Bab 114
"Gue lagi libur Natal, gimana kabarnya?"
"Baik, ya, sekarang gue yang ngurus toko punya Buddy, jadi lumayan seru."
"Wah, iya, dan lihat truk lo, gede banget dan... merah," kata itu agak canggung. Gue selalu canggung kalau deket sama Carson sejak SMA, SMA emang parah, tapi Carson Davis bikin jadi lebih gampang, cuma dengan hadirnya dia di koridor sekolah.
"Coba ceritain apa yang terjadi di sini." Dia jalan muter-muter, merhatiin mobil gue.
"Begini, kap mesinnya udah bunyi aneh gitu beberapa mil, terus pas gue sampe sini, langsung ngebul. Kayaknya dia ngasih peringatan buat jangan pulang, atau gimana gitu." Gue ketawa kecil, terus Carson senyum sambil ngeliatin gue.
"Gimana kalau kita buka kapnya?" Gue masuk ke mobil, narik tuas kecil buat buka kap. Berdiri di depan mobil, Carson kena semburan asap, pas udah mulai bersih, dia masukin tangan sambil celingak-celinguk. "Ini masalahnya," dia nunjuk. "Busi lo lumayan rusak."
"Oh, ya, parah banget, ya?" Gue pura-pura, padahal gak ngerti sama sekali apa yang dia omongin.
"Gak ada yang gak bisa gue benerin." Dia noleh ke gue. "Gini aja, gue pasang ini, terus gue bawa balik. Nanti gue bisa anter lo ke rumah orang tua lo kalau mau, tapi kita mampir dulu ke bengkel buat nurunin mobilnya. Gimana?"
"Mantap." Gue ambil barang-barang dari mobil, terus masuk ke truknya dia. Gue cuma liatin dia masang mobil, gak ikutan bantu karena jujur, gue malah bikin makin parah. Gue liatin Carson di spion, meleleh karena setelah bertahun-tahun gak ketemu, dia masih ganteng banget, dan gue masih bocah yang diam-diam naksir dia, kecuali sekarang gue gak ngumpet lagi.
"Gimana kuliahnya sama kota gede?" Carson nanya pas kita jalan ke bengkelnya.
"Seru sih, tapi kayaknya gue tidur terus deh," gue ketawa kecil. "Lo gimana?"
"Ya, seperti yang lo lihat, gue masih di sini. Kuliah bukan dunia gue, tapi gue mulai kerja sama paman Buddy, dan tahun lalu dia pensiun, terus ngasih toko ini ke gue, jadi gue sibuk ngurus toko."
"Wah, bagus tuh."
"Mau coba lagi, tapi yang beneran dari hati?" Kita ketawa.
"Gak, gue beneran bilang itu bagus. Lo nemu sesuatu buat bikin lo tetep di sini. Gue gak pernah bisa."
"Gue inget lo selalu mimpiin gimana rasanya pergi." Tempat ini emang bukan buat gue. Kita sampe di bengkelnya, terus dia buka pengait mobilnya. "Jadi, berapa lama benerinnya? Gue gak buru-buru, gue di sini sebulan."
"Gak akan lama kok." Ya Tuhan, gue kedinginan banget, gue lupa jaket, sekarang gue kelihatan kayak orang bodoh. "Mau ngopi dulu buat ngobrol sebelum gue anter pulang?" Ya Tuhan, mau banget!
"Boleh, warung kopi masih buka?"
"Masih, tapi gue mikir mau di atas aja. Gue punya Keurig yang mewah, terus nyokap gue bawain kue Natal pagi ini. Gimana?" Gue ngangguk. "Ayo."
Ngikutin dia, kita naik tangga di bengkel, sampe di apartemennya. Dia punya tempat yang lumayan bagus di atas bengkel. Dia buka jaketnya, terus nutup pintu di belakang gue. "Kenapa lo buka pas Natal?" Gue ngikutin dia ke dapur.
