Bab 85
Kita di sini, di kamarku, pintu terkunci, musik menyala, dan kita melepas sepatu di kasurku sambil berciuman. Meraih jaketnya, aku melepaskannya dan melemparnya ke kursiku tapi jatuh, tangannya memegang pahaku sementara yang lain mengelus wajahku. Ini awal yang bagus, kita bermesraan di kasurku, tapi kita tidak bisa berciuman selamanya jadi aku berkata "Kamu punya kondom? Siapa yang melakukan apa? Maksudku aku tidak keberatan di bawah kalau itu yang kamu mau, karena aku mau memberimu apa yang kamu mau, tahu kan? Tapi gimana kalau aku gak suka? Aku bener-bener gak mau sakit-"
"Woah, sayang" **Elliot** mencium leherku untuk menenangkanku, "Balik lagi." Dengan wajahku melayang di atasnya, dia menatapku sambil mengelus pipiku, "Kamu gak harus di bawah kalau gak mau, aku gak masalah. Soal kondom, aku punya banyak." Dia mengeluarkan dari sakunya "Aku udah pastiin buat beli ukuranmu dan ukuranku kalau-kalau" pengingat lucu kalau dia lebih gede dari aku. "Kamu bisa mainin aku atau kita bisa gantian, terserah kamu." Itu semua jaminan yang pernah aku butuhkan, engga.
Mundur, aku duduk dan dia tetap berbaring, "Aku gak masalah di bawah selama kita pelan-pelan biar gak terlalu sakit."
"Oke" dia mengangguk setuju
"Tapi itu gak semuanya sih" Aku menatapnya saat dia menunggu aku bicara, yang bukan masalah buat kita karena kita saling cerita segalanya, tapi aku ngerasa agak gak pede buat ngomong ini. "Aku pengennya kamu jadi yang pertama, mungkin Kalau gitu rasanya gak kayak aku ngerasain ini sendirian, sementara kamu santai banget."
"Kamu pikir aku santai?" Dia juga duduk
"Enggak santai kayak kamu gak peduli tapi lebih kayak ini cuma seks buat kamu, sesuatu yang jelas udah pernah kamu lakuin." Dia menatapku dan aku merasa kayak orang bodoh, gak ada yang keren dari ini!
"Aku ngerti maksudmu" dia mendekat menyebabkan rambutnya yang lembut yang luar biasa memantul, "tapi itu gak bener, setidaknya buatku. Aku merasa terhormat karena aku yang kamu pilih buat kehilangan keperawananmu, jadi itu bukan sesuatu yang aku anggap enteng. Aku pengen ini sempurna buatmu karena kamu selalu sempurna buatku, dan aku merasa ini semua yang bisa aku kasih tanpa bener-bener ngacauin semuanya."
"Gak bener" Aku menggeleng, "Kamu udah ngacauin banyak hal" dia tersentak dan kita berdua tertawa "canda. Kamu beneran mikir aku sempurna?"
"Aku tahu menempatkanmu dalam kotak yang gak idealis itu gak adil, tapi itulah yang aku pikirkan" "Itu sangat gak bener tapi tetap enak didengar."
Mendekatiku, "Apa? Ketua klub pertanian Sherman High gak bisa sempurna?" Dia berbaring kembali dengan aku di dadanya
"Kamu ngejek aku karena itu tapi suatu hari kita bakal punya kebun pemenang penghargaan, kamu bakal lihat." "Kita bakal?" Aku kepergok hidup di masa depan lagi, kenapa aku harus ngomong gitu? Tentu saja, kita gak bakal, bukan kayak aku udah berfantasi tentang kita nikah, dia jadi ayah keren buat anak-anak gemuk kita yang benci aku, karena aku orang tua yang memaksa sayuran masuk ke tenggorokan mereka. "Enggak" Aku menjawab, "Kebun itu bodoh" Aku memainkan itu dengan baik.
