Bab 186
Zander
"AYO! Gak mau telat," Aku lari di koridor, ambil kunci dan teriak ke Ibu, yang santai banget mau nganterin aku ke sekolah. Itulah akibatnya kalau minjemin mobil ke adik kecil dan dia nabraknya di tiang.
Dia lari ke arahku saat aku nunggu di depan pintu, "Maaf, maaf, aku gak nemu tas."
"Oke, sekarang udah kan? Ayo berangkat!" Aku ngegas dia sambil buka pintu depan dan jalan ke mobilnya. "Emang mobilmu kapan beresnya?" tanyanya sambil nyetir.
"Kata tukang dua minggu lagi."
"Gak nyangka Nate nabrak mobilmu. Itulah akibatnya kalau ngebolehin anak umur 16 tahun nyetir." "Si brengsek kecil itu malah gak punya uang buat bayar balik."
"Tenang aja, dia bakal kerja buat bayar kamu," jawabnya. Sepuluh menit kemudian, dia berhenti di sekolahku dan aku loncat keluar, lari masuk.
"DAH!" teriaknya saat aku ngebut.
"DAH!" jawabku, gak repot-repot berhenti atau noleh. Aku punya 2 menit buat ke kelas, gak boleh telat. Guru Bio-ku sumpah bakal bikin hidupku neraka kalau aku telat lagi ke kelasnya. Aku masuk kelas dengan napas ngos-ngosan saat bel berbunyi.
"Mepepet nih, Owen," sapa dia saat aku nemuin tempat duduk di dekat temanku, Sage. "Aku berhasil, kan," jawabku sambil nyungsep di kursi.
Sage diam-diam ketawa, "Bro, dia benci banget sama lo."
"Gak usah diingetin," Aku memutar mata.
"Eh lihat deh," dia nepuk pundakku sambil nunjuk ke arah pintu, itu Zander Simon, cowok hot di Marshall High, lagi ciuman sama pacarnya yang dari kalangan atas, Nikki.
"Udah males masuk kelas ini, malah harus lihat mereka berdua ngunyah muka satu sama lain," Aku memutar mata.
"Bikin berhenti dong," jawab Sage dengan ekspresi jijik.
"Pak Luckner, ini tempat belajar, bukan rumah bordil," kataku sambil nunjuk ke pintu dan semua orang lihat ke arah mereka lagi ciuman. Sage ketawa.
"Cukup dari kamu, Owen," dia jalan ke pintu, "Nicole masuk kelas, dan Zander cari kelasmu sebelum saya yang carikan," Pak Luckner buka pintu sambil ngomong gitu, yang bikin mereka menjauh dan Nikki buru-buru masuk kelas.
Lewat di depanku, dia bisik, "Kenapa benci kalau bisa nikmatin?" di telingaku.
"Aku lebih nikmatin kalau ditinju tujuh kali sehari daripada nikmatin kalian berdua," Aku noleh di kursi sambil menjawab.
"Kamu ada masalah," kata Sage sambil ketawa.
Kelas berlanjut dan aku berusaha sebaik mungkin buat bertahan. AKHIRNYA MAKAN SIANG! Aku keluar kelas. Untung banget, kayaknya aku gak bakal bisa tahan kelas lagi tanpa istirahat. Aku ketemu Sage di koridor, "Kamu cinta aku?" tanyanya saat kita jalan saling mendekat.
"Aku cuma mentolerir kamu," Aku tersenyum.
"Oke deh, kayaknya ada yang gak mau makan siangku," dia jalan cepat melewati aku.
Aku kejar dia, "Gak, gak, kamu tahu aku cuma bercanda. Aku cinta kamu, Sayang," Aku memeluknya dan kita ketawa.
Saat kita jalan dan ngobrol ke kantin, seseorang nyenggol aku, "Lihat jalan dong, Freak," Ya ampun, kupikir aku bakal bisa seharian tanpa dipanggil gitu.
"Gimana kalau kamu lihat jalan, duit bapak?" Aku jawab. "Apa yang kamu bilang?" Zander tanya sambil lepasin tangan Nikki.
"Oh, iya, maaf, maksud aku duit tiri," Aku senyum. "Ini udah yang ketiga, kan?"
Mereka menghina aku, aku balas, aku gak peduli.
"Mending kamu hati-hati, Owen," Dia mendekat. "Atau apa?" Aku senyum.
"Sayang, dia gak sepadan," dia narik dia menjauh, "Ayo, biarin aja," dia nahan dia.
"Kenapa gak sekalian pergi aja?" Katanya saat mereka berbalik mau pergi. "Asal kamu janji buat lakuin hal yang sama!" Aku teriak ke arah mereka.
