Bab 78
Garret mikirin hari-harinya kayak udah nyerah aja, buat nyoba bahagia, punya tahun terakhir SMA yang seru, dan perasaannya ke Porter. Buat dia, gak ada gunanya nyoba ubah diri sendiri.
Koridor sepi, ini jam kosong dia, jadi Garret keliling gak ada kerjaan lain. Pas lagi jalan, hapenya bunyi, dia jawab nomor gak dikenal, "Halo."
"Hey," suara Porter ngejawab di seberang telepon bikin dia berhenti jalan, dia mikir gimana Porter bisa dapet nomornya tapi kayaknya gak bakal nanya. "Gue tau ini aneh gue nelpon tapi—"
"Garret!" Harper liat adiknya dan nyamperin dia, "Lo liat Porter gak?" dia nanya, "Gue terus-terusan nelpon tapi dia gak jawab."
Natap dia tanpa jawab, Garret tetep nempelin hape ke telinga, "Jawab aja gak,"
Porter bilang.
"Enggak," jawab Garret.
Harper menghela napas, "Ah, gue pengen dia jawab hapenya sialan! Gue baru aja liat Elia dan dia bilang Porter putus sama dia."
"Lo—Dia beneran?"
"Iya," jawab Harper, dan juga Porter di telepon. "Gue harus pergi nyari dia, makasih banyak udah gak ada gunanya," dia pergi. "Lo di mana?" Garret nanya Porter
"Atas tribun lapangan bola," "Harus gue kasih tau Harper gak?"
"Jangan, tapi lo boleh gabung gue."
Garret pengen banget bilang nggak ke Porter tapi sayang perasaannya terlalu kuat buat diabaikan, "Gue kesana."
Jalan ke belakang sekolah menuju lapangan, Garret celingak-celinguk sampe dia nemuin Porter duduk di paling atas tribun. Jalan ke atas, dia makin deket dan Porter liat dia "Selamat datang" dia senyum. Berhenti beberapa langkah, Garret natap dia "Mau duduk?"
"Di situ?" Garret nunjuk tempat di sebelahnya "Iya, Garret, duduk sini."
Garret duduk dan mereka berdua liatin lapangan, tapi pas Porter gak liat, Garret ngelirik dia "Lo gak keliatan sedih" "Kenapa gue harus sedih?"
"Lo kehilangan pacar."
Porter ketawa kecil "Gue gak kehilangan dia, gue mutusin dia, beda banget." "Kenapa lo lakuin itu?"
"Gue gak lakuin itu buat lo, kalo itu yang lo pikirin."
"Gue gak mikir gitu," iya sih.
"Elia mau hubungan terbuka, ternyata orang Eropa suka yang cair." "Gue turut prihatin."
"Enggak, lo gak prihatin, dan percaya deh gue baik-baik aja, Elia gak pernah serius sama apa yang kita punya." "Tapi dia ajak lo ke Italia,"
"Iya, dan perjalanan itu lebih buat dia daripada buat kita, gue cuma alesan buat dia balik lagi."
Garret susah banget buat gak kasian sama Porter, dia pengen gak peduli sama hidup Porter tapi dia gak bisa nahan diri. "Jadi lo baik-baik aja?"
"Gak juga," dia geleng-geleng kepala, "Makasih udah kasih tau gue gimana perasaan lo pagi ini, tapi Garret," dia noleh ke cowok yang duduk di sebelahnya, "Gue rasa gue gak bisa jadi orang yang lo butuhin. Gue gak bisa nuntun lo lewat ini dan itu yang lo butuhin."
"Enggak, bukan itu, gue udah keluar sejak kelas 2 SMA, gue rasa gue tau gimana caranya jadi gay."
"Tapi lo belum pernah punya pacar," Garret mikirin itu, kenapa dia gak pernah coba-coba? Gimana dia tau dia beneran gay kalo Porter satu-satunya cowok yang dia suka? "Kenapa bisa gitu?" Garret mengangkat bahu "mungkin lo nunggu gue," Porter nebak.
Geleng-geleng kepala "Gue gak—"
"Gak papa kok kalo iya," Porter nunjukin senyum tipis.
"Gue selalu tau perasaan gue ke lo itu susah, Harper bakal bunuh gue sebelum dia biarin gue kasih tau lo gimana perasaan gue, makanya gue gak pernah berharap apa-apa dari lo. Tapi gue tetep gak ngerti kenapa lo cium gue."
"Lo masih mikirin itu, Garret, kadang ciuman itu cuma ciuman aja." "Ini bukan cuma ciuman, paling nggak buat gue."
"Lo belum pernah cuma cium orang karena lo pengen?"
Garret geleng-geleng kepala, "Satu-satunya orang yang pernah gue cium cuma Daphne Collins waktu kelas 9 dan rasanya kayak salah banget." Bisa dibilang Garret gak pernah ada aksi dan makanya ciuman ini bikin dia bingung.
"Oke, mungkin gue cium lo karena gue gak tau gimana caranya makasih udah nyelametin hidup gue, gue mungkin udah tenggelam kalo bukan karena lo. Lo Florence Nightingale gue."
"Secara teknis harusnya Florence Nightingale kebalik karena lo cium gue, tapi bukan itu intinya" "Terus apa?"
