Bab 192
"Sama-sama," jawabku. Dia berbalik mau pergi, sial, gue gak bisa biarin dia pergi gitu aja. Jadi, gue bilang sesuatu.
"Lo bukan orang sini, kan?"
Dia balik lagi ke gue. "Bukan, gue cuma lagi ada urusan di sini." "Ada urusan di kelab ini?"
"Enggak, ini bukan urusan."
"Oh, oke. Nama lo siapa?" gue nanya sambil senyum, dan dia balas senyum. "Sean Cartwright." Dia ngulurin tangan kirinya. "Kalo lo?" "Arrow, Arrow Neally." Gue jabat tangannya.
"Ngapain lo di sini, Arrow Neally?" "Lagi ngabdi sama negara," jawab gue sarkas.
Dia ketawa. "Lucu." Pas kita lagi berdiri di situ, bos gue keluar.
"ARROW! Kita butuh lo di dalem, ayo!" dia manggil.
"Itu kode," gue lari balik ke dalem, gak peduli buat nengok lagi ke dia. Di dalem, gue lanjut nyiapin minuman, tapi Sean masih aja ada di pikiran gue. Kalo dia bukan orang sini, dia dari mana? Dan, bisa gak dia ajak gue ikut?
Waktu gue lagi nyiapin minuman buat seseorang, gue denger suara nanya, "Gimana caranya cowok bisa dapat minuman di sini?" Gue senyum, tau itu dia, gak mau nengok, gue jawab, "Mereka harus tau nama gue."
"Wah, berarti gue selangkah di depan, dong?"
Gue kasih minuman yang gue bikin ke orang itu, terus noleh ke dia. "Mau pesen apa?"
Dia senyum. "Wiski, gak pake es, ya." Gue mulai bikinin minumannya. "Emang lo asalnya dari mana?" dia nanya. "Lo percaya gak kalo gue bilang gue gak tau?"
"Percaya."
"Kalo gitu, gue gak tau," gue nuang minumannya ke gelas, terus kasih ke dia. "Nih," gue sodorin, dia ambil. "Makasih," terus mulai jalan pergi.
"Tunggu, gitu doang?" gue nanya.
dia balik lagi sambil senyum. "Lo selesai jam berapa?" "Jam 3."
"Nanti ketemu jam 3," dia pergi. Maksudnya apa, sih?
Dia jauh lebih tua, tapi itu malah bikin gue makin pengen sama dia. Gue yakin dia jago di ranjang. Apa aja bakal gue kasih buat satu malam sama cowok itu.
----------
Udah hampir jam 3 pagi, dan gue bohong kalo gue bilang gak mikirin buat nungguin dia. Tapi, gue pikir dia kan di kelab, pasti dia udah nemuin yang lebih bagus. "Arrow, bisa mulai beresin barnya, gak?" bos gue nanya waktu gue lagi berdiri di belakang meja.
"Bisa," jawab gue, terus dia pergi. "OKE, SEMUANYA, MAAF YA, GUE HARUS TUTUP BAR SEKARANG. TAPI, KALAU KALIAN MASIH MAU MINUM,
BAR DI SANA MASIH BUKA!!" gue teriak ke mereka, dan semua orang pergi dari bar gue, terus gue mulai beres-beres. Waktu gue selesai, udah jam 3, dan semua orang mulai pergi. "Lou, gue udah selesai, gue mau cabut, ya," gue bilang ke bos gue.
"Gak masalah, besok gue kasih ceknya," jawab dia, dan gue pergi.
Waktu gue lagi jalan ke halte bis, ada mobil berhenti di samping gue. Jendela penumpang kebuka, dan itu Sean. "Mau bareng?" dia nanya.
"Halte bis kan di sana."
"Gue bisa anter lo pulang, gak masalah."
Gue gak yakin, lo kan minum."
Dia ketawa. "Gue cuma minum sekali, dan kalo bartender gue gak ngeracunin minuman gue, gue aman." Gue senyum dan buang muka, lagi mikir apa yang harus gue lakuin. "Ayolah, biar gue anter lo pulang, gue gak bakal gigit, janji."
"Itu masalahnya, gue gak mau pulang." Gue gak tau lagi ngapain, tapi kalo ini bikin gue bisa malam sama dia, ya udah, lah.
"Gak papa, kita bisa ke mana aja yang lo mau," dia senyum, dan gue nyerah, terus masuk ke mobilnya. Dia jalan, dan kita diem aja sekitar 5 menit, canggung, cuma senyum-senyuman. "Jadi, lo mau ke mana?" dia mecah keheningan.
"Gak masalah."
"Oke, kita bisa ke hotel gue, terus mikir mau ke mana lagi dari sana," dia lagi usaha bikin gue mau ke kamarnya, dan gue gak bisa bohong, gue juga mau ke sana.
"Mau culik gue?" gue bercanda.
"Kalo iya, pasti udah berhasil, lo kan udah di mobil gue."
Gue ketawa. "Kena." Kita sampe di hotelnya, terus dia keluar, bukain pintu buat gue, terus nyerahin kunci ke tukang parkir. Gue kayak orang asing di sini, gue anak kecil pake celana jeans dan converse di lobi hotel mewah, orang-orang pake jas dan gaun, gue ngapain, sih?
Kita jalan ke lift dan nunggu. Dia nyadar gue gak nyaman, terus nanya, "Lo gak papa?" "Apa cuma gue, atau semua orang lagi merhatiin kita?"
"Itu ganggu lo?"
"Cuma kayak mereka nge-judge gue." Pintu lift kebuka, kita masuk.
"Jangan dipikirin," kita sampe di lantai dia, lantai 14, terus keluar. Jalan di belakang dia, gue ikutin dia ke kamarnya. Terus, pake kuncinya, dia bukain pintu buat gue, dan gue masuk duluan. Kaget dalam hati, gue buka mulut waktu masuk kamarnya, ini bukan kamar, ini suite, suite yang luar biasa dengan balkon dan pemandangan yang bikin pengen mati. Gue ke pintu kaca, merhatiin pemandangannya waktu dia buka jaketnya. "Kita bisa keluar kalau lo mau."
Gue noleh ke dia sambil senyum. "Boleh?" dia ngangguk. "Mau minum dulu?"
"Gak, gue gak papa, makasih," dia buka pintu, kita keluar balkon, ngerasain angin sejuk. "Wah, pemandangannya luar biasa,"
"Gue tau," dia senyum. "Kalo gue ke sini, gue selalu minta suite ini karena pemandangannya emang keren banget." "Lo asalnya dari mana?"
"New York."
"Keren banget," suasana hening beberapa menit, kita merhatiin pemandangan.
beberapa menit kemudian, tanpa ragu, dia nanya, "Kalo gue minta cium lo, kesannya gimana?" "Gak gimana-gimana."
dia senyum. "Boleh?"