Bab 7
"Gimana, lo?"
"Gue..." dia menggantung, lalu menjawab, "Ya lumayanlah, kayaknya. Daniel lagi nonton tv, lo bisa nyusul dia,"
Jasper mengangguk, "Makasih." Karena udah akrab sama rumah gede itu, Jasper langsung menuju ruang keluarga Atkinson buat nemuin Daniel lagi selonjoran di sofa, matanya terpaku ke layar tv gede di depannya. Berdiri di pintu masuk, Jasper berdeham buat minta perhatian Daniel
Pas nengok, Daniel ngeliat Jasper dan langsung berubah suasananya, "Eh, lo ngapain di sini?" "Mau nyelametin lo," jawab Jasper
"Oh, gue perlu diselamatin?" Jasper ngangguk dan Daniel balik lagi ke tv, tapi ada sesuatu yang ngehantam dia dan dia nengok lagi ke Jasper, berdiri Daniel nge-scan cowok itu dari ujung kaki sampe kepala trus nanya, "lo udah buka behelnya?" Jasper ngangguk, "Gimana rasanya?"
Natap kakinya sendiri, dia jawab, "Kayak nggak punya anggota badan, gue udah lumayan biasa sih"
Mereka saling natap beberapa detik dan Daniel senyum, "Sini," dia manggil cowok itu
Masuk kamar, Jasper jalan ke arah Daniel berhenti pas udah deket, "Kenapa?" Dia nanya sambil nunggu
"Nggak ada, cuma mau liat lo ngesot," Daniel nyengir sambil duduk lagi
"Anjing lo," jawab Jasper sambil cekikikan. Dia nyusul duduk di sofa dan beberapa detik kemudian dia nanya, "Mau pergi nggak?"
"Kemana?"
"Nggak bakal gue kasih tau sebelum lo setuju,"
"Gimana gue mau setuju sama sesuatu yang nggak gue tau?"
"Percaya, lo percaya sama gue?" Pertanyaan simpel dan Daniel bahkan nggak perlu mikir panjang buat jawab, dia ngangguk dan Jasper lanjut, "Kalo gitu setuju buat keluar sama gue."
Mikir sebentar, Daniel nyerah, "Oke. Kita mau kemana?" "Pesta di rumah Cherish Peterson,"
Daniel menggerutu, "Nggak, Jasper, gue nggak mau ke pesta, apalagi ke rumah cewek itu. Cherish benci gue" "Nggak, dia nggak benci,"
"Gue kenal dia lebih lama dari lo, oke, Cherish nggak pernah suka gue."
"Kenapa emangnya?"
Harus jujur nggak ya? Nggak ada alasan buat bohong, apalagi ke Jasper, "Gue pernah pacaran sama temennya dia yang sekolahnya beda, semuanya berakhir jelek di antara kita, dan Cherish benci gue sejak saat itu." Daniel benci ngomongin masa lalunya, nggak pernah bikin dia keliatan bagus, "dan lagi pula semua orang di Everton udah benci gue, jadi buat apa gue ke pesta yang gue nggak diinginkan?"
"Karena gue ada di sana," jawab Jasper, "dan gue mau lo ada di sana. Gue nggak bakal biarin apa pun terjadi sama lo Daniel, lo harusnya udah tau itu sekarang."
Jasper udah ngebuktiin berulang kali dia bakal lindungin Daniel, dan sebagai seseorang yang nggak pernah bener-bener punya itu, Daniel nggak yakin apa artinya.
"Lagian lo udah setuju kan buat pergi jadi lo nggak bisa berubah pikiran sekarang," "Gue nggak tau, Jasper."
"Oke," Jasper ngangguk, "Gue nggak akan maksa lo, Sav sama Pete udah di sana nunggu gue jadi gue mau pergi." Daniel ngeliatin ekspresi kecewa di wajah Jasper pas dia berdiri dari sofa, "Gue ngomong sama lo nanti," dia bilang sebelum menuju pintu.
