Bab 39
"Kalau lo nemuin gue, kenapa lo gak coba cari temen-temen gue aja, bukannya bawa gue ke sini?" "Oh, maksud lo temen-temen lo, jessup, bawang, sama teletubbies?" tanya Shia, yang bikin Ryder kembali mengeluh malu.
"Gue ngomong gitu?" "Persis."
Mencoba mengalihkan pembicaraan dari dirinya, Ryder bertanya, "Dan cewek yang udah meninggal di sofa itu, lo nemuin dia juga di pesta?"
Shia terkekeh. Dia gak nyangka bakal ada pertanyaan kayak gitu, tapi dia jawab juga, "Emm, enggak, itu nyokap gue, dia udah sama rumah ini."
Saat dia tersenyum mendengar candaan Shia, sesuatu akhirnya menyadarinya Ryder, "Sial, gue harus telepon temen-temen sekamar gue, mereka pasti panik." Dia mengeluarkan ponselnya, lalu inget kalau baterainya mati.
"Udah dicoba," kata Shia, "bahkan udah gue cas juga buat lo, tapi gue gak punya iPhone jadi..." pengisi daya itu gak berfungsi buat ponsel Ryder. "Lo bisa pake punya gue, kalau lo inget nomor siapa gitu."
Saat mau nyerah dan ngaku kalau dia gak inget, Ryder inget gimana Lin maksa dia buat ngafalin nomor teleponnya kalau hal kayak gini terjadi. Sambil ngambil ponsel, Ryder mulai menekan nomor, dan Shia bereaksi, "Wah, gue gak nyangka lo beneran inget nomor orang."
Shia ngeliatin Ryder keluar dari berandanya saat dia lagi telepon, Ryder lebih kecil dari Shia dengan rambut cokelat berantakan. Bajunya selalu kebesaran, yang jelas nunjukin kalau dia lagi berusaha ngumpetin diri. Ryder Andrews gak terlalu peduli sama penampilan, dia punya wajah yang dia punya dan itu harusnya cukup. Dan emang gitu, buat Shia. Gak susah buat dia mikir cowok itu imut, dia emang gak nunjukinnya, tapi Ryder punya senyum yang khas, senyum lebar yang disertai gigi yang bagus.
Pas udah selesai, Ryder balik lagi, "Makasih," dia nyerahin ponselnya ke Shia, "Seseorang bakal jemput gue." Shia cuma ngangguk. "Gue Ryder, ngomong-ngomong," akhirnya cowok itu ngenalin dirinya.
"Gue tau." Shia masukin ponselnya ke saku, "Mau kopi gak sambil nunggu? Mungkin bisa ngilangin mabuknya." Ryder setuju, dan mereka masuk lagi.
Saat dia dikasih mug setelah beberapa menit diem di dapur, Ryder bertanya, "Kok gue gak pernah liat lo di pesta-pesta lain sebelumnya?"
Shia mengangkat bahu, "Gue selalu ada, lo aja yang gak pernah merhatiin gue."
"Lo udah merhatiin gue sebelumnya?" Dia bertanya sambil mendekatkan cangkir ke bibirnya.
"Lo agak susah buat gak diliat," jawab Shia dan perut Ryder langsung jadi tegang, maksudnya apa? Apa Ryder malu banget sampe seluruh sekolah tau? Gak ada rahasia lagi kalau dia berantakan, tapi Ryder selalu mikir kalau cuma dia yang tau rahasia itu, gimana kalau yang lain juga mikir dia berantakan?
"Gue juga tau tentang lo, tau gak?" Ryder mulai, dan Shia nunjukin ketertarikan sama kelanjutan kalimat itu, "Lo pada dasarnya ngejalanin departemen Nyonya Davenport" maksudnya departemen seni di sekolah. "Dan lo bantuin dia ngegambar mural di belakang sekolah, kan?"
Shia mikir gimana dia bisa tau hal itu, kaget ada yang tau informasi tentang dia. "Gue liat nama lo di sudut bawah, tulisannya kecil."
"Gue gak bantuin dia," dia koreksi, "Gue yang ngegambar semuanya malah." "Lo yang bikin?"
Shia ngangguk, "Satu-satunya cara kepala sekolah mau ngebiarin itu tetap ada adalah kalau Davenport yang ngaku."
"Itu bodoh banget, mural lo keren banget, lo harusnya dapet semua pujiannya," Ryder gak sadar pujiannya keluar dari mulutnya sampe dia berhenti ngomong dan ngeliat senyum Shia. Gak ada orang selain guru seninya yang pernah bilang kalau karya seni Shia keren di depannya, "Itu hal favorit gue di sekolah."
"Gue tau," ekspresi Ryder bikin Shia lanjut, "Gue pernah liat lo ngeliatin itu beberapa kali." "Bukan berarti lo tau kalau itu favorit gue,"
"Bener, tapi gimana lo ngejelasin kalau lo natap sesuatu lebih lama dari yang lo butuhin." Gak nyadar kalau Shia mungkin berdiri di sana, natap dia natap mural.
Saat mereka di dapur, cowok-cowok itu denger ada ketukan keras, yang bikin Shia langsung ngelempar mugnya, lari keluar ruangan dia buka pintu sebelum ketukan itu ngebangunin nyokapnya. "Hai, gue di sini buat—" Lin berhenti pas dia liat Ryder muncul di belakang Shia, "Hei."
Mereka semua keluar, "Makasih udah dateng," Lin ngangguk. Berbalik ke Shia, Ryder nyerahin mugnya, "Makasih buat ini," Shia ngambil cangkirnya. Sebelum pergi, Ryder bilang ke dia, "Dan juga karena gak ngebiarin gue pingsan di muntahan gue."
"Kapan aja," Shia tersenyum, dan Ryder membalasnya sebelum pergi dengan Lin.