Bab 201
Kaiden
"Jace jangan keluar hari ini," omel Ibunya Kaiden waktu aku lari ke pintu.
"Iya, iya," aku teriak balik sambil membanting pintu di belakangku. Tinggal sehari lagi ulang tahunku dan pestaku gak akan lengkap kalau Shane gak mau datang. Dia anak baru di sekolah dan dia beneran gantengnya kelewatan, tapi dia jual mahal, bukan berarti aku gak suka, aku suka cowok yang ngasih tantangan. Aku telat buat masuk kelas tapi aku gak peduli, aku Jace Sonders.
Waktu aku masuk kelas, aku lihat ada kursi kosong di dekat Shane dan aku langsung kesana 'waktunya bergerak nih'.
Aku meluncur ke kursi, "Udah berubah pikiran belum?" aku berbisik sambil mendekat ke dia. "Tentang apa?" dia jawab balik dengan aksen Perancis yang seksi.
"Datang ke pestaku," aku menyeringai.
"Gak mungkin."
"Aku gak akan nyerah sampai kamu bilang kamu mau datang."
"Jangan berharap deh," katanya dan kami dipotong sama guru, "Tuan-tuan, mau gabung sama yang lain di kelas?" Kami berhenti dan menatap ke depan.
Beberapa jam di hari itu dan aku mulai panik, tinggal 3 jam pelajaran lagi dan aku harus bikin dia bilang iya. Aku mau ke pertemuan makan siang sama kakak laki-lakiku, dia sebenernya guru di sekolah dan karena dia anak baru di sini, dia makan siang sama aku dan sahabatku Jonah, bukannya ke ruang guru. "Billy, lo gak bisa terus-terusan makan siang sama kita, memalukan,"
"Itu Tuan Sonders buat kamu," katanya sambil duduk.
"Gak papa Tuan Sonders, kapan aja mau makan sama kita, boleh,"
"Jonah, kamu bisa panggil aku Billy," Jonah naksir berat sama kakakku dan Billy tau itu, tapi sayang dia straight.
"Billy, oh maaf, maksudku Tuan Sonders, gimana ngajar kelas 10?" aku tanya sambil menggigit apelku.
"Mantap! Gampang kalau kamu ganteng kayak aku, cewek-cewek nurut sama aku dan cowok-cowok juga, biar bisa sok akrab sama aku," aku tersenyum.
"Jonah, jangan lihat sekarang, tapi itu Shane datang," Jonah melihat meskipun aku udah bilang jangan, begitu juga Billy. "Oh, jadi lo suka Shane, ya?" dia kasih senyum misterius terus dia manggil, "Shane!"
"Billy, jangan," tapi udah terlambat karena Shane datang, "Ya, Tuan Sonders?" dia menghampiri kami.
"Perlu bantuan buat ngejar pelajaran? Aku tau ini minggu pertama kamu, sih,"
"Wah, boleh juga, nanti aku mampir ke kelasmu," dia bilang terus pergi, aku gak percaya sama dia. "Kok bisa kenal Shane?"
"Dia di kelas remedialku buat geometri, dia butuh nilai buat lulus," Billy cuma manggil dia buat bikin aku kesel.
"Jadi, yang aku denger, dia butuh guru les?"
Jam pelajaran terakhir kita olahraga dan aku harus bikin rencana biar dia mau datang ke pesta. Waktu kita di ruang ganti, ganti baju, aku lihat Shane narik kaosnya, memperlihatkan badan yang dibikin sama tangan-tangan malaikat, aku jalan ke dia 'kesempatan terakhir Jace' waktu semua orang keluar ruangan buat olahraga, aku bilang, "Kemana sih kalau mau dapet otot kayak gitu?"
"Gym," dia jawab balik dan aku tertawa kecil.
"Kamu tau, Shane, aku bakal seneng banget kalau kamu datang ke pesta aku," aku bilang sambil mengusap-usap perutnya.
"Gimana kalau aku gak peduli sama kebahagiaanmu?" dia beneran gak bikin ini gampang.
Aku pasang muka memelas terbaikku, "Tapi, tapi aku mau kamu datang, buat aku?" Aku mengedipkan mataku. "Please?" aku lanjut, "Dan katanya kamu butuh guru les matematika, dan kebetulan aku jenius matematika. Datang ke pestaku dan aku pasti bisa bantu kamu."
Dia senyum, mendekat ke aku dan aku bersandar ke loker, dia makin dekat, mau cium aku 'ini beneran terjadi', bibirnya pelan-pelan menyentuh bibirku dan aku bisa ngerasain ribuan volt listrik menyambar saat lidah kami bertemu dan setelah semenit, dia pelan-pelan menjauh dan aku tetap menutup mata, masih ngerasain sensasi bibirnya di bibirku, terus dia mendekat ke telingaku, begitu dekat bibirnya menyentuh telingaku dan berbisik, "vos lèvres un goût de fraises," napasku memburu dan aku memohon dia bilang lagi, dia tertawa kecil dan bilang, "Nanti aku kasih tau di pestamu." Dan terus pergi.
Aku ngerasa besok malam bakal jadi malam terbaik dalam hidupku.