Bab 110
Trevor pt. 3
"Jadi, kamu di mana aja?" Ibuku dan aku jalan-jalan di mall "Kapan?"
"Serius, Silas? Kalau mau kabur tengah malam, jangan biarin pintu kamar kamu
kebuka lebar." Nggak peduliin dia, aku terus jalan "Ada apa?"
Mengingat tadi malam…
"Jadi, sekarang kita gimana?" tanyaku ke dia
"Gue mau muntah dan lo pulang aja" "Trevor... kita perlu ngomongin ini"
"Dan kita bakal ngomongin, tapi sekarang... gue pengen lo pergi dari gue."
Itu aja.
"Nggak, nggak ada apa-apa" Aku bohong… dan kita lanjut aja aktivitas.
Sampe rumah, aku duduk di kamar sambil ngecek barang-barang yang kubeli, ibuku masuk waktu aku di kasur "Hei, aku harus ke kantor beberapa jam, kamu nggak papa kan di sini?" Aku ngangguk "Aku balik lagi secepatnya ya, oke, makan sesuatu dan jangan di kamar terus."
"Iya, Ibu" jawabku dan dia pergi.
Ngerasa sendirian di kamar terlalu lama, aku turun ke bawah dan nyalain tv, bel pintu bunyi waktu aku di sofa. Bangun, aku jalan ke arah pintu dan ngebukanya buat Trevor "Sejak kapan lo mulai mencetin bel?" Aku tanya ke cowok yang gelisah berdiri di depanku, tangannya gemetaran dan bukannya jawab dia malah mendekat dan nyium aku. Bibir Trevor melilit bibirku dan dari semua waktu bibir kita bersentuhan, cuma kali ini yang bikin gue yakin, tapi kayaknya ini jebakan jadi aku dorong dia "Lo harus berhenti nyium gue!"
"Ayo kita lakuin ini," katanya sambil nyengir "Apaan?"
Masuk ke dalam, dia balik badan waktu aku nutup pintu "Gue nggak mau kehilangan lo Sy, dan gue nggak bisa cuma nyuruh lo buat nggak punya perasaan ke gue, gue tau itu
ggak bakal berhasil" "Lo masih mabuk?"
"Mungkin, tapi gue serius, kita saling sayang kan? Jadi, kenapa gue nggak bisa sayang sama lo kayak lo sayang sama gue?"
"Karena lo bukan gay"
"Lo tau itu dan lo tetep aja jatuh cinta sama gue, sebagian dari gue selalu tau lo lebih serius dari gue. Maksud gue, nggak banyak temen cowok saling bilang sayang kayak kita, tapi gue pikir lo perlu denger itu jadi gue nggak pernah masalah buat jujur.
Karena iya, gue sayang sama lo Sy tapi kalau gue nggak lakuin sesuatu, kita nggak bakal temenan lagi."
"Trevor, yang paling nggak gue mau itu lo ngelakuin sesuatu yang nggak lo mau demi persahabatan kita"
"Lo nggak bikin gue jijik" "Oh, makasih" Aku nyolot
"Nggak gue- itu salah ngomong maksud gue, pikiran tentang kita kayak gitu…" dia bahkan nggak bisa ngomong
"Serius gue nggak butuh lo ngelakuin ini"
Jalan ke arahku, dia naruh kedua tangannya di wajahku sambil natap mataku dalem-dalem, dia deketin wajahnya ke wajahku sampe bibir kita bersentuhan.
Buka mulutnya, dia ambil bibirku di antara bibirnya dan terus nyiumku sambil megangin kepalaku, aku bisa ngerasa diri sendiri makin tenggelam ke dalamnya. Gampang banget buat gue buat bilang iya karena yang gue mau cuma ngasih apa yang dia mau, "Itu bikin lo seneng?" Dia tanya sambil senyum waktu ujung hidungnya nyentuh hidungku
Aku ngangguk "Ini apa?"
"Ini kita lagi nyari jalan keluar, nggak papa kan?" "I… ya" ya Tuhan, gue bakal jatuh terlalu dalem.
Ini awalnya, dia nyerah buat buktiin kalau dia beneran sayang sama gue, gue makin jatuh cinta sama cowok yang nggak egois ini
dan dia bakal sadar kalau gue bener. Dia straight dan nggak peduli seberapa banyak eksperimen yang dia lakuin sama gue, dia bakal tetep straight, dan gue bakal tetep jadi eksperimen. "Ayo ke atas" dia gandeng tangan gue
"Apaan, kenapa?" Aku menjauh… Aku bisa lebih keren dari ini, gue tau gue bisa!
"Sy, karena bisa ayo" dia narik tanganku tapi gue nggak mau bergerak. "Gue serius" "Berhenti, lo bikin gue bingung"
"Kenapa lo nggak percaya gue?"
"KARENA LO BUKAN GAY!" Gue ngebentak sendiri "dan lo bikin kacau pikiran gue" "Maaf"
"Kenapa lo ngelakuin ini?"
"Gue udah bilang karena gue nggak masalah"
"Tapi lo nggak Trevor. Lo nggak mau gue" "Kenapa nggak?"
"Lo cuma nggak mau!" Aku membentak dan dia menjauh "Bertahun-tahun gue pendem ini sendiri dan ngendaliin dorongan gue, lo tau seminggu, dan lo udah nggak masalah?"
"Jadi gimana kalau gue nggak masalah?" Jantungku berdebar nggak karuan, sarafku udah kacau balau, dan sahabat terbaikku berdiri di sini di depanku bilang kalau dia nggak masalah kalau kita barengan. PLANET APA INI? Jebakan kayak apa ini?
Betapa bodohnya gue udah tau jawabannya dan setuju juga "Trevor, lo bukan gay"
"Oke, lo bener, gue bukan gay" dia jalan ke arahku sambil ngambil tanganku bikin gue ngeliat jari-jari kita bersentuhan, gue sayang setiap tulang di tubuhnya. "Atau mungkin gue gay buat lo" dan waktu itu nyentuh gue, selalu berasa kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Gue tau gimana rasanya tapi denger langsung beda banget, ini yang harusnya kerasa waktu akhirnya dapet apa yang lo mau. Bibirnya nyari bibirku terus mulai bersentuhan, nyerah aja Silas, nyerah aja. Angkat tanganku, aku taruh di rambutnya, bibirnya ada di seluruh wajahku. Nggak, dia bukan tukang cium yang berantakan, setiap sentuhan sempurna karena dia sempurna.
"Sy-" pintu kebanting dan kita menjauh, secara bersamaan berbalik buat ngeliat Ibuku dan Paris berdiri di pintu sambil natap kita. Cengirannya kebalikan dari omelan ibuku "Sini Paris masuk, Silas suka banget ngeliat lo"