Bab 62
"Gak tau," itu bener, Nico gak pernah repot-repot belajar tim mana yang bener-bener dibela Christian, bukan berarti dia pernah dengerin kalau cowok itu lagi ngomong.
Gak gitu cara distraksi bekerja?
Nico nungguin Clay buat jemput dia "kamu pake kaos kaki gak?" Adik ceweknya nyamperin dia sambil nanya.
"Apa, Pen?" Dia nanya bingung sama pertanyaan itu. "Kamu pake kaos kaki gak?" Dia ngulang pertanyaannya. "Kenapa emang?"
"Aku lagi ngerjain proyek buat kelas tentang kenapa kaos kaki itu penting," dia ngejelasin lebih lanjut.
"Iya Penny aku pake kaos kaki."
Dia nulis di buku catetannya, "kamu suka kaos kaki buat nyaman atau kaki kamu yang jelek?" "Apa? Aku gak punya kaki jelek!"
"Guru aku bilang aku harus dapet penjelasan kenapa tiap orang pake kaos kaki," dia nyoba ngejelasin lebih lanjut.
"Jauhi aku Penelope!" Nico punya hal lain buat dipikirin, jadi dia gak mau mikirin adiknya yang bilang kakinya jelek. "Ya ampun" dia ngeliatin dia pergi sambil geleng-geleng kepala, gimana caranya dia bisa jadi yang normal di keluarganya.
Mereka akhirnya sampe di sekolah dan Clay parkir, pas mereka jalan ke arah sekolah, dua cowok itu denger, "Hei Michael Phelps!"
Clay dan Nico noleh dan ngeliat Matty sama segerombol temennya lagi berdiri di belakang mobilnya sambil minum-minum. "Michael Phelps?" Clay nanya.
"Lelucon kelas renang."
"Kamu punya lelucon sama semua orang di sekolah ini?" Nico gak ngejawab. "Sini minum sama kita sebelum pertandingannya mulai, ajak temenmu juga."
"Temen?" Clay bereaksi. "Aku bener-bener udah satu sekolah sama dia dari kelas dua SD."
"Mau gak?" Nico nanya dia sebelum jalan nyamperin Matty.
"Eh aku harus cari tempat duduk yang bagus, kamu duluan aja, aku nyusul kok."
Clay pergi.
"Sebenernya Matty kita udah baik-baik aja, mungkin nanti." Nico nyamperin Clay dan mereka lanjut barengan. "Aku kesini sama kamu bukan mereka." Clay senyum.
Pas udah sampe lapangan, Clay dan Nico duduk bersebelahan di tribun, pas anak-anak itu keluar pake seragamnya, Nico bereaksi, "Oh! Ini lacrosse," dia ngeliatin Clay, "Aku gak tau."
Pertandingan selesai dan penonton berdecak kagum pas Christian dan timnya keluar lapangan. "Mereka kalah?"
"Yap," Clay ngejawab sambil berdiri. "Ngeselin buat dia, ayo kita bisa balik ke rumahku dan nonton film."
"Kita gak harus nunggu dia dan-"
"Nggak, dia mungkin bakal mabok-mabokan sama Matty." Keluar sekolah, Clay nyetir Nico balik ke rumahnya.
"Wah rumahnya bagus," Nico bereaksi pas dia keluar mobil.
"Makasih, orang tua aku beli biar kita gak harus saling berinteraksi." Ngikutin Clay masuk, mereka menuju dapur. "Mau minum, popcorn?"
"Boleh," Nico setuju sambil celingak-celinguk, "jadi kalian kaya ya?" "Mungkin, aku baru mulai tinggal disini beberapa tahun lalu."
"Kenapa?" Nico noleh fokus ke Clay.
"Singkat cerita, ayah kita bikin ibu hamil, terus ninggalin dia buat sama ibu Chris yang juga dia bikin hamil. Ibu aku besarin aku tapi dia meninggal beberapa tahun lalu jadi aku gak punya pilihan lain selain pindah kesini."
"Aku turut berduka soal ibumu,"
"Makasih, pokoknya susah akur sama siapapun disini karena aku gak sama kayak mereka tapi orang tua aku nyoba, beda sama Christian yang gak pernah gagal buat ngingetin aku betapa bedanya kita."
