Bab 202
Marco
Hari pertama gue kerja, dan jadi asistennya Marco Sanchez, bakal sepadan banget. Gue harus datang lebih awal, gue harus kasih kesan pertama yang bagus. Gak nyangka gue beneran bisa kerja sama cowok yang udah lama banget gue taksir sejak SMA. Marco Sanchez umurnya 37 tahun, dan gue baru 22 tahun, tapi gue gak peduli dia lebih tua, dia kelihatan lebih keren kalau udah tua.
Gue lari masuk gedung sambil bawa kopinya, mastiin gue udah di depan ruangannya sebelum dia, gue pastiin gue udah hapal semua kesukaannya, gue mau dia suka sama gue. Gue berhasil datang tepat waktu dan berdiri di depan ruangannya, dan 5 menit kemudian pintu lift kebuka dan keluarlah Marco. Dia jalan ke arah gue, dan gue bisa ngerasain keringat di telapak tangan gue, dan itu bukan karena gue megang kopi panas. "Selamat pagi, pasti kamu Tuan Condor," dia ambil kopi dari tangan gue, "Terima kasih," "Kamu bisa panggil saya Chad, Pak."
"Oke, Chad, ikut saya," dia jalan ke ruangannya dan gue lakuin apa yang dia bilang. jalan ke belakang mejanya "Jadi Chad, saya yakin asisten sebelumnya udah kasih tau kamu semua yang boleh dan gak boleh..." Gue ngangguk dan dia lanjut, "Saya belum pernah punya asisten cowok sebelumnya, dan saya milih kamu karena semua asisten cewek saya gak ada yang bagus. Nah, kamu gak bakal bikin saya kecewa, kan, Chad?"
Gue gak akan pernah mikir kayak gitu, "Gak, Pak, saya gak akan."
dia senyum dan ngangguk, "Bagus, bagus, ya udah, meja kamu di luar sana, jadi sana siap-siap, nanti saya panggil kalau butuh apa-apa." dia nyuruh gue pergi, dan gue langsung pergi.
Gue jalan ke meja gue dan naruh tas gue, terus gue keluarin laptop gue, pas banget cewek pirang ini nyamperin gue, "Kerja buat bos, ya?" Gue geleng kepala, gak mau kontak mata, dan dia nambahin, "Untung aja dia orang paling gampang di sini buat diajak kerja sama, dia gak sekeras atau sekaku orang-orang berdasi lainnya yang brengsek itu."
Gue senyum dan ngelihat ke arah dia, "Bagus deh. Gue Chad." "Hai Chad, gue Jane."
"Senang ketemu lo, Jane," kita salaman dan dia pergi.
Udah tiga jam berlalu, dan dia belum manggil gue, gue duduk di sini sepanjang hari berusaha kelihatan produktif. Gue gak bisa lihat apa yang dia lakuin atau denger suaranya. Andai aja dia butuh gue.
Selang 30 menit kemudian, telepon meja gue akhirnya bunyi dan gue langsung angkat, "Halo." "Ya, Chad, bisakah kamu ke sini?"
"Boleh." Gue berdiri dari kursi gue dan jalan ke arah pintunya, terus buka kenopnya, "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Saya ada janji ketemu dalam 20 menit, dan saya butuh salinan dokumen ini." Dia ngasih gue kertasnya dan gue ambil.
"Berapa banyak yang Bapak butuh?"
"Saya butuh 6 masing-masing, dan pastikan di-staples."
"Siap, Pak." Gue keluar dan berhenti, sadar gue gak tau ruang fotokopi di mana. Gue harus cari Jane, pas gue bilang gitu, gue lihat dia lagi jalan dan gue teriak, "Jane!" Gue lari ke arah dia, "Gue butuh bantuan lo!"
"Cepetan."
"Ruang fotokopinya di mana?"
"Oh, tinggal ikutin jejak meja di sana, terus belok kiri, dan pintu ketiga di sebelah kanan lo itu ruang fotokopi."
"Makasih, Jane." Gue lakuin apa yang dia bilang dan langsung kerja.
Seminggu udah berlalu dan gue cuma fotokopi atau bikinin kopi. Tapi gue perhatiin, Marco udah mulai kasih kode-kode ketertarikan di sana-sini, kayak bilang, "Wah, Chad, celana itu pas banget di badan kamu," atau dia bilang, "Kamu wangi banget," dan kadang dia bahkan ngedipin gue, dan gue gak mau mikir berlebihan atau ngelakuin sesuatu yang bisa bikin gue dipecat, jadi gue gak mau ngomong apa-apa.
