Bab 53
"Adrian-"
"Gak usah repot-repot," Aku mengembalikan kunci itu padanya, "Aku mau pulang. Nikmati sisa pestamu." Aku berjalan pergi meninggalkannya di trotoar.
Pagi berikutnya saat aku bersiap-siap untuk pergi kuliah, teleponku berdering, "Hai, Ayah," jawabku sambil meraih tasku dan kunci.
"Adrian, kenapa Ayah dapat telepon dari Bill yang bilang kamu minta dia mentransfer uang dalam jumlah besar untukmu?"
"Aku... em, butuh untuk investasi, tapi jangan khawatir. Aku gak butuh lagi kok, aku bakal kirim balik uangnya ke Bill segera."
"Oh, oke. Semuanya baik-baik saja?"
Keluar dari kamarku, aku turun tangga, "Ya, Ayah, semuanya baik-baik saja," Aku berbohong saat berjalan ke pintu, "Tapi aku mau ke kelas jadi aku harus pergi."
"Oke, sampai jumpa lagi."
Membuka pintu, aku berhenti saat melihat Charlie di luar, bersandar pada Audi. "Ya, bye, Ayah," Aku menutup telepon. Berjalan keluar, aku bertanya, "Kamu ngapain di sini?"
"Orang gila mana yang beliin mobil setelah pacaran kurang dari setahun?" Aku mengangkat bahu dan dia turun dari mobil berjalan ke arahku, "Kamu mikir apa, Adrian?"
"Aku mikir pacarku butuh mobil. Kamu punya SIM tapi jalan kaki ke mana-mana.""Aku suka jalan kaki! Dan kalau aku mau beli mobil, pasti yang jelek, bukan Audi sialan ini!"
"Mereknya gak ada hubungannya,"
"Beneran?" Dia bertanya, tidak percaya padaku, "Adrian, kamu gak bisa gitu aja beliin aku mobil, oke? Terus apa, rumah buat ulang tahunku selanjutnya? Anniversary kita dua bulan lagi, kamu mau beliin aku pulau?"
"Mungkin aja! Tapi kenapa harus jadi masalah? Itu cuma barang, cuma uang."
"Bukan buat aku! Dengar, aku jelas tau kamu banyak duit, oke? Maksudku, lihat di mana kamu tinggal," dia menunjuk rumah kehormatan, "tapi aku suka kamu gak pernah mempermasalahkannya, karena aku gak mau mikirin itu. Orang tuaku selalu mempermasalahkan uang saat aku tumbuh dewasa, mereka kasih Camila apa aja yang dia mau, tapi aku gak pernah dapat apa-apa karena aku anak nakal, jadi aku mulai mengurus diriku sendiri. Aku berhenti ambil dari mereka, yang akhirnya bikin aku berhenti ambil omongan orang lain."
"Aku bukan orang lain atau orang tuamu." "Untunglah."
Mengambil napas dalam-dalam, aku berkata, "Charlie, aku sayang kamu, oke? Dan mungkin aku salah meremehkan hidupku dan barang-barang yang aku punya supaya kamu nyaman, tapi gak harus gitu. Aku butuh kamu terbiasa kalau inilah aku, dan kalau kamu juga sayang sama aku, kamu harus terima aku."
"Aku terima kamu kok, tau kan aku terima, aku sayang kamu dan semua tentang kamu, tapi kamu harus lihat, ini terlalu banyak dan terlalu cepat. Kita lagi kuliah, oke? Kita punya banyak waktu buat ngelakuin hal-hal kayak gini, tapi buat sekarang, ayo jadi normal aja."
"Maksudmu, anak kuliahan normal gak beliin mobil buat satu sama lain?" Aku bertanya membuatnya tertawa.
"Bukan anak kuliahan yang aku temui." Mendekat, dia mengambil tanganku dan menaruh kunci mobil di dalamnya, "Aku suka hadiahku, tapi aku gak bisa terima, oke?" Aku mengangguk setuju. "Kita baik-baik aja?"
"Ya," jawabku dan dia mendekat menciumku. Kami berciuman di trotoar dan aku menjauh setelah beberapa detik. "Aku bakal telat banget ke kelas."
"Kamu mendingan bolos dan balik ke tempatku aja, berantakan, dan aku beneran gak mau beresin."
"Gak mungkin, tapi semoga berhasil ya." "Oke deh, nanti ketemu lagi?"
Saat aku mau menjawab, Charlie dan aku mendengar, "Woi, yo! Charlie, kamu denger kabar baikku gak?!" Kami melihat Axl dan beberapa orang lain keluar dari rumah. "Aku bakal jadi pengacara beneran untuk sebuah kasus."
Mengerang, aku mencoba mengabaikannya dan Charlie menjawab, "Ya, aku beneran gak peduli, Axl." "Wow, kalian pembenci emang cocok bersama," dia berjalan ke mobilnya dan masuk.
"Ya Tuhan, aku gak tahan sama orang itu," Charlie melihatku dan aku tersenyum, "Selamat datang di klub.""