Mendesah Daniel berdiri, "Tunggu," dia nahan Jasper yang nengok lagi, "Kasih gue 20 menit, gue siap-siap." "Yakin nih?"
Daniel ngangguk, "Gue udah bisa liat lo mondar-mandir di pesta itu dengan muka cemberut karena gue, gue nggak bisa biarin itu ada di hati nurani gue."
Jasper nyengir, "Baik banget... sekarang buruan soalnya lo yang nyetir," Mereka berdua keluar dari ruang keluarga dan Daniel pergi buat siap-siap.
Mereka nyetir ke rumah Cherish pake g-wagon-nya dan pas udah sampe Jasper yang pertama keluar dari mobil, Daniel yang nggak mau keluar cuma diem aja pas Jasper jalan ke arah rumah. Nengok ke belakang dia liat Daniel masih diem di tempat dan balik lagi ke arahnya, "Nggak nyangka lo takut,"
"Gue nggak takut, cuma nggak mau berurusan sama siapa pun" "Gimana sama gue? Lo mau berurusan sama gue nggak?"
"Lo beda Jasper, lo tau itu," Jasper senyum pas mereka saling pandang
Jalan lebih deket Jasper meraih dan ngegenggam tangannya, "Satu-satunya orang yang harus lo urus di dalem itu gue," Kekhawatiran Daniel pelan-pelan menghilang pas Jasper ngegenggam tangannya. Dia jadi luluh dan itu semua karena Jasper. "Siapa pun yang mau ngomong sesuatu ke lo harus ngomong sama gue dulu, oke?" Daniel ngeliat ke tangannya yang digenggam Jasper, nengok lagi ke cowok itu dia ngangguk bikin Jasper senyum, "oke, jadi ayo." Dia lepasin genggaman tangan Daniel dan jalan, Daniel pengen dia nggak ngelakuin itu.
Begitu mereka udah di dalem bareng-bareng ngeliatin sekeliling rumah yang penuh orang, beberapa dari mereka udah mandangin Daniel. Nggak peduli sama mereka, Jasper bilang, "Ayo cari temen-temen gue"
"Lo duluan aja, gue ambilin minuman,"
"Yakin nih?" Jasper nggak mau ninggalin dia sendirian
"Gue nggak akan mati sendirian lima menit tanpa lo... maksudnya gue mungkin aja," Jasper cekikikan sambil ngeliatin dia jalan pergi. Dia tau Daniel bisa jaga diri.
Nemu temen-temennya lagi pada joget, Jasper nyusul mereka dan Savannah ngeliat dia duluan, "JASPER AKHIRNYA!! SINI LO!" Dia narik Jasper dan mulai loncat-loncat lagi ngikutin musik
"KENAPA LO TERIAK-TERIAK?!" Dia balik teriak
"Dia mabok," jawab Pete, "dan gue nggak bisa joget lagi jadi lo temenin dia... Gue mau duduk," dia ninggalin mereka di lantai dansa
"Kok lo udah mabok aja sih?"
"Cuma itu cara gue ngadepin Cherish, mana pacar lo?" "Jangan panggil dia gitu," Jasper mendesah, "dan dia di sini"
"Bagus deh lo bisa ngajak dia keluar rumah setelah seminggu,"
Balik lagi ke temen-temennya, Pete bilang, "JJ udah ngepojokin Daniel di dapur"
"Oh sial," Jasper langsung lari. Beberapa orang ngerubungin pintu masuk dapur ngeliatin JJ nahan Daniel di kulkas ngejek dia. Menerobos mereka dia masuk dan denger JJ nanya "Coba kasih tau gue kenapa gue nggak boleh ngehancurin lo sekarang juga?" Daniel nggak ngomong apa-apa keliatannya nggak goyah
"Eja," JJ denger di belakangnya dan nengok nemuin Jasper, "soalnya lo kan seorang sarjana yang bisa pake kata-kata gede, eja kata hancurkan—"
"Minggat lo, Jasper!" Dia membentak cowok itu
"Nggak bisa kan Jaylen Jones?" Jasper nanya sambil nyengir