Bab 24
2 bulan sejak semester pertamaku, dan semuanya gak berjalan kayak yang kumau, maksudku, bisbol berjalan lancar, dan kelas-kelasku oke, tapi soal Gentry...
Mau percaya kalau aku bilang udah berusaha keras buat gak jatuh cinta sama cowok ini? Tapi, bahkan aku tahu ini udah pasti. 2 bulan terakhir kita habiskan buat jalan-jalan dan pada dasarnya nyadar kalau kita punya terlalu banyak kesamaan, beneran bikin ngeri. Sekarang yang kumau cuma dia, tapi aku gak bisa gitu, gak bisa mikir kayak gitu, dia segalanya buatku sekarang - selain dari tim, tapi kalau aku mau lebih dekat sama Gentry, aku mau karena dia temen yang baik banget, bukan karena aku mau ambil sesuatu darinya.
Ada ribuan cowok di kampus ini, aku cuma perlu nemuin satu dan fokus sama mereka, biar Gentry tetap jadi teman aja, dan aku bukan cowok gay yang berusaha bikin cowok straight jatuh cinta sama aku.
"Udah coba Grindr?" tanya Pen waktu kita FaceTime dan aku jalan ke kelas.
Geleng kepala, "Aku gak terlalu pengen nge-hookup sama siapa pun, gak tahu deh." Aku mengangkat bahu, "Mungkin terlalu cepat buat nyari cowok."
"Mungkin, tapi gimana lagi caranya biar kamu gak mikirin Gentry? Kecuali kamu emang gak mau berhenti mikirin dia," katanya dengan senyum jahil.
"Gak, aku pasti mau, dia bukan pilihan," Aku akan terus bohong ke diri sendiri sampai aku percaya. "Ceritain soal sekolahmu."
"Lumayan seru di sini," dia mulai sambil di kasur, "Sering hujan, tapi selain itu aku suka banget, cowok-cowoknya hot abis dan mereka gak pilih-pilih. Seharusnya aku udah cabut dari Amerika lebih cepet," kami tertawa kecil, "mungkin aku bisa nemuin cowok buat kamu buat selingkuh jarak jauh, mereka juga pada fleksibel di sini."
"Harus suka orang Eropa."
"Hei," Aku ngerasa 2 tangan melingkar di leherku dari belakang, menghentikanku saat aku jalan, melihat ke bahu, aku lihat Gentry nyenderin kepalanya di dekatku dan pipi kita bersentuhan. Dia lepas salah satu earphone dari telingaku, "Kamu gak denger aku manggil nama kamu?" tanyanya.
Geleng kepala, aku jawab, "Enggak, maaf,"
"Dan siapa ini?" Dia nunjuk ke layar ponselku dan aku lihat Pen yang hampir bengong ngeliatin kita, "Ini sahabatku, Pen."
"Hai," Gentry melambai dengan senyum dan Pen membalas lambaiannya. "Denger," akhirnya dia melepaskan dan berdiri di depanku, "Aku harus lari ke kelas, tapi aku bakal nge-text kamu, oke? Ada pesta di rumah lacrosse malam ini dan kita harus datang."
"Oke, ya, kabarin aku." "Oke, sampai nanti," dia lari.
Nengok lagi ke layar, Pen masih lumayan kaget, "Aku tahu," Aku geleng kepala sambil menghela napas, "liat, ini yang harus kuhadapi?"
"Kamu udah kacau, sob," dia tertawa.
"Aku tahu," Aku mengerang sambil terus jalan, "bagian terburuknya kita makin dekat, yang berarti ini cuma bisa makin parah."
"Kita harus nyariin cowok buatmu secepatnya," "Kita emang harus."
Gentry suka banget pesta, dia selalu bilang itulah gunanya kuliah, mabuk-mabukan sampai gak sadar, terus besoknya sumpah gak bakal gitu lagi. Semuanya soal senang-senang dan penyesalan, tapi aku gak mau menyesal apa pun dan aku bukan peminum berat, jadi pesta-pesta ini gak ada gunanya buatku, tapi aku tetap menikmatinya karena dia menikmatinya.
Masuk ke rumah lacrosse, kita disambut musik keras dan orang-orang di mana-mana, lumayan keren sih tim lacrosse punya rumah sendiri. Mereka bisa ngapain aja sesuka mereka tanpa banyak konsekuensi. Kita gak bakal bisa bikin pesta kayak gini di asrama.
Rumahnya gelap dengan lampu warna-warni yang muter-muter di berbagai ruangan, musiknya menggelegar dan orang-orangnya udah mabuk dan nge-fly, atau lagi dalam perjalanan buat mabuk dan nge-fly. Gentry dan aku jalan-jalan sambil ngobrol, aku minum bir yang dia kasih dari waktu kita masuk.
Hampir satu jam di malam itu dan aku udah kehilangan dia, tapi aku gak masalah karena aku gak mau kelihatan nempel banget sama dia. Satu-satunya cara persahabatan ini berhasil adalah kalau aku jaga jarak yang sebenarnya dari dia, karena semakin aku dekat Gentry, semakin nyaman dia sama aku, dan semakin itu ganggu pikiran aku. Ngeselin sih mikir gitu, seseorang beneran mau jadi temenku dan aku malah mikirinnya yang aneh-aneh, aku harus berhenti.
"Tebak siapa yang baru aja kutemui!" Gentry nyamperin aku dengan cowok di belakangnya, "Ini Adam," dia ngenalin dia ke aku, "Adam, ini Shane, kalian punya banyak kesamaan, kalian harus ngobrol, aku balik lagi, ya."
"Gent-" dia buru-buru pergi ninggalin aku sama cowok itu. Kami saling menoleh dan dia tersenyum, "Apa emangnya kesamaan kita?"
"Oh, aku bilang ke dia kalau aku gay dan dia langsung bilang aku harus ketemu temennya, Shane," "Ah," Aku mengangguk mengerti, "Maafin dia, dia punya maksud baik."
Adam tertawa kecil, "Gak semua orang begitu, tapi dia gak ngasih aku selesai ngomong karena aku mau bilang kalau aku udah punya pacar, tapi kayaknya gak ada yang sepenting aku ketemu kamu."
Menghela napas, aku menutup wajahku, "Maaf."
"Gak apa-apa," Adam tertawa kecil lagi, "kayak yang kamu bilang, aku yakin dia punya maksud baik." Kita berdiri di samping satu sama lain, ngeliatin pestanya makin rame, "jadi, kalian di tim bisbol?" Aku mengangguk, "Keren."
"Kamu juga di tim?"
Geleng kepala, Adam tersenyum, "Aku gay teater," katanya dan aku ngerti banget.
Pestanya akhirnya hampir selesai dan aku nemuin Gentry di dapur lagi ngobrol sama cewek, nunggu di kejauhan, aku ngeliatin dia ngambil ponselnya, mungkin masukin nomornya. Pas mereka selesai, cewek itu pergi dan aku nyamperin dia, "Hei," kataku dari belakangnya dan dia menoleh.