Garret berdiri "Gue rasa gue baik-baik aja sekarang" akhirnya dia senyum, "Lo tau yang sebenarnya dan gue tau kenapa lo cium gue. Kayak yang gue bilang gue gak pernah berharap apa-apa dan mungkin sekarang setelah gue ngomong apa yang gue rasain, gue bisa lanjut. Gue cabut dulu ya, Porter" dia mulai turun tribun.
"Garret—" Porter manggil dia dan dia noleh, Porter keliatannya pengen ngomong sesuatu tapi malah gak jadi. Menghela napas Porter bilang "Gak ada," dan Garret lanjut jalan.
—
Sabtu sore, Porter ada di kasur Harper sementara dia di komputernya di mejanya, sambil natap langit-langit dia nanya, "Kenapa lo benci adik lo?"
"Apa?" Dia mencibir, "Lo ngomongin apa sih?" "Garret udah bilang sama gue" Porter duduk ngeliatin dia
Dia ketawa kecil "Berita penting banget, dia udah keluar sejak kelas 10."
"Bukan, maksud gue dia bilang gimana perasaannya ke gue dan kenyataan dia keluar karena gue." Harper menghela napas memutar matanya "Kenapa lo gak mau dia ngomong ke gue?"
"Karena itu Garret sialan! Dan gue lindungin dia kalo dia bilang ke lo, lo cuma bakal ngejek dia."
"Omong kosong," Porter gak setuju, "Lo bikin dia gak bilang ke gue karena mungkin ada kesempatan gue beneran mikirinnya."
Mikirin apa Porter? Berhubungan sama dia?" Dia berusaha buat gak ketawa
"Lo beneran gak kasih adik lo pujian yang cukup, Harper," Porter pengen dia serius dan dia gak. "Gue cium dia di pesta gue."
"Lo apa?! Kenapa?" Dia ngeliat Porter jijik
"Karena gue mau!" Porter nenangin diri "dan itu udah ganggu pikirannya dan dia bahkan gak bisa cerita ke lo soal itu, lo bukan kakak yang baik."
"Diem Porter" dia tiduran lagi dan dia balik lagi ke komputernya. Sepi lagi dan tanpa ngeliat dia, Harper nanya "Gimana? Lo mau pacaran sama Garret sekarang?"
"Enggak" dia menghela napas, "Gue gak bisa."
"Karena dia pecundang?" Dia noleh "Gue ngerti—"
"Enggak Harper" dia duduk lagi ngeliatin dia "karena dia layak yang lebih baik dan itu bakal jadi pacar pertamanya, gue gak mau jadi Elia lainnya buat dia."
"Ya Tuhan" dia masang muka "kayaknya lo suka sama dia."
"Gimana ya?" Porter mikirin ide itu
"Lo suka sama dia?" Harper natap sahabatnya siap buat denger yang sebenarnya
"Kayaknya sih gitu."
"Kayaknya gue harus tunjukin ini deh" dia noleh ke komputernya, "sini deh" Berdiri, Porter jalan deketin dia "tunjukin apa?"
"Lo tau gimana lo selalu ngeluh tentang gimana kita hampir gak pernah bikin kenangan waktu SMA dan gak pernah ngerekamnya?" Porter ngangguk "Dan lo tau gimana gue bilang gue nemuin hadiah terbaik buat lo?"
"Langsung ke intinya deh Harp,"
"Ternyata karena adik gue anak A/V, dia bikin prioritas buat ngerekam momen-momen yang kita lewatkan" dia buka videonya.
Sementara di dapur nyari cemilan, Garret ada di lemari "Mama! Apa kita gak ada pretzel?!" Dia manggil, kepalanya dalem lemari nyari kantongnya, "MAMA!" Dia teriak terus inget "Oh iya, lo gak ada di rumah, dan gue ngomong sendiri" dia noleh. "Ya ampun!" Dia loncat liat Porter berdiri di sana sambil senyum gak bilang apa-apa, "Makasih udah nakutin gue." dia narik napas.
"Sama-sama" Porter jawab "Dan Harper sama gue udah habisin pretzelnya, maaf."
"Oh gak papa, mau yang lain?"
"Gue mau sih" Porter maju sampe wajahnya tinggal beberapa inci dari Garret yang berusaha tetep tenang. Porter mendekat sampe bibirnya nyentuh Garret. Kaget sama ciuman yang gak dia duga, Garret bales ciuman sampe Porter menjauh, "Makasih" Porter berbisik sambil cengengesan.
"A-a-a- buat" Garret gagap kaget "Buat apa?"
Porter menjauh "Videonya, Harper nunjukkinnya ke gue, sempurna."
"Oh iya, gak ada apa-apa kok"
"Itu segalanya" Porter natap bingung dan kaget masih di wajah Garret, "Denger, gue gak bisa janji gue bakal jadi segalanya yang lo harapkan, dan gue gak bakal bohong dan bilang ini gak ada tekanan tapi gue beneran mau nyoba."
"I-i-ini?"
"Kita Garret, mungkin kita bisa kencan? Lo bisa ajarin gue gimana make salah satu kamera keren lo?"
"Lo gak harus gini Porter, gue serius waktu gue bilang gue siap buat lanjut, gue cuma mau lo tau aja."
"Ya sekarang gue tau dan gue gak mau lo lanjut, setidaknya belum." Porter nungguin jawaban tapi Garret cuma natap dia gak tau mau ngomong apa, "Gak papa, lo gak harus jawab sekarang, paling gak lo pikirin ya?" Garret ngangguk "makasih" Porter senyum terus pergi ninggalin dia di dapur.