Bab 81
Setelah dia nelan, Garret bilang, "Gue bisa bayar taco gue sendiri," bikin Porter ngakak.
Garret gak bisa ngelak kalo dia emang lagi have fun, ini jauh lebih dari yang pernah dia bayangin, tapi tetep aja, kayak kurang. Dia gak yakin kenapa dia ragu, Porter kan jomblo dan dia baik, apalagi yang Garret mau?
Hape Porter bunyi di meja pas mereka lagi makan dan mereka liat nama Harper, terus dijawab, "Halo, Harp."
"Lo ngapain di Demarcos pas di sini ada makanan dan minuman?" "Gak ada alasan khusus sih."
"Oke deh, Elia di sini nyariin lo." "Suruh dia pulang sana."
"Lo lagi di speaker, bangsat!" Porter denger suara Elia.
Porter ambil hape dari telinga, terus bilang, "Balik lagi bentar," abis itu pergi dari meja. "Harper, kasih hapenya ke dia."
"Demarcos ya?" tanya Elia pas Harper nyerahin hape ke dia. "Lo mau apa, Elia?"
"Ada orang sama lo? Itu kenapa lo nge-ignore gue?"
"Gue pengen banget itu bukan urusan lo, tapi emang bukan. Tolong pergi dari rumah gue, gue gak mau lo ada di sana pas gue balik," terus dia matiin teleponnya.
Narok napas buat nenangin diri, Porter balik lagi, duduk di seberang Garret, "Maaf soal tadi." "Gimana? Aman?"
Porter ngangguk sambil bohong, "Cuma Harper yang nyebelin."
"Kita udah mau selesai nih, kalo lo mau pulang." "Enggak, gue-"
"Gak papa, Porter, ini seru kok, tapi mari kita realistis, walau gimana caranya lo bisa jadi orang yang gue butuhin, tetep aja ada satu masalah besar."
"Apaan tuh?"
"Gue bukan orang yang lo butuhin, Porter, dan gue ngerasa apapun yang lo lakuin ini, bukan soal gue. Lo bisa dapetin siapa aja atau apapun yang lo mau."
"Garret-"
"Enggak, gue bilang ke lo, lo gak perlu buktiin ke diri lo sendiri kalo lo bisa dapetin gue, walau ini terjadi tanpa gue bilang yang sebenarnya, gue tetep bakal curiga. Lo, Porter Jackson, bisa dapetin siapa aja yang lo mau, gak bakal masuk akal kenapa harus gue."
—
Pas orang tua mereka lagi di bawah gak denger berisik, Harper lagi di kamarnya nge-blast musik, sesuatu yang dia tau bikin Garret kesel. Gak bisa fokus ngerjain PR-nya, Garret berdiri dari mejanya, udah cukup.
Buka pintunya, dia nyebrang lorong ke kamar adiknya, terus ngetok pintunya, "Harper!" Dia manggil dan adiknya gak ngehirauin dia, dia ngetok beberapa kali lagi, terus mutusin buat masuk aja.
"Woi!" Dia loncat dari kasurnya, "Keluar dari kamar gue."
Jalan ke speaker, Garret matiin musiknya, "Masalah lo apa sih?!" Dia bentak. "Lo tau itu bikin gue emosi."
"Pergi sana!" Dia dorong dia sampe ke pintu, "Jangan pernah sentuh barang gue lagi! Dan selagi lo di sini, jauhin Porter!" Dia banting pintu di depan mukanya.
Ngerasa apa yang dia lakuin gak sopan, Garret teriak, "Porter bukan punya lo, kampret! Gue bisa ngobrol sama dia kalo gue mau! Bukan salah gue dia gak cinta sama lo!" Dia jalan ke kamarnya terus mau nutup pintu, tapi Harper buka pintunya.
"Lo barusan ngomong apa?" Dia natap dia tajam.
"Udah jelas banget, Harp, lo cinta sama sahabat cowok lo yang gay itu." "Bacot."
"Sanggah aja coba! Maksudnya, siapa sih yang overprotektif sama orang yang gak bisa mereka milikin?"
"Oh ya, karena dia gak mau sama lo, gue jelas cinta sama dia juga? Sadar diri deh, dia gak mau sama lo, Garret, jadi move on!"
"Kenapa sih lo gak biarin gue nyadar?! Apaan sih yang lo lindungin?"
"Ilusi lo, goblok!" Dia teriak. "Porter gak mau sama lo, masukin ke otak lo!" "Iya, karena dia mau sama lo, lo keliatan memelas banget, Harper! Dia gay!"
"GUE GAK MAU SAMA DIA!" Dia bentak sambil jalan mendekat. "Gak semua orang kayak lo."
"Woi, ada apa nih?" Ibu mereka jalan naik tangga, diikuti Ayah mereka. "Kenapa teriak-teriak?" "Gak ada apa-apa," Harper menyangkal.
"Enggak, ada sesuatu," kata Garret, "karena Harper gue buang-buang waktu bertahun-tahun nyangkal sesuatu yang harusnya gue dapetin, jadi gue mau dia bilang kenapa?"
Garret natap adiknya. "Kenapa sih lo gak biarin gue bilang yang sebenarnya ke Porter?" "Sebenarnya?" Elaine natap anak-anaknya bergantian. "Kenyataannya apa?"
"Garret suka sama Porter, sayang," jawab suaminya.
"Beneran?" Dia natap Garret. "Lo suka?"
"Gak penting, anjir!" Harper cekikikan. "Porter gak mau sama dia."
"Emang itu keputusan lo?" Garret nanya. "Maksudnya, sejak lo mikirin dia."
"Harper, itu bukan urusan lo buat mutusin buat Porter, kalo mereka suka sama satu sama lain, seharusnya mereka yang nyelesainnya."
"Dia gak-" sadar mereka semua kayaknya gak setuju sama dia, Harper bilang, "Lo tau gak sih? Lakuin aja apa yang lo mau," dia pergi, ngurung diri di kamarnya.
"Lo oke?" Craig nanya.
"Gue baik-baik aja," Garret senyum. "Gue harus selesaiin PR gue jadi..." dia pergi juga, nutup pintunya, ninggalin Craig dan Elaine di lorong kebingungan.
"Kok lo tau Garret suka Porter?" "Dia bilang, mereka bahkan ciuman."
"Apaan!" Mereka pergi. "Ceritain semuanya."
Mengahabiskan beberapa hari berikutnya gak ngomong sama adiknya dan ngindarin Porter, Garret ngerasa kayak balik lagi ke titik nol. Semua kerja keras yang dia lakuin buat baik-baik aja sama Porter dan berusaha move on dari dia, dia bersikap kayak orang lagi kasmaran lagi.
Pas makan siang, dia jalan ke ruang A/V berharap nemuin temen-temennya, tapi kosong, ngambil hapenya, dia nelpon Reggie. "Woi," dia jawab.
"Woi, kalian di mana? Gue di ruangannya."
"Alexis sama gue udah mutusin buat makan siang di kantin hari ini.""Kenapa? Kita udah setuju-"
"Enggak, lo yang setuju dan kita ikutin aja, tapi ini hari Kamis tater tot, man! Jangan bikin kita gak bisa nikmatin tater tots!"
"Lo udah makan mereka, kan?"
"Gar, gue gak bisa nolak rasa kentang yang enak itu." Menghela napas. "Terserah."
"Dateng ke kantin! Apa sih yang paling parah bisa terjadi?" Jawaban dari pertanyaan itu adalah gak pernah bagus.