Bab 175
"Iya, gue baik-baik aja," gue berusaha balik ke kegiatan gue. Gue bener-bener ngerusak semuanya sama Beck, kenapa gue nggak bisa diem aja sih? Nggak! Gue harus banget ngakuin perasaan gue, ngakuin apa pun nggak bakal ada gunanya.
Waktu gue lagi keluar kerja, Steve nelpon gue, "Lo mau beli makan malem nggak pas pulang?" katanya begitu gue angkat telepon.
"Oke," gue matiin. Waktu gue jalan ke warung makan terdekat sambil nge-chat di hape, gue nabrak seseorang karena nggak lihat jalan. Gue ngangkat muka buat minta maaf, "Maaf," mata gue ketemu sama mata Beck, senyumnya langsung hilang dan rasa takut muncul karena dia sadar itu gue, terus dia sadar tangannya dipegang tangan cowok lain dan langsung ngelepas.
"Emerson," dia ngekedipin mata cepet banget, "hai." "Hai," jawab gue, berusaha senyum.
"Dave, ini Emerson, Em ini…" dia nggak lanjutin, nggak tahu harus ngomong apa.
"Gue Dave," Dave ngulurin tangan dan ngajak gue salaman, gue belum sempat lihat mukanya karena pikiran gue masih penuh sama Beck. Empat hari, kita nggak ngobrol selama empat hari dan dia udah move on.
"Senang ketemu lo, Dave. Gue pergi dulu, nanti ketemu lagi, Beck," gue langsung pergi secepatnya, jantung gue berdebar kencang.
"Wah, orangnya cepet banget move on," jawab Steve waktu gue jelasin apa yang baru aja terjadi, "Dia udah sama cowok yang namanya Dave."
"Mati aja tuh Dave!" Steve teriak.
"Iya, mati aja dia!! Tapi dia sebenernya baik banget sih," gue bego banget mikir Beck ada rasa sama gue, dia udah nyaman banget sama gaya hidup santainya, pacaran mungkin jadi hal terakhir yang dia mau.
Malam itu gue duduk di kamar cuma buka-buka Twitter nggak ada kerjaan lain, gue denger bel pintu bunyi dan gue mikir siapa yang dateng.
Steve lagi pergi sama temen-temennya dan semua temen gue nggak pernah mampir semalem ini, udah jam dua pagi. Gue ngebuzzer orangnya dan nungguin depan pintu, terus pintunya diketuk. Ngintip dari lubang intip, gue lihat wajah Beck, sial! Ngapain dia di sini?! Panik banget.
Narik napas dalam-dalam tiga kali, gue buka pintu. Gue nggak ngomong apa-apa, tapi dia langsung bilang, "Gue harusnya marah sama lo!" sambil nyelonong masuk apartemen gue.
"Permisi?" gue nutup pintu dan ngehadap dia.
"Kita udah bagus, terus lo ngerusaknya dengan pengakuan bodoh lo itu. Nggak ada perasaan! Ingat, siapa di antara kita yang bilang begitu?"
"Gue," jawab gue sambil nundukin kepala karena malu.
"Iya, lo banget, terus tiba-tiba lo bilang suka gue, gue panik," dia jalan mondar-mandir, "Gue nggak masalah nggak ada perasaan, gue malah seneng lo bilang gitu, tapi waktu gue pergi malam itu gue nggak bisa berhenti mikirin itu, gue nggak bisa berhenti mikirin lo. Apa beneran gue nggak masalah nggak ada perasaan atau gue cuma setuju karena itu yang lo mau? Gue yakin banget itu yang gue mau!" dia berhenti mondar-mandir dan ngehadap gue, "tapi waktu gue lihat lo tadi gue nggak yakin lagi," gue berusaha ngerti apa yang dia omongin tapi dia ngomong cepet banget dan panik, gue agak bingung.
"Jadi lo mau bilang apa?" tanya gue, berusaha nggak kelihatan bingung.
"Yang gue mau bilang, gue juga lebih suka kalau lo ada, Em," dia senyum mendekat, "Gue kira gue tahu apa yang gue mau, tapi gue sadar gue nggak tahu apa yang gue mau waktu lo nggak ada selama beberapa hari ini."
"Lo mau gue?" gue ngerasa sudut bibir gue naik, "Gue mau." "Gimana sama Dave?"
"Dia nggak penting," jawabnya terus nyium gue. Lidah Beck masuk ke mulut gue, tangannya remes bokong gue, "Ayo," kita lari ke kamar gue, nutup pintu. Nanjak di atas, gue terus nyium dia dan tangannya nggak lepas dari bokong gue.
Kita robek baju masing-masing dan sekarang gue merangkak siap buat ditaklukin dia, dia naruh tangannya di pinggul gue, kontolnya pelan-pelan masuk ke gue. Mulut gue kebuka dan gue ngegas, ngerasain semua bagian dirinya di dalam gue, dia terus nge dorong bikin semuanya pas, "sial lo dalem banget," gue nge desah sambil tiduran, gigit dan narik sprei, dia terus nge dorong dan nge keluarin. "Ohhh iya!" gue nge desah waktu dia ngebanting pinggulnya ke pantat gue. Gue nggak tahu karena kita udah tahu gimana perasaan kita satu sama lain, tapi seks ini lebih enak dari yang lain.
Gue balik badan dan dia ada di antara kaki gue, "hai," dia senyum tiduran di antara kaki gue waktu dia nge penetrasi gue lagi.
"Hai," gue ketawa kecil dan malu, dia bergerak nyium gue sambil mulai ngentotin gue lagi. Dia ngedesah pelan ke bibir gue setiap kali nge dorong, dan itu bikin gue liar. Gue meluk dia dan dia naruh kepalanya di leher gue. Beberapa saat kemudian dia berbisik, "Gue udah mau," di telinga gue. Tahu dia mau keluar bikin dia mempercepat iramanya, dia nge desah dan nge gigit leher gue dan tanpa peringatan dia nyemprot di dalam gue. "Sial, maaf gue nggak bermaksud!" dia langsung minta maaf.
"Nggak apa-apa," gue nyium dia, "Gue mau lo ngelakuin itu."