Bab 82
Karena dia pengen kentang goreng, Garret jalan ke kantin, tapi sebelum dia masuk, dia liat sekeliling ruangan dan gak nemuin Porter di mana pun. Tapi, dia liat adiknya, tapi adiknya gak bisa ngelarang dia jadi dia masuk aja. Sejauh ini aman, sekarang yang perlu dia lakuin cuma nyampe ke meja temen-temennya, "Garret?" Dia ngerasain tangan di bahunya. Garret nunduk kecewa sama diri sendiri, terus noleh, "Hai, Porter," dia berusaha bersikap biasa aja.
"Hai, Garret," jawabnya dengan nada pasif-agresif, Porter menghela napas terus bilang, "Gue udah kasih lo waktu lima hari penuh, dan gue gak yakin apa yang udah gue lakuin, tapi gue cuma perlu lo jawab satu hal." Garret nunggu. "Kenapa lo yakin banget gue gak punya perasaan beneran sama lo? Kalo gue cuma lakuin ini buat ngebuktiin sesuatu ke diri sendiri?"
Mikirin jawaban yang jelas, Garret jawab, "Karena lo gak bilang, lo gak buka mulut buat beneran bilang gue suka sama lo, Garret."
"Gue udah bilang kok."
"Enggak, belum, setidaknya ke gue." "Oke, terus gue su-"
"Enggak, berhenti," Garret memotongnya, "Ngomong gitu karena gue butuh lo, itu bukan cara yang bener. Dan kalo lo beneran, gue pengen lo nunjukin ke gue." "Gimana caranya?"
Garret mengangkat bahu, "Gak tau."
"Terus gimana kalo lo dateng ke pesta gue?" Porter nanya. "Pesta lagi?" Dia ngangguk. "Gak mikir kebanyakan?" "Gak ada kata kebanyakan buat pesta, Garret."
"Kapan pestanya?"
"Besok malem jam delapan."
Garret mikir-mikir dan tau dia seharusnya bilang enggak, "Gue gak bisa." "Kenapa enggak, Garret?"
"Karena temen-temen gue gak diundang."
"Siapa bilang mereka gak diundang? Semua diundang kok." "Itu gak bener," Garret ngegeleng.
"Iya, bener. Gue gak pernah gak ngundang semua orang ke pesta gue."
"Enggak, orang yang dateng itu yang diundang, yang lain tau mereka gak diundang karena temen-temen lo, termasuk adik gue."
"Gimana bisa itu salah gue?"
"Lo gak ngerti," Garret pergi.
Porter megang tangannya, ngehentiin dia, "Oke, gue gak ngerti, gue kasih tau tentang pesta dan itu undangan terbuka."
"Tapi sebenernya enggak," sambil noleh ke seluruh kantin, Garret bilang ke Porter, "Sekitar enam puluh persen dari sekolah ini percaya mereka gak bakal diinginkan di pesta yang lo atau orang populer lain adain. Pesta lo yang terakhir, yang cuma sekali gue dateng, gue harus mohon-mohon sama Harper biar boleh dateng. Lo gak peduli karena lo milih buat gak peduli, Porter, tapi orang-orang ini gak diinginkan."
"Lo mau gue ngapain, Garret?" Porter ngeliatin dia. "Lo beneran pengen gue ada di sana?" Mereka saling pandang, Porter ngangguk, "Iya."
"Oke, kalau gitu undang yang lain."
Dia cekikikan, "Hah? Gue gak bisa bikin semua orang dateng ke pesta gue."
"Gue gak nyuruh lo bikin mereka dateng, tentu aja mereka gak semua bakal dateng, cuma undang mereka." "Gimana caranya gue harus ngelakuin itu?" Porter senyum, mikir ide itu gila.
"Lo bakal nemuin caranya."
Mereka berdiri di sana dan Porter natap ruangan yang penuh orang, tau ini semua yang harus dia lakuin buat ngebuktiin ke Garret kalo dia serius, Porter pergi tanpa ngomong apa-apa lagi.
Garret ngeliatin dia pas dia nyampe meja pertama, "Hei, guys, maaf ganggu makan kalian, um, nama gue Porter dan gue cuma mau ngasih tau kalian kalo gue ngadain pesta besok malem. Jam delapan, alamatnya 360 Ferris Rd, bakal seru kalo kalian bisa dateng." Dia pergi, jalan ke meja selanjutnya terus noleh ke Garret pas dia mulai lagi, mereka senyum satu sama lain dan Porter lanjut.