Bab 185
Dia narik gue deket banget, sampe badan kita hampir nempel. "Sekarang apa?" tanya gue sambil bisik di telinganya.
"Dansa sama gue," dia ambil minuman gue dan narik gue ke lantai dansa. Badan kita mulai bergerak mengikuti musik, dan semua orang begitu deket, gue kesenggol Spencer, tapi dia gak berhenti. Dia meluk pinggang gue dan terus dansa, gue usahain buat gak panik. Cowok yang udah gue taksir berbulan-bulan dansa sama gue di kelab, dan gue gak bisa nanggepinnya dengan baik. Ini kesempatan, dan gue mau ambil, jadi gue cium dia.
Dia tarik mukanya ke muka gue, gue cium dia tanpa mikir. Lidah kita berputar, kaki kita bergerak seiring musik. Ini rasanya surga, rasa bibir Spencer dan sensasi badannya nempel sama gue, kita gak menjauh satu sama lain, dan gue gak peduli siapa yang liat.
Tangannya mulai menjelajah seluruh tubuh gue, rasanya enak banget. "Gue mau lo," gue bisik di telinganya, bikin dia ketawa, gue salting, biasanya gue gak gini, tapi gue gak bisa nahan diri, dia hot banget, dan momennya sempurna, gue harus...
"Di sini sekarang?" dia nanya sambil senyum. "Gak, bego," kita ketawa. "Maksud gue..."
"Gue juga mau lo," katanya, terus nyium gue lagi. Gue usap rambutnya, dan tangannya mulai turun ke bokong gue, dia gosok pelan. "Ayo," dia narik tangan gue, bawa gue ke kamar mandi paling jorok yang pernah gue liat. Dia dorong gue ke tembok, nyerang bibir gue, nyium gue.
"Kita di kamar mandi kelab," akhirnya gue bisa ngomong saat dia nyium gue.
"Gue tau gak ideal, tapi gue gak bisa nahan," dia bekap tangan gue ke tembok. "Gue mau lo sekarang." Perubahan sikap Spencer, matanya berubah dari berbinar jadi nafsu. Dia mau gue, dan gue juga mau dia.
"Ambil gue," jawab gue, pasrah. Dia senyum, dan gue mulai buka celananya, nuruninnya. Gue keluarin kontolnya yang keras banget, terus jongkok di depannya, gue telan semuanya di mulut gue. Gak pake basa-basi, gue lilitin bibir gue di alat kelaminnya.
"Sialan, rasanya enak banget," katanya sambil usap rambut gue. Dia angkat gue dan nyium gue. "Gue gak mau lakuin ini di sini," dia kancingin celananya. "Gue tinggal deket sini, ayo," kita lari ke mobilnya, dan dia langsung ngebut. Ketegangan terasa banget selama perjalanan, gue usap dia pelan di atas jeansnya, bikin dia mengerang pelan. "Lo bakal bikin gue pecah," dia genggam pergelangan tangan gue.
Kita ketawa. Kita sampe di tempatnya, dia buka pintu, biarin gue masuk, tempatnya gede banget. "Tempat yang bagus," kata gue saat dia berdiri di belakang gue dan lepas jaket gue, dia cium leher gue. "Mau kasih gue tur atau gimana?"
"Atau gimana," bisiknya. "Ayo ke kamar gue." Gue ikutin dia di belakang. Dia tarik gue ke kamarnya, tapi kita gak sampe di kasur. Dia senderan ke gue di depan pintu, natap mata gue. "Ini jauh lebih baik, menurut lo?"
"Banget." Gue maju dan cium dia. Kita robek pakaian masing-masing. Kita berhenti ngomong dan langsung ke lantai, gue merangkak, Spencer di belakang gue. Dia masuk pelan-pelan sambil bersandar di punggung gue. "Oh sial," seru gue.
"Maaf," dia minta maaf.
"Gak usah minta maaf, rasanya enak," dia naikin tempo, gak mau ketinggalan. Tangannya di pinggang gue saat gue melengkungkan punggung, kasih dia akses penuh ke gue. Gue mengerang lebih keras dan lebih keras, kasih tau dia betapa enaknya ini.
"Balik badan," dengan senang hati gue lakuin, gue telentang, dia maju, nyium gue saat kontolnya masuk lagi ke gue. Kening kita bersentuhan saat kita mengerang karena rasanya enak banget. "Gue mau keluar," bisiknya.
"Lakuin," jawab gue, dan dia menembak gue lebih cepat. "Mmmm sial iyaaaa," gue mengerang.
"Sialan!" dia teriak, lalu nyemprotin isinya ke gue. "Ya Tuhan, rasanya enak!" Dia jatuh di atas gue, gue ketawa. "Gue gak percaya gue di lantai kamar lo."
Dia liat gue sambil senyum. "Gak susah buat percaya." Gue kasih tatapan ragu. "Gue juga temenan sama Kim."
Gue kaget banget.