Bab 42
Bangun tidur, Lin lewat dari cowok itu yang masuk dapur dan menuju pintu, pintu depan jauh dari dapur jadi Tamsin dan Ryder nggak bisa denger apa-apa dari sana, tapi pas Lin buka pintu, ternyata orang yang nggak dia duga. Berdiri di depan Lin, pakai baju serba hitam, megang tas gemuk dan gelas, ternyata Shia.
"Pagi," sapa dia, "Gue nyari Ryder."
"Eh, gue inget lo," dia senyum, "Masuk, dia di dalem." Shia masuk dan Lin nutup pintunya. "Lewat sini."
Shia ngikutin cewek itu menyusuri lorong dan pas mereka sampe di depan dapur, Ryder nanya, "Siapa itu—" kaget dia langsung berdiri begitu liat Shia masuk di belakang temen kamarnya.
"Siapa lo?" Tamsin nanya, jelas banget.
"Shia, ini Shia," Ryder langsung ngeh, ngenalin cowok itu ke temen-temen kamarnya, "Itu Tamsin sama Lin," katanya ke Shia sambil nunjuk ke cewek-cewek itu. Maju selangkah ke dia, Ryder nanya, "Ngapain lo di sini?" Sebelum Shia bisa jawab, Ryder nyetop dia, "Tunggu," dia noleh ke temen-temen kamarnya yang lagi pada bengong liatin mereka. Geleng-geleng kepala ke mereka, Ryder narik tangan Shia, ngejauhin dia dari dapur, dari temen-temen kamarnya yang kepo.
Bawa cowok itu ke kamarnya, Ryder nutup pintu begitu mereka udah di dalem. Shia nggak tau harus bereaksi gimana pas pertama kali di kamar Ryder, tapi ini masuk akal. Poster film dan video game nutupin semua dinding putih, baju berantakan di mana-mana, kasur nggak di rapihin, dan rak TV-nya penuh sama berbagai macam video game di sekelilingnya, tipikal cowok banget.
"Jadi," Ryder mulai, berdiri di belakang dia nggak bisa liat seberapa banyak kamarnya yang lagi dilihat Shia, "Ngapain lo di sini sepagi ini?" Ryder jalan ke sekeliling dia biar akhirnya mereka bisa hadap-hadapan.
"Oh, gue bawain ini buat lo," Shia nyerahin tas yang dia pegang, "Burrito sarapan berminyak, makanan buat mabok paling enak yang gue tau," dia senyum pas Ryder ngeliat ke dalem tas. "Dan ini, teh chamomile," sambil nyerahin gelasnya Shia lanjut, "Harusnya bisa nenangin pusingnya," dia nunjuk ke kepala Ryder.
Ryder nggak yakin gimana harus bereaksi, nggak ada yang pernah kayak gini sebelumnya buat dia. Perasaan baru muncul dari tindakan ini, siapa Shia Yorkton? Dan kenapa Ryder pantas buat dia sebaik ini? Apalagi Shia dikenal nggak baik ke siapa pun "Ya udah gue pergi dulu ya, biar lo siap-siap ke sekolah,"
Shia lagi menuju pintu pas Ryder nanya, "Nggak mau bilang makasih gitu?"
Dia noleh lagi ke Ryder "Gue nggak ngelakuin ini buat ucapan makasih, gue cuma mau mastiin lo baik-baik aja." "Gue nggak yakin gue pantes lo sebaik ini,"
"Kenapa nggak?"
"Nggak tau," Ryder ngangkat bahu, "Cuma nggak mikir gue pantes aja"
"Nggak papa mikir gitu, kita semua mikir ada hal di luar sana yang nggak pantes buat kita, hal yang kita mau tapi nggak tau gimana cara mintanya. Itu
cuma berarti lo makin pantes buat dapetinnya"
"Gue pantes lo sebaik ini setelah kelakuan gue semalem?"
"Ryder gue udah bilang nggak ada yang rusak, lo mabok, kita semua ngomong macem-macem pas lagi mabok," Shia bisa liat kalau penenangannya nggak beneran mempan. Jalan lebih deket, Shia ngejembatani jarak di antara mereka dan bilang "Gue mau lo tau, gue jualan ganja nggak buat alasan yang aneh-aneh, cuma buat nambah duit."
"Lo nggak perlu jelasin ke gue, seharusnya gue nggak nanya."
"Iya harusnya, lo boleh nanya apa aja sama gue, oke." Shia nyari tatapan cowok itu pas Ryder berusaha keras nenangin jantungnya karena Shia berdiri begitu deket, cukup deket buat Ryder bisa liat betapa lembut bibirnya, betapa dalem mata coklatnya, dan rambutnya— kenapa dia pengen banget nyentuh rambut Shia?
"Lo mau nginep? Gue bisa anter kita ke sekolah"
"Mau sih, tapi nggak bisa, gue harus lari pulang ngecek nyokap gue sebelum sekolah mulai" "Oke," Ryder ngangguk sedih
"Tapi kita ketemu di sekolah, gue beneran bakal nyari lo kali ini," kata Shia dan senyum yang muncul di wajah Ryder bikin dia senyum juga.