"Iya emang" dia setuju dan aku mengangkat kepalaku buat lihat dia, "Kebun itu tempatnya! Kita bakal punya halaman belakang yang gede banget dengan banyak banget hewan yang harus kita paksa anak-anak kita kasih makan." Aku cinta banget sama orang ini
Naik ke atas, aku mulai menciumnya, dia melepaskan bajuku, terus aku lepasin hoodie-nya. Tangannya mengelus bokongku sementara bibir kita gak pernah lepas, aku bisa ngerasain sarafku tenang, kenapa aku malah gugup dari awal? **Elliot** sempurna dan aku gak perlu khawatir apapun
Tunggu iya aku perlu "kita belum bisa" Aku menjauh. Naik dari atasnya aku turun dari kasur pake baju, "Ya Tuhan, aku bodoh banget!"
"Apa?" Dia lihat aku bingung "Aku gak bersih," kataku malu
"Gak bersih?" Dia bertanya "Maksudnya kamu punya..." Aku menatapnya saat dia menyelesaikan kalimat yang dia takut banget, "penyakit kelamin?"
"Apa engga!" Bisa bayangin gak?! "Maksudku aku gak persiapan apa-apa, aku udah riset dan kalau aku di bawah, aku harus se-segar bunga, kan?" Melempar kepalanya ke belakang **Elliot** tertawa "iya itu reaksi yang aku mau"
"Enggak aku-" dia menggenggam tanganku dan turun dari kasur "maaf," dia menggumam sisa tawanya. "Iya kamu emang harus bersih, itu bagian penting"
"Aku tahu!" Aku berjalan ke mejaku membuka laci "Makanya aku beli ini" "Ya Tuhan, apa itu?"
"Ini adalah..." Aku pikir alat douching, emang gitu kan namanya? "Aku beli online, katanya buat nyelesaiin tugas."
"Untung banget, kenapa gitu bentuknya?"
Aku mengangkat bahu "Emangnya gak boleh gini?"
"Gak gitu deh kayaknya" dia mencibir dan aku merasa kayak orang bodoh semakin aku bertanya "Jadi aku bahkan gak bener?" Aku menghela nafas
"Enggak aku yakin kamu bener, sini ambil instruksinya aku bantu." Ya Tuhan aku harus mengakhiri ini "Sebenarnya aku pikir aku perlu cari tahu sendiri," aku sembunyiin benda itu di laciku lagi "Kamu yakin?" Aku mengangguk "Maksudku aku bisa bantu kamu"
"Aku tahu dan aku cinta kamu karena itu tapi aku pengen ada intimasi di antara kita, dan kamu ngajarin aku cara douching emang bukan itu.". Mengambil hoodie dan jaketnya aku kasih ke dia
"Gitu doang?"
"Aku minta maaf aku buang-buang waktumu aku beneran pikir aku udah siap." Aku bahkan gak bisa lihat dia sekarang, "tapi aku belum dan kalau aku beneran siap ini bakal jauh lebih baik."
Aku mengantarnya ke pintu saat dia pake bajunya terus ngambil tas dari tanganku, "**Lucky** aku beneran ngerasa kamu harusnya biarin aku bantu kamu."
Dia ganteng dan baik banget, itu bener-bener ngerusak banyak hal buatku, iya cowok ganteng yang milih aku dari semua orang di sekolah ini yang kamu mau ajak, aku mau kamu bantuin aku douching. Tapi kalau gitu kamu bakal bantuin aku douching dan aku gak yakin kita berdua bakal bisa saling tatap muka setelah itu terjadi. "**Elliot** aku bakal kuasai ini sendiri terus kita coba ini-" Aku kasih isyarat di antara dia dan aku, "lagi." Aku bakal bohongin diri sendiri sampai aku bisa nutup pintu. "Kita punya empat hari, kenapa harus buru-buru, kan?" Kata aku yang udah hampir di atas anunya dia 5 menit lalu
"Oke gak masalah" dia buka pintu terus balik lagi ke aku, "kamu mau gak cerita ke aku gimana hasilnya?"
"Mungkin" senyum canggungku pasti berarti enggak aku gak bakal, "telepon aku?" Dia mengangguk "nanti malam aku pulang kerja kita FaceTime, oke?"
"Oke" kita ciuman dan dia pergi. Ya ampun! **Maisie** bener, aku bener-bener belum siap.