Bab 109
"Berhenti minta maaf, Silas," katanya sambil masuk ke mobil. Gue perhatiin dia pasang sabuk pengaman dan nyalain mobil, dan sebelum dia pergi, dia noleh ke gue dengan muka sedih terus cabut.
Pas Ibu akhirnya muncul, gue masuk ke mobil. "Dia ngomong sama gue, Bu." "Apa yang terjadi?" Dia ngegas mobil.
"Yah, gue ngikutin dia ke mobilnya terus minta maaf, dan dia nyuruh gue berhenti minta maaf," "Cuma itu?" Gue ngangguk. "Gimana, kan udah mau kasih dia waktu?"
"Bu, kalau gue kasih dia waktu, dia gak bakal balik lagi ke gue. Dia bakal terus-terusan kesel sama gue sampai kita lulus, dan gak pernah ngomong lagi satu sama lain."
Terus 10 tahun dari sekarang kita bakal ketemu dan pura-pura gak saling kenal. Gue gak mau kayak gitu, gue gak mau jadi orang asing buat dia.
—
"Dia gak mau angkat telepon atau balas chat gue."
"Gue juga," Paris ngejawab dari berandanya pas gue berdiri di beranda gue.
"Makasih banyak udah bantu, Paris, tapi udah seminggu dan gak ada apa-apa. Dia malah ngacangin dan gak peduli sama gue, setidaknya dia ngomong sama lo kalau bukan tentang gue." Gue gak tau harus gimana lagi. Trevor pelan-pelan menjauh dari gue dan rasanya gue yang ngebiarin.
"Udah coba ke rumahnya?" "Nggak," gue nyibir. "Gue gak bisa nyergap dia."
"Mungkin lo harus kalau ini rasanya kayak kesempatan terakhir lo."
"Mungkin..." Beban penolakan terasa berat di hati gue saat mikirin rencana biar gue dan Trevor bisa ngomong lagi.
Kita berdua masuk ke rumah masing-masing dan gue lihat Ibu lagi di sofa. Duduk di sampingnya, gue sandarin kepala ke bahunya. "Lo sama Paris jadi deket banget, padahal lo benci banget sama dia 2 minggu lalu."
"Gue gak pernah benci dia... banget. Lagian, dia ngerti apa yang gue rasain." "Mau jalan-jalan besok?"
"Mau ngapain?" Gue ngelihat dia.
"Gak tau, apa aja yang bisa bikin lo seneng, udah seminggu ini berat banget." "Oke, kedengarannya bagus."
Udah malem dan gue rebahan telentang natap langit-langit, malam Jumat biasa, kayak gini Trevor pasti ada di kamar gue main video game, atau gue di rumahnya lagi bikin alasan buat orang tua kita biar bisa kabur dan ngelakuin sesuatu yang gak boleh kita lakuin. Gue kangen sahabat terbaik gue dan ini ngebuat gue gila.
12:32 malam
Udah coba ke rumahnya?
Jangan bodoh, Silas, lo gak bisa gitu aja ke sana... tapi kalau gue gak kesana, ya udah, bakal ada seminggu lagi dia benci dan gak peduli sama gue. Duduk, gue matiin pikiran gue dan pakai sepatu, gue bakal lakuin ini.
Nyelundup keluar kamar, gue jalan ngelewatin kamar Ibu, mastiin lampunya mati, ngambil kunci mobilnya, gue lari keluar rumah sambil nahan napas sampai gue pergi.
Sampe sana, gue parkir di depan rumahnya panik. Gue bahkan gak tau mau ngomong apa, tapi gue harus lakuin sesuatu. Keluar dan jalan ke pintu depan, gak yakin harus ngetok karena udah malem banget, atau ngelempar batu ke jendelanya sampai dia mau gak mau ngomong sama gue. Berdiri di sana kayak orang beku, pintu depannya kebuka dan gue lihat kakak perempuannya, "Hai Abby."
"Silas, ada apa?" Dia keluar udah dandan. "Mau keluar?"
"Iya," dia nutup pintu. "Dari mana aja?" "Sana sini, sibuk sama sekolah, lo tau kan?"
