Bab 12
Dia mengangkat bahu, "Dia bilang dia gak terancam sama dua cowok gay,"
"Iya— Tunggu—" Pete berhenti bikin temen-temennya ikut berhenti, "Carlos mikir gue gay? Tunggu— apa orang-orang mikir gue gay?"
"Temen-temen lo cowok gay sama cewek," jawab Jasper, "Gak susah buat berasumsi." "Gue serius harus punya cewek," mereka melanjutkan jalan.
"Kalian dateng ke pertandingan malem ini, kan?" Keduanya mengangguk, "Oke bagus gue harus nyari tim, gue ketemu kalian abis acara penyemangat."
"Sampai nanti." Savannah belok ke koridor lain ninggalin Pete dan Jasper jalan berdua, "Gue gak percaya orang mikir gue gay."
"Gak papa, Sob. Nanti lo bakal dapet cewek dan buktiin mereka salah."
Waktunya acara penyemangat dan seluruh SMA Everton ada di gym membanjiri tribun, nunggu acaranya mulai. Pas lagi duduk di samping Pete, hape Jasper bergetar.
J bantu! Gue lupa pita rambut gue di loker dan kayaknya, kita gak kompak kalo gak pake itu. Bisa gak lo lari ke loker gue dan ambil itu buat gue? Ketemu gue di deket ruang loker cewek.
"Sav lupa pitanya di lokernya dan butuh gue buat ngambilin," "Oke, gue simpenin tempat lo," jawab Pete dan Jasper bangun ninggalin gym.
Dengan semua orang di gym, koridor sepi banget, satu koridor, khususnya, bener-bener kosong dengan empat cowok berdiri di sana. Semakin deket dia jalan, semakin jelas Jasper bisa liat Alister ngejepit Daniel ke dinding sementara temen-temennya berdiri di sekelilingnya nyemangatin dia.
"Gak ada yang mau diomongin, bitch?" tanya JJ di belakang Alister "Mungkin ini bakal bikin dia ngomong," Alister mengangkat tinju.
"ALISTER BERHENTI!" Jasper teriak lari ke arah mereka sebelum dia bisa mukul Daniel, "Apa-apaan sih kalian? Lepasin dia!" Jasper coba mendorong Alister tapi dia gak bergeming, "Lepasin dia, Alister, lo harusnya lebih baik dari ini!" "Pergi lo, Jasper, lo bahkan gak kenal dia!"
"Gue gak peduli, lepasin dia!" Jasper megang lengan Alister yang neken Daniel ke dinding, "Lepas!" Dia menggonggong untuk terakhir kalinya dan Alister akhirnya dengerin.
"Apa masalah lo?!" Dia berbalik ke Jasper, "Berhenti belain sampah itu." "Berhenti jadi bajingan dan gue gak perlu melakukan itu!"
Saat mereka berdebat, Jasper gak nyadar Daniel mencoba kabur tapi ada orang lain yang nyadar, "Iya, terus aja jalan, bitch, itu doang yang bisa lo lakuin," kata JJ sebelum mengangkat cangkir styrofoam di tangannya.
"JJ, jangan!" Tapi udah terlambat buat Jasper buat nghentiin dia, selanjutnya yang dia tau milkshake cokelat netes di punggung Daniel bikin dia berhenti jalan.
"Kayaknya berhasil, ada yang mau diomongin sekarang?" Mereka nunggu Daniel bereaksi tapi dia gak bereaksi, dia cuma terus jalan.
"Kanak-kanak banget, kalian harusnya tumbuh dewasa!" Jasper mendorong Alister sebelum pergi. Lari ke kamar mandi cowok terdekat, Jasper masuk dan nemuin Daniel lagi bersihin seragamnya, jaket
di bawah keran. Dia diem di deket pintu dan nanya, "Lo gak papa?" Daniel mengabaikan pertanyaan itu, fokusnya buat ngehilangin noda sebanyak mungkin, "Lo bisa dapet yang bersih di toko sekolah, atau lo bisa ganti pake seragam olahraga—"
"Dia dengerin lo... kenapa?" Akhirnya Daniel ngomong.
"Alister? Gak, dia gak dengerin," sangkal Jasper. Nengok dari jaketnya, Daniel ngasih tatapan ke Jasper, "Kita pernah pacaran pas gue pertama kali dateng ke sini," dia ngaku, "Gak bertahan lama karena dia bukan orang yang tepat buat gue. Gue gak pernah tau dia sebegitu parahnya." Jasper berhenti ngomong dan cuma merhatiin Daniel selesai bersihin jaketnya, begitu dia selesai Daniel matiin air dan meres jaketnya sebelum ngambil tasnya.
Jantung Jasper berdetak lebih cepet saat Daniel mulai melangkah ke arahnya, dia berhenti tepat di depan cowok yang gugup itu. Kedekatan itu akhirnya ngasih Jasper kesempatan buat liat Daniel lebih deket, matanya campuran warna hijau dan cokelat, rambut cokelat dengan gaya berantakan, dan garis rahang paling tajam yang pernah dia liat. Daniel itu menarik dan Jasper bakal buta kalo gak nyadar— tapi itu di luar masalah, dia gak peduli sama penampilannya dia cuma mau jadi temen. Daniel terus berdiri di depannya jadi Jasper diem aja.
"Permisi," akhirnya dia bilang dan Jasper sadar dia berdiri di depan pintu keluar, minggir dia ngebiarin Daniel keluar ninggalin dia sendirian.
Setidaknya interaksi ini gak seburuk yang terakhir pikirnya saat hapenya bergetar
HALO?! Mana pita gue? Kita mau keluar dalam lima menit
Ingat dia ada urusan, Jasper lari keluar dari kamar mandi.
Setelah hari yang sangat buruk, Daniel siap pulang, ini minggu keduanya dan cowok itu udah capek. Dia gak mikir orang bakal kasar sama dia, gosip dan tatapan jijik dia udah ngarepin, tapi setelah lebih dari setahun mereka masih benci dia seolah dia gak pernah pergi.
Jalan ke mobilnya, Daniel berhenti ngejatuhin semuanya pas dia liat kaca depannya.
Berdiri di kejauhan, Jasper sama Pete dan beberapa temennya lagi mikir apa mereka harus pergi dan balik lagi buat pertandingannya, atau cuma diem sampe mulai. Saat mereka ngobrol, tatapan Jasper nyisir parkiran berhenti pas mereka nemuin Daniel. Memperhatikan, Jasper merhatiin cowok itu naruh kedua tangannya di rambutnya natap mobilnya terus-menerus, dia keliatan kesal... hampir marah. Dia terus natap saat Daniel ngambil hapenya nelpon seseorang.
Ngambil barang-barangnya, cowok itu dengan marah menghentak balik ke dalam sekolah jalan melewati Jasper, yang matanya ngikutin dia. Penasaran sama mobil itu, Jasper ninggalin temen-temennya jalan ke arahnya, pas dia udah cukup deket dia pergi ke tempat Daniel berdiri dan liat itu juga. Ditulis dengan huruf putih besar di kaca depan