Aku noleh ke Sage dan kita lanjut jalan. "Kamu punya nyali baja, teman," dia ketawa. "Aku gak takut sama si sampah itu." Kita sampai di tempat makan siang dan nemuin meja kosong, lalu duduk.
Sage dan aku ngobrol sebentar, terus dia mulai makan dan saat aku mau ikut, hpku bunyi, ada pesan dari nomor gak dikenal 'datanglah'. Aku cepat-cepat masukin hpku. "Umm, eh, aku harus pergi ya, ada yang harus diurus, nanti ketemu di gym,"
Aku berdiri, ambil tas. "Oke, sampai nanti," jawabnya dan aku keluar dari kantin.
Jalan ke lemari petugas kebersihan di lantai tiga, aku lihat kanan-kiri sebelum masuk diam-diam. Begitu aku nutup pintu di belakangku, aku langsung diserang sama bibirnya. Cium setiap sudut mulutku saat aku jatuhkan tas di lantai dan nikmatin setiap detiknya. Kita pindah dari pintu ke tembok, menjatuhkan beberapa peralatan kebersihan dari rak. Dia ngusap-ngusap seluruh tubuhku, kehangatan bibirnya bikin aku pengen lompatin tulangnya saat itu juga. "Hei," Aku berbisik, menjauh saat matanya menusuk mataku dengan nafsu yang begitu besar. Dia ketawa, narik aku masuk dan melanjutkan ciuman.
Di sela ciuman, dia bilang, "Omongan pedasmu mulai bikin sakit sedikit," Aku menjauh, tersenyum. "Iya, aku ngerasa keterlaluan, maaf," Aku cium di lehernya. "Mmmm gak apa-apa," dia mengerang saat aku gigit dan jilati lehernya, dan kita langsung ciuman lagi.
Kalau kalian belum nebak, ya, itu Zander, mengejutkan, kan? Aku tahu. Aku bakal simpan semua detailnya, jadi singkatnya, kita terkunci di kamar adiknya teman bersama saat pesta beberapa bulan lalu dan hal itu terjadi. Kami mau rahasiain, jadi aku bilang ke Zander kalau kita harus kelihatan kayak benci satu sama lain dan dia harus mulai pacaran sama orang, jadi dia pacaran sama Nikki, bukan karena dia suka, tapi karena aku suruh. Gila emang, aku tahu, tapi hal itu terjadi, "Sial, aku harus segera ke kelas, makan siang hampir selesai," Aku berbisik sambil lihat jam tangan sementara dia cium aku di mana-mana.
"Ayo dong, aku cepet kok," dia memohon sambil memajukan bibirnya dan kasih tatapan menggoda yang gak pernah bisa aku tolak.
"Emang kamu pernah cepet?" Aku tanya dan kita ketawa. Ngebawa aku berbalik, dia menyudutkanku ke tembok, narik celanaku. Aku bisa rasain ujung anunya di lubangku saat dia pelan-pelan memijatnya. Rintihan kecil lolos dari mulutku saat aku berusaha gak berisik. Tanpa peringatan Zander menusuk lubangku, mendorong pelan sementara kedua tangannya ada di sisi pinggulku. Dia terus memompa aku dengan kejantanannya dan rasanya terlalu enak buat gak mengerang.
Aku gak bisa nahan, "Oooohh fuck me," Aku bilang agak keras saat dia menggauli aku.
"Sayang, ssshhh," katanya, bersandar, "Mau ketahuan?" tanyanya dan aku geleng, gak berani ngomong, takut kalau ngomong aku malah mengerang. Dia balik lagi ngent*t aku dan setiap dorongan bikin aku pengen mengerang namanya lebih keras lagi. "Aku udah mau keluar, Sayang," bisiknya.
"Mmm," Aku menarik diri dan memasukkannya ke mulutku. Aku ngisep anunya seakan-akan hidup kami bergantung padanya. Kali ini dia yang gak bisa nahan buat gak mengerang.
"Sial! Aku keluar," katanya dan sedetik kemudian dia menyembur di mulutku. Aku telan semuanya, "Fuuucck," katanya saat aku jilati anunya bersih. Dia ketawa, "Kamu cewek rakus banget," dia narik aku berdiri, terus dia naikin celanaku, mengancingkannya.
"Nanti ketemu lagi, kan?" Aku tanya saat kita pelan-pelan ciuman, "Iya. Rumahku jam 10," dia remas pantatku.
"Aku datang," Aku menjauh dan diam-diam keluar dari lemari petugas kebersihan.