Bab 107
Trevor pt. 2
Dia nggak berhenti, kenapa dia nggak berhenti sih? Trevor terus nyium gue dan gue pengen nikmatin, tapi ada yang nggak enak. Dia nggak nyium gue kayak orang yang pengen. Akhirnya sadar, gue coba dorong dia, tapi dia nggak mau, dia malah ngelawan, bibirnya masih nempel di bibir gue.
Mendorong dia, "Apaan sih, Trevor?" Gue ngusap bibir.
Napasnya pelan, "Kenapa? Ini kan yang lo mau, kan?" Dia maju lagi, mau nyium gue lagi. "Nggak, bukan!" Gue ngejauh dari dia. Dia natap gue, tapi bukannya tatapan marah, dia malah natap gue kecewa, yang lebih sakit daripada dia marah. "Trev, gue minta maaf." "Jangan, Silas, jangan aja," dia pergi.
Kalau gue biarin dia pergi, tamat deh urusan kita. "Trevor, tunggu!" Gue ngejar dia keluar, dia ngejambak kunci dari sakunya. "Gue nggak bermaksud..."
"Lo nggak bermaksud apa, Silas? Nyium gue?" Dia noleh, ngegerutu marah, malu banget, gue nggak jawab. "Udah berapa lama kita temenan?"
"Lama..."
"Dan gue selalu terima lo apa adanya, kan?!" Gue ngangguk, dia ngegas gue, "Jadi kenapa lo lakuin ini ke gue?"
"Trev, gue nggak bermaksud," gue coba deketin dan ngejelasin, tapi dia malah mundur, ngejauh dari gue.
Gue nonton dengan ngeri, dia ngangkat tangan, ngomong, "Stop! Berhenti bilang lo minta maaf! Lo lakuin dan lo emang mau! Jangan bilang lo minta maaf. Sumpah, apa yang lo harapkan, Sy? Gue tiba-tiba jadi 'gay' juga?" Nggak mau natap, air mata mulai ngumpul di mata, gue coba nggak nangis. Menerobos ruang pribadi gue, dia nyamperin gue dan teriak, "LO MAU GUE JADI GAY?! Itu yang lo pikir bakal terjadi?" Dia ngejek pas liat air mata ngalir di pipi gue, "Iya... nangis aja, Silas."
"Trevor, gue minta maaf," gue ngusap mata.
Kita berdua berdiri di depan rumah gue pas dia ngegas gue, pas kita denger pintu depan Paris kebuka dan dia keluar, pas banget deh. "Trevor?
Ada apa nih?" Dia nyamperin kita.
"Paris, sahabat gue ini nyebut lo sampah karena dia nggak mau gue pacaran sama lo, Silas yang egois mau gue cuma buat dia," pantas banget gue digituin. Paris natap gue, air mata nggak terkendali terus ngalir.
"Apa yang terjadi?" Dia nanya.
"Dia nyium gue," Trevor ketawa seolah-olah cuma denger kata-kata itu aja udah lucu banget, "dan gue nggak ngerti kenapa lo lakuin itu!"
"Trevor, gue..." dia ngulurin tangan kirinya pas gue mau ngomong, permintaan maaf gue nyangkut di tenggorokan. "Stop," dia ngehentiin gue, natap gue tajam.
"Trevor, mungkin lo harus biarin dia ngejelasin," kata Paris, berusaha bantu.
"Mungkin lo nggak usah ikut campur," dia ngejawab Paris. "Silas, lo ngerti nggak apa yang udah lo lakuin?" Dia noleh ke gue, gue takut ngomong.
"Ngangguk kek apa kek!" Gue ngangguk. "Bagus. Jadi lo ngerti kalau lo ngerusak persahabatan karena apa? Susah banget ya buat lo punya persahabatan biasa sama cowok? Lo munafik banget. Lo yang selalu bilang cowok sama cewek nggak bisa cuma temenan kalau salah satunya nggak gay, dan lihat siapa yang ngelakuin sekarang! Si gay." Setelah dia ngoceh, kita semua diem, dia cuma natap gue kecewa dan itu bikin hati gue sakit banget. "Ya Tuhan, gue nggak bisa lihat lo, Sy..." itu kata-kata terakhirnya.
Gue sama Paris nonton dia masuk mobilnya, setelah gebukin setir beberapa kali, dia nyalain mobilnya dan ngebut, hampir ninggalin bekas ban.
Paris natap gue, mata gue nempel di lantai. "Silas, gue minta maaf banget."
Sambil nangis, gue natap dia, berusaha nahan sisa air mata gue. "Nggak, gue uh... gue yang harus minta maaf sama lo, apa yang gue bilang kemarin nggak adil dan gue minta maaf. Maaf, lo harus lihat itu." Berpaling, gue jalan ke pintu rumah.
"Dia nggak bermaksud," katanya pas gue naik tangga, terus gue noleh ke dia, "Trevor sayang sama lo, dia cuma sakit hati."
—
"Apa yang lo mau terjadi?" Ibu ngusap rambut gue pas gue nangis di pangkuannya.
"Gue nggak tahu, gue nggak nyangka dia bakal sejahat itu," gue nangis. "Kayak dia lupa kita temenan, dia cuma teriak-teriak dan Paris... ya Tuhan, Paris," gue terus sesegukan.
"Gimana Paris?"
"Dia keluar dan dia bilang apa yang gue lakuin, terus ngatain gue egois."
"Maaf ya sayang, gue tahu ini bukan yang lo mau, tapi semua terjadi karena suatu alasan, kasih dia waktu beberapa hari ya? Trevor sayang sama lo."
"Gue bosen denger itu! Kalau dia sayang gue, kenapa dia nyakitin gue?"
"Gue nggak tahu, mungkin dia juga sakit hati, Sy." Dia pasti sakit hati, Trevor nggak pernah ngomong sama gue kayak gitu hari ini, bahkan pas kita berantem.
Dia natap gue kayak orang yang nusuk dia dari belakang. "Lo mau ngapain?" "Bunuh diri," gue menghela napas, duduk.
"Itu nggak lucu, Silas!"
"Gue cuma bercanda, Bu," sambil meluk lutut, gue natap ke kejauhan. "Gue bakal hindari dia dan selamanya benci diri gue sendiri karena apa yang udah gue lakuin."
Dengan tidur cuma 2 jam, gue rebahan di kasur Senin pagi, takut buat keluar. "Hei," Ibu masuk, udah dandan. "Gimana perasaan lo?"
"Kayak tumpukan tai kuda," dia ngejek. "Ayo dong, gue bikin sarapan."
Nutup diri, gue abaikan tangannya yang mau narik gue buat bangun. "Cuma butuh 5 menit lagi."
"Baiklah," gue denger dia pergi dan gue buka selimut. Gimana gue harus sekolah? Setengah kelas gue sama Trevor dan kalau lo kenal dia, dia bakal bolos kelas yang ada gue atau cuma bakal ngacangin gue sampai salah satu dari kita mati. Ngambil HP, gue natap layar kosong dengan harapan palsu, seolah dia bakal nge-chat gue. Beberapa menit berlalu dan Ibu balik lagi. "Sy, lo harus bangun, Nak."