"Gue gak buka, tapi nyokap lo minta bantuan, dan Nyonya Shay selalu dapet apa yang dia mau." Dia senyum. "Keren, kan?" Dia nunjuk ke rak berisi kopi kapsul. "Lo bisa pilih yang mana aja, terus tinggal masukin ke sini." Gue jelas tahu gimana cara kerja Keurig, tapi semangat dia soal itu tuh lucu banget.
"Kapan lo pindah ke sini?" Gue nanya pas kita berdiri di dapurnya, ada jarak di antara kita. "Setelah paman Buddy ngasih hak milik ke gue tahun lalu, istrinya dia yang ngerjain tempat ini sebelum dia meninggal, terus dia bilang ini semua punya gue, jadi gue bisa pindah dari rumah orang tua gue."
"Ini bagus banget."
"Makasih." Kita mulai minum kopi, suasana canggung, menghindari kontak mata. "Pasti lo seneng balik lagi, terus ketemu keluarga lo."
"Lebih takut daripada seneng sebenernya."
"Kenapa?"
"Ya, ada masalah soal gue gay, mereka kayaknya gak bisa terima, jadi selalu jadi pertanyaan tiap gue ketemu mereka."
"Gue yakin lo bisa hadepin itu."
"Itu masalahnya, gue cuma gak mau tahun ini. Sekolah udah bikin stres banget, terus gue pengennya pulang, santai, tapi gak bisa."
"Gue bisa bantu soal itu." Gue liatin dia jalan ke lemari, terus ambil sebotol alkohol. "Gak ada yang gak bisa diobatin sama sedikit rum di kopi lo." Dia senyum.
"Kayak lo bisa baca pikiran gue." Gue kasih cangkir gue ke dia, terus dia nuang. "Makasih." Dia nuang juga ke cangkirnya, terus naruh botolnya.
Pindah dari dapur ke sofa, kita duduk dengan jarak di antara kita. "Inget Erin Pepperknack?" Gue ngangguk. "Sekarang dia hamil."
Gue ketawa. "Gue gak kaget." Erin emang gampang banget. "Terus Andy Stevens gimana?" Teman baiknya. "Dia pindah ke barat, tinggal beberapa dari kita di kota ini, semua udah pergi," katanya dengan nada sedih. "Bukan gue komplain, tapi gue gak pernah mikir ada yang salah sama tempat ini."
"Mungkin gak buat lo, Carson, tapi buat orang kayak gue yang gak pernah nemu tempat di sini, selalu dikucilkan karena beda, ini gak cukup."
"Gue harap gue gak pernah bikin lo merasa gitu."
Dia satu-satunya yang ngundang gue ke pestinya, padahal gue gak pernah dateng. Gue selalu di rumah, berkhayal gimana pestinya. "Gak pernah."
Kita lanjut minum, hp gue bunyi terus, ada telpon sama pesan dari nyokap yang gue lupa sama sekali. "Gue gak siap ke sana." Gue berdiri, jalan ke dapur. "Gimana caranya gue ngumpet di sini sebulan?" Gue nuang rum lagi ke cangkir gue.
"Bisa." Carson jalan nyusul gue, terus naruh cangkirnya dan ngeliatin gue. Gue senyum, berusaha gak bikin canggung, tapi dia kelihatan agak serius. "Flynn, boleh gak gue ngaku sesuatu?"
"Boleh banget."
"Gue agak tahu lo suka gue pas SMA." Berusaha nutup wajah yang kaget. "Maksudnya 'agak' gimana?"
"Ya, gimana lo bersikap, ditambah ini." Dia pergi, dan gue nunggu, panik, ini gak mungkin terjadi. Gue habisin cangkir rum gue. "Gue nemu ini di loker gue pas Valentine waktu kelas dua SMA." Catatan gue. Gue buka, baca lagi, inget banget pengakuan gue, kata demi kata.
"Gue—" Gue benerin diri gue. "Siapa pun yang nulis ini gak tanda tangan, kok lo yakin itu gue?"
"Mungkin gue bukan orang paling pinter di SMA kita, tapi gak butuh waktu lama buat gue tahu itu tulisan tangan lo." Dia nyimpen itu, empat tahun dia nyimpen catatan bodoh itu.
"Kenapa lo simpen?"