Bab 45
"Awalnya, tapi setelah beberapa saat, lo mulai menikmati rasa sakitnya," setelah mendengar dirinya sendiri, Shia terkekeh, "kedengarannya sangat sadis."
"Tapi gue ngerti maksud lo." Ryder terus terpaku pada cowok bertelanjang dada yang berdiri di depannya, "seni lo itu luar biasa," matanya akhirnya bertemu Shia lagi.
"Menurut lo gitu?" Shia sangat ragu untuk berbagi seninya, tapi Ryder bukan sembarang orang dan dia siap untuk cowok itu tahu itu. "Gue emang nggak jago bagiin sisi diri gue yang ini ke orang-orang, tapi gue bener-bener senang gue bisa, dan gue senang itu lo."
"Apa lo yakin nggak mau orang lain aja?" Ryder nggak bisa menahan diri untuk merasa nggak aman terutama tentang apa yang sedang terjadi. Shia Yorkton mungkin bisa mendapatkan cowok mana pun, Ryder nggak pernah mengira dia beruntung, jadi kenapa sih Shia mau sama dia?
"Nggak mungkin orang lain,"
"Kenapa nggak bisa?" Ryder bertanya penasaran dengan jawaban Shia.
Shia nggak menjawab, malah dia mendekat sampai dia menempel pada Ryder, dengan tangannya meraba-raba pinggang Ryder, Shia mencondongkan tubuh ke telinganya menanamkan ciuman lembut lalu berkata, "karena nggak ada yang bisa dibandingkan sama lo, Ryder Andrews."
Terbengong-bengong dengan jawaban seperti itu, Ryder hanya menerima bibir Shia dan mereka berbagi ciuman yang memukau lainnya, yang menarik mereka dari pintu dan mengikuti jejak mereka sampai ke ranjang Ryder.
Setiap langkah yang salah arah membawa cowok-cowok itu ke sesuatu yang nggak mereka duga akan terjadi, Ryder nggak menyangka Shia akan berada di antara kakinya sekarang, menghujani lehernya dengan ciuman. Shia menginginkan Ryder, dia tahu sebanyak itu, tapi berpikir Ryder akan pernah menginginkannya kembali terasa seperti pukulan jauh. Dia nggak pernah repot-repot mencoba untuk apa pun, tapi Ryder bukan apa pun, dan Shia tahu nggak peduli apa yang dibutuhkan, semua ini akan sepadan.
Tapi apa ini terlalu banyak, terlalu cepat? Shia juga tahu rasanya mendapatkan terlalu banyak sesuatu yang lo inginkan, dia nggak mau mengambil apa pun dari Ryder, setidaknya belum. Jika mereka melanjutkan seperti ini, dengan erangan lembut Ryder ke bibirnya membuat celananya semakin ketat, Shia nggak bisa melihat dengan jelas, dia begitu dekat dengan kehilangan dirinya di Ryder. Itu jelas terlalu cepat. Tiba-tiba menarik diri, Shia bergerak dari antara kaki cowok itu meninggalkan Ryder kebingungan, "lo baik-baik aja?" Dia bertanya sambil duduk juga. Shia mengangguk bergerak ke sisi lain ranjang untuk memunggungi Ryder, "lo itu sangat imut" dia berbalik ke Ryder sambil tersenyum, "gue nggak nyangka gue bisa menghentikan diri gue."
"Kenapa lo mau berhenti?"
"Gue nggak mau berhenti" Shia menjawab jujur, "gue cuma mau lo terlalu banyak... tapi gue juga mau lebih dari sekadar ini dari lo." Dia berbalik memunggungi Ryder lagi berharap itu akan menenangkan semua darah di tubuhnya dari mengalir ke tempat yang salah.
"Lo bisa dapat apa pun yang lo mau Shia," Ryder dengan malu-malu berkata pelan, dia nggak bisa melihat betapa lebarnya senyum mengatakan itu di wajah Shia.
