ke tukang parkir gue duduk di kursi pengemudi dan langsung ngebut pergi. "Pelan-pelan Don"
"Gue harus cepet sampe rumah" gue nyetir
"Iya dan kita bakal nyampe, semoga aja."
—
Gue bawa kita sampe rumah dalam waktu singkat. Markir mobil di garasi gue langsung buru-buru keluar "ayo" gue buka sabuk pengaman gue.
"Tunggu gue pengen ngomong sesuatu sebelum kita masuk dan gue nggak dapet kesempatan" dia genggam tangan gue di tangannya "nggak ada seorang pun di dunia ini yang lebih bangga sama lo selain gue, karena lo kita bisa hidup enak dan gue tau kadang gue nganggep enteng itu tapi itu cuma karena gue suka pas lo beliin gue sesuatu pas gue lagi kesel" kita berdua senyum "lo udara gue dan gue cinta sama lo Donovan"
"Kita harus masuk sekarang juga" gue jawab dan dia ketawa. Kita buru-buru keluar dari mobil, sebelum kita lari masuk gue berhentiin kita "gue juga cinta sama lo." Kita masuk dan nutup pintu di belakang kita. Gue nggak buang waktu, meluk Felix, dia robek jaket gue "gue mikirin lo semalaman"
"Gue tau" dia ciumin gue seluruh tubuh. Dorong gue ke dinding terdekat Felix berlutut nyium dan ngebuka resleting celana gue "gue pengen bibir gue ada di sekitar ini semalaman" dia ngehisap punya gue sepenuhnya.
Gue genggam rambutnya saat mata gue perlahan-lahan muter ke belakang kepala gue. Mulut Felix terus bekerja saat dia pake tangannya buat lepasin bajunya, narik celana dan celana dalemnya gue punya pemandangan sempurna dari dua hal favorit gue tentang dia, matanya dan pantatnya. Felix narik gue ke lantai dan ada di atas gue "tunggu! Ayo ke kasur"
"Nggak ada waktu buat itu" dia duduk di burung gue megangin dada gue buat dukungan. Nengadahin kepalanya sambil merem Felix perlahan-lahan mengendarai gue saat lobangnya mengencang yang menyebabkan desahan keluar dari mulut gue.
Kita tiduran di lantai di depan pintu garasi dan gue nggak mikir ada tempat lain yang lebih gue suka.