Bab 181
Lyle
"Gue pulang dulu, Billy."
"Lo udah beresin surat-surat buat tiga penangkapan hari ini?"
"Udah." Sambil nutup loker, gue ambil tas olahraga gue. "Ketemu besok pagi." Terus gue cabut, mau ke apartemen gue. Gue nyetir di jalan tol.
Nama gue Mark Diamond, umur gue 25 tahun, dan polisi baru lulus dari akademi. Nggak ada yang percaya gue bisa ngelakuin ini. Temen-temen gue nggak percaya gue bisa ninggalin urusan ranjang gue buat fokus sama kerjaan, tapi cowok playboy yang dulu gue banget udah nggak ada. Ya, sesekali sih gue ML santai di sana-sini, tapi nggak masalah, kan?
Parkir mobil, gue jalan ke pintu depan. Mau buka kunci, eh, ternyata pintunya udah kebuka. Gue ambil pistol, angkat pelan-pelan terus masuk. Siapa pun yang masuk sini harusnya tahu gue polisi. Gue jalan-jalan, tapi nggak ada siapa-siapa. "Mau nembak siapa pake itu?" Seseorang nanya dari belakang, bikin gue kaget.
"ASTAGA, LYLE!" Gue kaget sambil teriak. "Gue bisa aja nembak lo!"
Dia ketawa sambil dorong pistol gue ke bawah. "Mending lo geledah gue dulu." Dia mendekat, gue mundur. "Ngapain lo di sini? Dan gimana caranya lo masuk?" Gue taruh pistol di meja terdekat.
"Polisi kok nggak becus ngunci pintu. Gue cuma mau ketemu lo," Lyle, cowok 19 tahun yang dulu pernah gue tidurin sebelum gue jadi polisi resmi enam bulan lalu. Gue udah bilang jangan deket-deket lagi, tapi dia tetep aja dateng. Ya, kita ML sesekali, tapi kadang gue bilang nggak mau, dan pas kayak gitu dia bakal ngelakuin hal bodoh biar gue bisa nangkap dia, cuma biar bisa ketemu gue.
"Lyle, lo harus pergi," kata gue sambil ngejauh dari dia.
"Lo nggak mau gue pergi," dia ngikutin gue naik tangga, ke kamar gue. "Lo mau gue di sini, akui aja."
"Kemarin gue harus bilang ke mereka buat nggak catet lo di kantor polisi karena lo cuma mau cari perhatian gue."
"Dan berhasil!" Gue bisa ngerasain dia senyum di belakang gue.
"Gue berusaha bersikap profesional, Lyle! Mereka belum hormat sama gue!"
"Masa sih?" Dia muter badan gue biar hadap dia. "Gimana mereka nggak hormat sama lo? Lo seksi banget pake seragam ini." Dia godain gue sambil meluk leher gue. "Pak Diamond, kapan aja boleh tangkap saya!"
"Jangan godain gue," gue lepasin tangannya. "Sekarang pulang!" Gue masuk kamar terus mulai buka baju. "Biar gue bantu." Dia mulai buka kemeja gue pelan-pelan sambil natap gue menggoda.
"Nggak mempan," kata gue pas tangannya mulai nyentuh gesper celana gue.
"Yakin nih?" Dia nanya sambil jongkok di depan gue, buka gesper celana gue pelan-pelan. "Kalo nggak mempan, hentikan gue." Dia tahu gue nggak bisa nghentiin dia, dia ngeselin banget. "Lo pake celana dalam model briefs." Dia senyum. "Gue suka lo pake briefs." Dia pegang burung gue yang masih di dalem briefs, terus mijit pelan-pelan.
Gue tarik dia berdiri sambil dia tetep ngusap-ngusapnya, terus gue cium dia. Bibirnya alasan gue nggak bisa nolak dia, bibirnya yang lembut berasa dan berasa enak banget. Dia cium perut gue, terus turun ke burung gue yang hampir keras lagi, dan gue nggak nghentiin dia. Pelan-pelan dia keluarin, terus dia natap gue. "Sial, gue selalu lupa seberapa gede itu," terus senyum. Pelan-pelan dia masukin semua ke mulutnya, sial, enak banget. Dia jilatin ujungnya sambil ngocokinnya, ciuman-ciumannya berasa luar biasa.
"Gue selalu lupa seberapa jago lo dalam hal itu," gue banting kepala ke belakang sambil mengerang saat dia ningkatin tempo bikin gue makin mengerang. Ini berlangsung beberapa menit, tapi gue nggak tahan lagi, gue mau ngentot dia. "Sini," gue tarik dia berdiri, terus dorong dia ke dinding terdekat, nempelin mukanya ke dinding.
"Ada hadiah buat lo di sana," katanya pas gue buka resleting celananya.
"Apaan?" gue nanya sambil nunduk di belakang dia. Gue turunin celana dan celana dalamnya, terus nemuin ada colokan putri pink di lobangnya. "Sial, panas banget." Gue cium pantat kecilnya yang imut terus lebarkan, terus mainin colokannya, keluar masukin dia, bikin dia mengerang.
"Mmmm, lo suka?" Dia mengerang pelan saat gue kagumi pantatnya yang lembut, imut.
"Gue suka banget," jawab gue sambil cabut colokannya. "Tapi gue rasa lo bakal lebih suka ini," berdiri, gue tarik pinggangnya ke arah gue, terus pelan-pelan masukin burung gue ke lubang kecilnya.
"FUUUUUUCK!" Dia ngegas di kata-kata itu saat gue penetrasi dia. "Lo gede banget," dia mengerang. Gue ningkatin tempo saat mukanya dan depannya masih nempel di dinding dan tangan gue di pinggangnya. "Iya, entot gue," erangannya keluar kayak tangisan, bikin gue makin horny, bikin gue makin kencang. "Iya Pak Diamond, entot gue!"
"Ini lubang siapa?" gue nanya sambil narik rambutnya saat gue entot dia. "Lubang lo! Ini punya lo, daddy!" dia nangis sambil garuk-garuk dinding.
Setelah beberapa lama gue keluar, muterin dia, gue gendong dia dengan kaki di pinggang gue. Gue masukin lagi burung gue ke lubangnya, terus lanjut ngentot dia. "Twink kecil yang ringan," kata gue saat kepalanya terkubur di leher gue.
"Enak banget!" Dia mengerang saat gue terus ngentot dia. Tiga puluh menit kemudian. "Gue mau keluar!"
"Keluar, daddy," dia cium gue. "Kasih ke gue." Gue entot dia lebih keras, dan tanpa ragu, gue keluarin isi gue di lubangnya. Kita berdua mengerang terus roboh ke lantai. Dia ketawa. "Sial, harusnya gue lebih sering masuk sini."
Kehabisan napas, gue jawab, "tolong jangan."