Membersihkan tenggorokannya agar nggak terlihat terlalu terpengaruh oleh kata-kata Ryder, Shia berdiri meninggalkan Ryder di ranjang saat dia berjalan menuju kausnya mengambilnya dari lantai. Setelah memakainya lagi, Shia berjalan ke ranjang duduk di depan Ryder.
Mempelajari wajah cowok itu, Shia mencoba yang terbaik untuk nggak menciumnya lagi, "jadi kapan lo tahu?" Dia bertanya sebagai gantinya "gimana perasaan lo tentang gue"
"Oh Um" Ryder tersenyum mencoba mengingat kembali. Detik dia tahu jawabannya, dia bertemu mata Shia, "beberapa minggu lalu waktu lo pergi nemuin Evan bareng gue"
"Itu aja?" Shia bertanya sambil terkekeh, "bisakah kita lakukan di lain waktu?" Menggelengkan kepalanya Ryder menyangkal, "nggak gue pilih yang itu"
"Kenapa?"
"Karena selain teman sekamar gue, lo satu-satunya orang yang tahu tentang kakak gue, nggak ada seorang pun dalam hidup gue yang bertahan karena Evan. Gue takut ngasih tahu lo dan kehilangan lo juga, tapi lo menawarkan diri untuk pergi menemuinya bareng gue. Setelah dia dan gue berantem, lo menggenggam tangan gue selama perjalanan pulang dan bilang setidaknya gue udah mencoba, bahwa meskipun sulit, gue nggak pernah menyerah padanya dan itulah yang paling penting. Gue udah ngerasain sesuatu berkali-kali sebelumnya tapi saat itulah gue yakin."
"Yakin tentang apa?"
"Gue yakin itu lo, lo adalah orangnya"
"Gue?" Shia bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri, "apa lo yakin tentang itu?"
Mengangguk saat dia merangkak lebih dekat ke cowok itu, Ryder berhenti ketika wajahnya hanya beberapa inci dari Shia, "gue nggak pernah lebih yakin" tatapannya jatuh ke bibir Shia
Dan Shia menghela nafas "sial," tahu dia nggak bisa menghentikan Ryder atau dirinya sendiri dari Ryder yang menciumnya lagi.
Menarik bibir bawah Shia Ryder mulai menungganginya saat ciuman mereka semakin intens, merasakan jari-jari Shia meraba-raba kausnya Ryder mengerang menjatuhkan dirinya ke Shia sepenuhnya. Dengan semuanya menempel satu sama lain, Ryder merasakan sesuatu menyebabkannya menarik bibirnya, dengan mulutnya masih terbuka, Shia membuka matanya untuk menemukan Ryder menatap dengan seringai, "gue nggak membantu ya?"
Shia menggelengkan kepalanya "nggak, lo nggak membantu," dia membalikkan badan berada di atas sekarang menjepit Ryder ke sprei, "tapi karena gue yang ada di sini nggak ada gunanya menunggu kan?"
Ryder terkekeh "gue bakal menyesal ngasih tahu lo itu"
"Mungkin saja," Shia tersenyum turun untuk terus mencium cowok itu.
—
"Gue pikir kita udah ngomongin lo gambar gue pas gue tidur," kata Ryder dengan mata tertutup mendengar suara pensil Shia saat dia menggambar di sebelahnya.
"Gue nggak tahu apa yang lo bicarakan," Shia diam-diam menutup buku sketsanya meletakkannya, bergerak mendekat dia menarik Ryder ke arahnya menanamkan ciuman di wajahnya. "Gue nggak bisa menahannya lo kelihatan sangat imut saat lo tidur"
Akhirnya membuka matanya dengan senyum Ryder menggerakkan kepalanya sampai bibirnya bisa mencapai bibir Shia, setelah berbagi ciuman dia menarik diri. "Selamat pagi"
"Hai" jawab Shia saat jari-jarinya membelai pipi cowok itu, "tidur nyenyak?" Ryder mengangguk, "lo?"
"Nggak mungkin gue tidur mengetahui lo di samping gue tanpa celana" jawab Shia
membua Ryder tertawa, "tapi gue nyoba."