"Saudara itu yang paling nyebelin." "Kamu punya?"
Nico ngangguk "Mereka kecil tapi tetep aja ngerusak hidupku."
"Oke popcornnya udah, ikut aku ke ruang TV."
Sabtu biasa buat Nico gak pernah kayak gini, dia bakal ngilang sama beberapa temen, atau ketemu sama cowok yang lagi dia isengin dan mereka bakal cari tempat buat seneng-seneng. Tapi dia butuh ini sekarang, sesuatu yang tenang dimana dia sama cowok yang cuma temen, dan gak mikirin apa yang mungkin mereka lakuin di ruangan gelap sendirian. Orang tuanya takut anaknya jadi nympho remaja.
Sadar setelah beberapa saat mereka lupa minuman mereka, Nico bilang "Aku ambil minuman ya," dan bangun ninggalin Clay disana. Jalan ke dapur dia berhenti pas masuk dan ngeliat Christian bersandar di meja sambil nenggak bir. "Minum sendirian?"
"Oh hai" Christian ngeliat dia, "ngapain kamu disini?"
"Aku sama Clay balik kesini setelah pertandinganmu buat nonton film," Nico ngejelasin. "Kamu liat ya?"
Ngangguk, "agak susah buat kelewatan."
"Kita biasanya gak seburuk itu kok janji deh." Jalan mendekat Nico berdiri di depan Christian bersandar di meja di belakangnya.
"Terus kenapa kamu keliatan sedih banget kalau cuma satu pertandingan?"
"Gak ada yang suka kalah" dia minum lagi birnya, "Kakakku ngebosenin kamu di dalem?" "Dia gak ngebosenin aku, cuma nonton film aja."
"Kamu pasti tertarik banget sama filmnya" "Iya."
"Terus kenapa kamu disini ngobrol sama aku?" Christian senyum, "Gak apa-apa gak usah dijawab."
Nico ngeliatin Christian nurunin kepalanya natap botol di tangannya, masih cukup sedih soal pertandingannya, "Kamu gak apa-apa?" Nico nanya.
"Clay bisa cemburu banget jangan kira dia bakal suka kamu khawatir sama aku," "Aku sama Clay cuma temen."
"Buktiin."
Nico ketawa kecil "Gimana caranya?" Gak disangka Christian maju mendekat, mendekatkan bibirnya ke bibir Nico, butuh waktu sedetik buat Nico buat menjauh tapi dia natap wajah cowok itu tau dia mau terus ciuman, jadi siapa yang bakal sakit kalau dia lakuin?
Christian dan Nico berdiri di tengah dapur ciuman dan udah beberapa minggu buat Nico, bisakah dia nahan diri?
Nyadarin dia lagi kehilangan kendali di ciuman ini, Nico menjauh ngeletakkin meja dapur di antara dia dan Christian. Mereka berdua nyoba buat narik nafas "Kamu siapa?" Christian nanya gak nyangka Nico bisa jadi pencium yang jago.
"Aku..." mikir yang terbaik kalau dia pergi, Nico bilang, "Aku harus balik ke Clay" dan keluar dari dapur. Jalan dari dapur ke ruang TV, Nico mikirin ciuman itu, gimana enaknya dan seberapa deket dia buat ninggalin Clay demi kakaknya. Dia inget Clay dan ngerasa gak enak. Pas dia masuk, dia ngeliat
Clay nungguin dan benci apa yang baru aja dia lakuin apalagi setelah janji gak bakal ngelakuin itu. "Hei kamu nyasar ya?" Clay senyum pas Nico duduk lagi.
"Eh iya, rumahnya gede soalnya" dia natap Clay yang fokus ke film yang lagi diputer. Berdehem Nico mulai "Clay"
"Hmm?" Clay noleh ngeliatin dia
"Um aku bener-bener hargain gimana baiknya kamu jadi temen aku beberapa minggu terakhir ini, dan aku tau aku bilang ke kamu aku pindah sekolah buat fokus sama hal lain tapi..." Nico tau yang terbaik cuma ngaku aja, mungkin Clay bakal ngerti. Tapi lebih susah dari yang dia pikir, Nico tau gimana perasaan Clay soal kakaknya.
Mikir dia tau kemana percakapan ini, Clay maju selangkah lebih jauh dan cium Nico.