Bab 191
Sean
"Lo sering gitu ya?"
"Ngajak cowok random di klub terus dibawa ke kamar hotel?" "Iya."
"Enggak, gue nggak."
"Kenapa gue nggak percaya sama lo?"
"Karena gue punya muka kayak gitu. Muka cowok yang kesepian, jadi satu-satunya cara buat 'dapet' ya dengan ngajak cowok di klub."
"Lo nggak keliatan kesepian kok."
**Sehari sebelumnya**
"Arrow, kenapa sih lo kerja di klub itu?" adik gue nanya sambil siap-siap sekolah, gue tiduran di kasurnya.
"Karena nyokap kita pecandu narkoba dan gue butuh duit kalau mau kabur dari sini." "Terus kenapa nggak sekolah kayak gue aja?"
"Tory, kita nggak semuanya pinter kayak lo. Lo lulus seminggu lagi dan udah siap-siap kuliah, gue 19 tahun dan nggak tahu mau ngapain. Lo pergi dan gue masih di sini, gue juga butuh rencana,"
Gue sama adik gue cuma punya satu sama lain. Nyokap pecandu yang nggak mau sembuh, dan bokap pergi setelah sadar siapa nyokap gue.
Kenapa dia nggak ajak kita juga? Adik gue Tory, 17 tahun, bentar lagi kuliah, gue 19 tahun, ya gue emang lulus SMA tapi nggak pernah kebayang kuliah. Gue mau pergi dari California, mau sejauh mungkin dari tempat ini. Gue kerja di klub malam gay tiap malam buat nabung. Waktu kecil, gue sama adik gue bikin rencana, pokoknya kita harus kabur dari nyokap, meskipun harus pisah. Kita nggak mau pisah, tapi kalau emang harus, kita bakal cari cara buat balik lagi. Adik gue pindah ke New York dua minggu lagi buat kuliah di Columbia, dan gue bilang, kalau udah cukup nabung, gue bakal nyusul dia.
"Udah ah, gue anterin ke sekolah." Kita keluar dari rumah reyot kita, nyokap udah pingsan di sofa. Dia hampir nggak ngomong apa-apa sama kita beberapa bulan terakhir, paling cuma ninggalin duit 40 dolar di meja, terus ngilang tiga minggu, balik-balik makin parah.
Pas gue sama adik gue jalan ke sekolah, "Troy sering nanyain lo," gue senyum. "Katanya lo nggak pernah bales chat dia." Troy itu kakak dari sahabatnya Tory, dulu gue pernah ada something sama dia. Kita deket, hubungan kita bagus, tapi dia bukan tipe cowok buat hubungan serius, jadi gue akhiri, dan sekarang dia ngechat, nelpon terus, berusaha meyakinkan gue kalau dia bisa berubah kalau gue kasih kesempatan.
"Troy harusnya udah dewasa," kita sampe di sekolah, berhenti. "Gue nggak pulang pas lo balik." "Gue tau, gue nggak ketemu lo sampe gue balik sekolah besok."
"Tor, ini bukan salah gue, gue harus kerja sampe malem, gue butuh duit."
"Gue tau," dia meluk gue. "Hati-hati ya?"
"Iya," kita lepasin pelukan. "Gue sayang lo."
"Sayang juga," dia jalan, gue juga.
-------------------
Sekarang jam 9:50 malem, klub buka 10 menit lagi. Gue kerja sebagai bartender dan harus bikin KTP palsu karena gue baru 19 tahun. Semua orang kira gue cuma cowok kurus umur 22 tahun.
Klub punya 3 bar dan gue yang handle sendiri sampai jam 1 pagi, baru istirahat 20 menit, terus balik lagi sampe jam 3 pagi. Abis beres-beres, akhirnya jam 10, pintunya dibuka, orang-orang ngantri di luar nunggu masuk. 'Lo bisa, Arrow,' gue bilang ke diri sendiri sambil pasang senyum terbaik gue buat orang-orang ini.
Sekarang hampir tengah malem, klub lagi rame-ramenya. Orang-orang pada joget, lampu lasernya terang, dan udaranya penuh asap dari mesin asap kita. Gue udah jadi bartender setahun, tapi masih nggak biasa sama orang mabuk yang teriak-teriak minta minuman. Temen kerja gue, Pen, selalu bilang, "Pikirin aja, seberapa kasar atau mabuknya mereka, mereka pasti kasih tip, mereka harus," dan ya, dia bener, tapi gue benci teriakannya, bikin pusing, musiknya juga nggak membantu.
Berusaha fokus, gue kerjain tugas gue dan sejam kemudian jam 1 pagi, syukur alhamdulillah istirahat. Gue tutup bar gue dan lari keluar, butuh udara. Harusnya gue suka di sini, dateng ke sini harusnya jadi bagian terbaik hari gue karena nggak ada yang bisa nge-judge gue di sini, tapi gue benci, gue benci tempat ini dan mau pergi, tapi nggak bisa. Duduk di lantai di dinding klub, gue keluarin vape dari saku dan nge-vape, lebih enak. Sambil nge-vape, gue denger suara, "Selalu penasaran sama benda-benda itu," gue liat ke atas, di samping gue ada cowok ini. Bukan cowok biasa, tapi cowok yang dari cara dia berpakaian dan penampilannya, nggak cocok di tempat kayak gini. Dia tinggi, rambut hitamnya lembut banget, mata birunya dalem banget, bisa gue liat bahkan kalau jam 1 pagi. Tulang pipinya dan rahangnya tegas banget. Dia pake setelan jas hitam yang keliatan mahal dan jam tangan yang gue cuma bisa bilang Rolex.
"Apaan?" gue nanya sambil berdiri, gue lupa dia ngomong apa karena sibuk merhatiin semua hal sempurna tentang dia.
"Itu di tangan lo," dia nunjuk sambil senyum. "Apa itu?" Gue terlalu fokus sama mukanya sampe lupa jawab, "Lo nggak apa-apa?"
Gue tersadar, "Baik-baik aja! Gue baik-baik aja," dia liat ke tangan gue, "Oh ini, ini vape." "Kayak rokok?"
"Lebih bagus dari rokok," Dia senyum. Dia nggak ngomong apa-apa, "Mau nyoba?" gue nanya.
"Boleh?" Gue ngangguk dan ngasih ke dia, "Gimana cara kerjanya?"
"Cuma tinggal taruh mulut lo di sini, teken tombol itu dan tarik pas neken tombolnya," dia lakuin, terus liat gue kaget, "WAH, gue suka," dia ketawa dan gue liatin dia nikmatin vape gue, "dan apa itu rasanya enak banget, ceri?"
"Yep."
Dia nge-vape lagi terus ngasih balik ke gue, "Makasih," dia senyum, kenapa senyumnya ganteng banget?