Sabtu, dan gue harus kerja, jadi seperti biasa gue pastiin gue udah ada di sana sebelum dia. Ini dia datang, pakai setelan Italia yang dibuat khusus untuk badannya dan senyumnya cukup terang untuk bikin buta kalau lo natapnya terlalu lama, "Selamat pagi, Chad, Silakan ikut saya, kita ada banyak yang harus dikerjakan hari ini." Gue setuju dengan tenang dan ngikutin dia masuk, pas gue taruh kopi di mejanya, dia buka vestnya, memperlihatkan ototnya yang hampir keluar dari kemejanya. "Kita bakal kerja sampai malam ini, saya ada rapat pagi yang saya butuh bantuan kamu untuk persiapannya, gak apa-apa?" Gue paling suka kalau bisa kerja lembur cuma berdua sama dia.
"Boleh, saya suka banget kerja lembur sama Bapak," oh enggak, "Maaf, itu salah ngomong." dia senyum saat gue memaki diri sendiri.
"Gak apa-apa, Chad, saya juga suka kerja lembur sama kamu," gue bakal inget itu.
Jam 6 sore datang dan kantor hampir kosong, gue cuma duduk di bilik kecil gue nunggu dia manggil. Pintunya kebuka, "Chad, ayo mulai kerja."
"Siap, Pak." Gue bangun, ambil laptop dan redbull gue, terus masuk, "Kamu bikinin saya satu?" dia bilang sambil nunjuk tangan gue yang megang redbull.
"Oh, maaf, Pak, gak tau Bapak mau, bisa saya balik lagi buat beli satu."
"Gak apa-apa, kita bagi aja punya kamu," katanya sambil ambil redbull dari tangan gue dan minum.
Hampir satu jam dia kerja dan gue nyatet, dia bilang, "Chad, boleh saya minta bantuan kamu?" "Apa aja, Pak."
"Saya agak keseleo otot bahu minggu lalu pas main basket sama temen-temen, dan sekarang sakit banget, jadi saya mau tanya, bisakah kamu pijitin?" Gue ragu, tapi gimana bisa gue nolak, maksudnya, lihat dia.
"Boleh." dia duduk di kursinya dan gue pelan-pelan berdiri di belakangnya, naruh tangan gue di bahunya, gue usap lembut, terus dia bilang, "Jangan takut buat lebih dalam lagi," dan gue lakuin apa yang dia bilang.
Beberapa menit pijit, gue mulai rileks dan gue bisa tau dia nikmatin karena desahannya yang lembut, yang beneran bikin gue horny, tapi gue tahan diri buat gak ngelakuin apa-apa. Terus tiba-tiba dia mulai lepas dasinya dan buka tiga kancing pertama kemejanya, gue gak bereaksi, gak masalah kalau dia mau nyaman.
Gue pengen banget lompat ke dia, tapi gue tahan diri. Pelan-pelan naruh tangannya di tangan gue saat gue terus pijit bahunya, dia bilang, "Chad?"
Gue jawab, "Ya, Pak?"
"Kamu punya tangan ajaib." Dia senyum, balik badan buat ngadap gue, dan gue gak inget apa yang terjadi setelahnya, tapi yang gue lihat cuma bibir gue di bibirnya dan gue langsung menjauh.
"Maaf, Pak, saya gak sengaja."
dia bangun dan gue mundur ketakutan kalau dia bakal mukul gue atau apa, tapi malah dia cium gue, meluk pinggang gue, terus menjauh, masih meluk gue, "Saya udah nunggu kamu ngelakuin itu," dia senyum dan bersandar lagi, terus nyium gue lagi, kali ini pake lidah, sementara tangannya mengusap pantat gue, dan rasanya luar biasa, bibirnya berpindah dari bibir gue ke leher gue dan dia gigit dan ngemutinnya, 'Gue pasti bakal punya bekas di sana' pikir gue sambil ngebuka kancing kemejanya.
Dalam waktu 15 menit, kita udah telanjang di mejanya, kaki gue melilit pinggangnya dan dia siap menusuk 'anu' kerasnya ke lubang gue yang sempit, "Kamu siap?"
"Ya, tolong fuck gue, Pak," gue memohon dan dia tertawa kecil.
"Saya suka kalau kamu panggil saya Pak, bikin saya merasa punya kamu."
"Memang, Pak," gue jawab balik dan dia pelan-pelan dorong masuk ke gue, "YA TUHAN!" gue teriak, dia gede banget, tapi rasanya enak banget.
"Mmm, kamu sempit banget, Chad," katanya saat dia meng-fuck gue, gue desah dan terus desah, dia juga, "Saya suka lubang kamu yang sempit ngejepit saya," katanya di sela-sela desahannya.
Kita ganti posisi dan sekarang gue di dinding dan dia nge-fuck gue lebih keras lagi, gue bisa ngerasa dia mau keluar, "Tolong keluar di dalam saya, Pak."
"Mmm, itu yang kamu mau?"
"Ya, Pak." dia terus nge-fuck gue, makin cepat sampai semenit kemudian dia menggerutu dan gue bisa ngerasain cairan hangatnya di dalam pantat gue. Setelah itu kita tiduran di lantai dan gue gak bisa berhenti mikir 'Marco Sanchez
C.E.O perusahaan cowok terseksi di dunia itu gay' Gue bakal suka kerja buat dia.