"Gue denger... kalau lo nyari Trevor, dia lagi di belakang, minum birnya Ayah. Lo tau ada apa sama dia?" Gue rasa dia gak cerita ke mereka.
"Gue ada sedikit gambaran,"
"Oke deh, apa pun itu, gue yakin lo bisa selesain," Gue gak yakin. "Ngomong-ngomong, kalau lo ketemu orang tua, jangan bilang lihat gue ya," dia pergi dari pintu.
"Oke." Tarik napas dalam-dalam, gue jalan keliling rumah buka gerbang ke halaman belakang, mata gue tertuju ke dia lagi duduk di dek, bir di tangannya. Kepalanya nunduk jadi dia gak lihat gue, tapi gue bisa lihat dia, dan apa yang gue lihat bikin sakit. Gue hancurin Trevor. Gue jalan mendekat, ngitung botol kosong di sampingnya, "8 botol," gue mulai, ngejutin dia dan dia ngelihat ke atas dan lihat gue. "Lo tau, lo itu gak kuat minum kan?" Gue harus mulai dari sesuatu.
Lihat gue, dia mengerang dan minum bir, nutup matanya, dia bilang, "Lo gak beneran di sini, lo cuma ada di pikiran gue," gue berhenti jalan dan dia buka matanya. "Ya Tuhan!" Dia mengerang frustasi dan minum lebih banyak. "Mau apa?" Dia nanya setelah menjauhkan botol dari bibirnya.
Jujur, Silas. "Lo," gue jawab. "Gue mau sahabat terbaik gue balik." "Sini, gue kasih apa yang lo mau beneran," dia mabuk. "Gue tau lo gak maksud kayak gitu."
"Terus lo mau apa dari gue, Silas?"
"Gue gak tau! Marahin gue! Panggil gue nama-nama jelek! Pukul gue kalau perlu!" Gue nyeletuk. "Mukul lo?"
"Iya, Trevor, kalau itu yang bakal bikin lo maafin gue, ya, tonjok muka gue, lakuin sesuatu!"
"Gak liat gue gak mau ngelakuin itu, Bego!" Akhirnya dia berdiri, terhuyung-huyung turun tangga sampai dia kehilangan pijakan dan jatuh.
Nangkep dia sebelum dia nyium tanah, gue bantuin dia berdiri dan sebelum gue bisa menjauh, dia pegang kepala gue cium gue. Bibirnya yang basah kena bir ada di bibir gue dan gue berharap itu yang gue mau sekarang. "Trevor, berhenti," gue menjauh.
Dia cekikikan. "Gue berusaha kasih yang lo mau dan lo malah menjauh, gue suruh lo jauhin gue dan lo gak mau, lo lebih bingung dari gue, bro." Balik badan, dia meraih birnya, memunggungi gue.
"Gue tau sekarang gue gak akan bisa punya lo kayak yang gue mau, dan gue bakal baik-baik aja suatu hari nanti, tapi sekarang gue cuma bener-bener butuh sahabat gue balik."
"Apa lo mikirin itu waktu lo cium gue? Kalau di dunia yang gak ada di pikiran lo, gue bilang gak... apa lo mikir lebih jauh dari cium gue?" Enggak, gue gak mikir. "Karena kalau iya, lo bakal liat ini akhirnya kayak gini." Dia ngelihat gue dan gue berusaha keras buat tetap kontak mata tanpa nangis, "Lo tau apa yang lebih ngebuat gue kesel? Gue gak tau apa gue harus nerima ini atau harus lebih pemaaf. Sahabat gay gue cium gue, itu kan sering terjadi sama cowok, kan?"
"Gue emang liat ini bakal kayak gini."
"Dan lo tetap ambil resikonya," dia buka tutup birnya, minum.
"Karena... gue cinta sama lo," kebenarannya keluar. Ngomong sekarang gak kerasa kayak gue ngomong ke dia sebelumnya, yang ini beda dan cara dia ngelihat gue bilang kalau dia ngerti apa yang gue maksud.
"Gue selalu cinta sama lo, Trevor."
"Iya?" Dia nanya dan gue ngangguk. "Yah, gue juga selalu cinta sama lo... idiot."