Bab 23
"Gimana sih caranya? Kita di zona waktu yang beda, padahal banyak banget yang mau gue ceritain!"
"Gak ada yang nyuruh lo sekolah di luar negeri, Pen," jawab gue sambil jalan ke kelas terakhir hari ini, "Emang sekarang jam berapa di sana?"
"Jam 2 pagi, tapi pokoknya ceritain lagi tentang cowok di tim bisbol lo itu," Gue udah nge-text dia dikit malem tadi sebelum tidur, pas dia lagi sekolah.
"Namanya Gentry—"
"Nama yang lucu banget! Dia ganteng gak?" Gentry ganteng gak? Itu pertanyaan yang berat karena maksudnya, secara kasat mata, ya, tapi dia bukan cuma ganteng, dia— "halo... Shane?" Dia nge-tegur gue dari lamunan.
"Iya, gue di sini, dan... Gak tau deh, gue gak bisa jawab itu sekarang." "Oke, deh. Lo bilang dia baik."
"Dia baik banget, tapi gue gak tau. Gue cuma pengen nyari temen, jadi gue berusaha banget buat gak suka atau ngerasa apa pun sama dia."
"Semoga berhasil, gak butuh waktu lama buat lo." "Diem deh, lo gak kenal gue!"
"Gue sahabat lo, man, gue tau banyak." Ya, bener juga. "Pokoknya gue harus tidur, besok gue harus bangun pagi."
"Oke, gue hampir sampe kelas nih, nanti Skype-an malem ini atau gimana." "Lo bakal kemaleman banget."
"Gue gak peduli, gue bakal bangun." Kita bilang bye, terus gue matiin telepon.
Pas gue mau masuk kelas, ada tangan yang narik gue balik ke lorong, "Hei," sapa Gentry sambil senyum pas gue noleh. Dia emang selalu senyum.
"Gentry, hai. Lo ada kelas di deket sini?"
"Enggak, gue di kelas ini," dia nunjuk ke ruangan yang mau gue masuki.
Balik badan, gue mastiin gue gak salah masuk, "Lo di editing foto?" Dia ngangguk. "Maksudnya fotografi, lo ngambil jurusan fotografi?"
"Ya ampun, enggak," dia ketawa. "Ini cuma minor buat seru-seruan." "Oh—"
"Ayo, anak-anak, masuk dan cari tempat duduk biar saya bisa nutup pintu," kata profesor, masuk, gue nyisir ruangan, dan tentu aja cuma ada satu meja yang tersisa dengan 2 kursi. Jalan ke sana, gue dan Gentry duduk bersebelahan.
"Jadi lo jurusan fotografi?" Dia nanya gue dengan suara pelan. "Enggak, ini minor, psikologi olahraga jurusan gue."
Dia kaget, ngeliatin gue. "Gue juga!" Gue natap senyum di wajahnya. "Ini aneh banget, jurusan dan minor sama, terus tim juga sama. Menurut lo apa artinya ini?" Dewa sialan lagi ngetes gue.
Kelas berlanjut, semua orang lagi perkenalan dan ngomongin kenapa mereka suka fotografi. Giliran Gentry, dia berdiri, "Em, hai, nama gue Gentry McAllen, gue 19 tahun, dan gue pemain bisbol—"
"Wah, ada 2 nih yang kayak lo di sini, ya," dia komen tentang gue yang tadi bilang gue pemain bisbol. "Iya, gue suka fotografi karena menurut gue seru."
"Seru?" Profesor nanya sambil senyum. "Mr. McAllen, saya yakin hal yang anda suka lakukan untuk bersenang-senang dan fotografi seharusnya tidak masuk dalam kategori yang sama, saya mengajar murid yang menganggap ini serius."
"Saya serius kok." Nunduk, dia buka tasnya. "Bahkan saya beli ini pake duit sendiri." Dia ngeluarin kameranya. "Mahal sih, tapi hasilnya bagus banget, dan saya pengen banget pake ini."
"Baiklah," dia nyuruh dia duduk lagi. "K1000," gue bisikin ke dia, "Pilihan yang bagus."
"Menurut lo gitu? Gue gak terlalu tau banyak tentang itu."
"Kamera yang lumayan simpel kok, gampang buat pemula."
"Semoga aja." Kelas selesai, dan pas kita lagi jalan, Gentry nanya, "Lo ngapain abis latihan hari ini?" "Gak ngapa-ngapain sih, mungkin makan malem terus pulang."
"Gedung gue lagi ngadain pesta penyambutan di ruang tamu lantai pertama, temen sekamar gue RA dan dia lumayan seru, mungkin ada bir juga. Kalo lo gak ada kegiatan malem ini, mampir aja."
"Iya, deh, kayaknya seru tuh."