Bab 169
"Dengar gak sih apa yang terjadi sama Eric dan Kaya?" Temenku, Stacy, nanya pas kita jalan ke kelas. "Gak, emang kenapa?"
"Dia selingkuh, terus mereka putus."
"Sial!" Lo bolos sekolah seminggu, dan semuanya berubah. "Gimana dia?"
"Dia diem, gak banyak ngomong sama temen-temennya, dan Kaya sering banget bolos sekolah." "Itu menyedihkan."
"Duh, Jude, ini kan persis yang lo mau. Lo suka sama Eric, dan kita berdua yakin dia juga suka sama lo. Cuma dia terlalu normal buat nyadar."
"Bener banget. Dia terlalu normal, dan lagian Eric gak pernah cerita ke gue soal hubungannya, jadi..."
"...dan kenapa lo mikir gitu, bodoh? Dia tau gimana perasaan lo, jadi dia gak mau bahas," kita udah mau masuk kelas, tapi dia berentiin gue. "Liat tuh, dia di lokernya! Sana ngomong!"
"Gak! Kita telat masuk kelas!" Susah banget ada di deket Eric. Dia selalu ngomong yang bener, dan gue selalu ragu sama kekuatan diri gue karena gue takut bakal nyerang dia dan nyium dia.
"Jude, kalo lo gak ngomong sama dia, gue yang buka baju." Dia gak bercanda. "Dan kita berdua tau gak ada yang mau liat itu," mukanya tetep datar.
Gue muter bola mata, terus jalan menjauh dari dia, menuju Eric. Gak pernah tau mau ngomong apa ke dia. Kata-kata cuma ngalir gitu aja dari mulut gue. "Hai," gue samperin dia, berdiri di sampingnya.
"Jude! Lo udah balik!" Dia senyum ke gue. "Gimana kabarmu?" "Baik, tapi gue denger soal..."
Dia senyum. "Yup, turun 120 pon." Gue ketawa.
"Gue turut sedih soal Kaya."
"Gak papa, emang udah waktunya."
"Kalo lo bilang lo baik-baik aja, ya udah bagus deh."
"Gue baik-baik aja." Gue balik badan mau pergi. "Mau ngapain malem ini?" Gue balik lagi. "Apa?"
"Lo sibuk?"
Meskipun gue sibuk, gue bakal bilang enggak. "Gak, gue kosong." Merem, gue nyesel ngomong gitu pas kata-kata itu keluar dari mulut gue. "Maksudnya, gue lagi gak ada kegiatan."
Dia senyum. "Oke, gue mau nanya, bisa gak gue beliin kita bir, terus main ke rumah lo? Mungkin kita bisa ngumpul?"
"Ya! Boleh banget!" FUCK FUCK FUCK!!!
"Mantap, sampai ketemu di rumah lo nanti," dia pergi. Lo mungkin gak ngerti gimana kacau balau-nya gue sekarang, tapi biarin gue jelasin. Eric itu cowok yang gue taksir sejak kelas 6, jauh sebelum gue tau gue gay. Dia gak masalah sama siapa gue, dan kita punya kebiasaan manggil dia 'suami sekolah' dan dia manggil gue 'istri sekolah', tapi itu dulu sebelum dia lepas behelnya dan sixpack-an.
Sekarang dia ganteng dan banyak ceweknya, kita udah gak bercanda kayak gitu lagi. Maksudnya, sesekali dia nepuk pantat gue, yang bikin gue meleleh dari dalem, tapi gue tau itu cuma buat becanda.
Gue sama Eric udah gak pernah ngumpul cuma berdua sejak kelas 9, dia berenti ngumpul sama gue karena dia pacaran sama cewek yang nyuruh dia begitu karena cewek itu mikir gue naksir dia. Maksudnya, gue beneran naksir, tapi itu gak penting.
"Jadi, biar gue lurusin, dia mau main ke rumah lo, terus kalian bakal mabok?" Stacy nanya pas gue nganter dia pulang sekolah.
"Iya, dan gue santai kok, gue sama Eric temenan, gue bisa handle," gak, gue gak bisa.
"Gak, lo gak bisa." Dia kenal gue. "Jude, dia lagi rapuh, lo tau artinya?" "Dia butuh temen sekarang?"
"Gak, bego! Dia butuh buat lupa sama Kaya, dan lo bakal bantu dia!"
"Gue tau lo mikir sesuatu bakal terjadi, tapi gak bakal ada apa-apa selain kita minum bir dan mungkin nonton film."
"Kalo kata lo gitu." Kita nyampe di depan rumahnya, dan gue berentiin mobilnya. "Jangan lupa pake pengaman," dia keluar dari mobil.
"KITA GAK BAKALAN SEX!" Gue teriak pas nyokapnya Stacy buka pintu depan. Dia nasehatin gue. "Hai, Nyonya Reed."
Gue lambaikan tangan canggung, dia gak bales.
"Sampai ketemu nanti, Stacy," gue bilang terus pergi, memalukan sekali.
--------
"Orang tua lo mana?" Eric nanya pas dia masuk ke rumah gue. "Liburan."
"Emang kalian gak baru balik liburan? Lo kan udah gak ada seminggu."
"Gak, gue sakit, jadi mereka tunda perjalanannya kemarin."
"Lo sakit?!" dia kaget. "Kenapa gak bilang?"
"Gak penting, lo kan sibuk, dan gue bilang ke Stacy buat gak bilang siapa-siapa." "Gue bukan siapa-siapa, Jude, gue temen lo, gue peduli sama lo."
Kita jalan ke ruang tengah. "Udah, jangan bahas gue, gimana lo?"
"Gini nih gue." Dia angkat dua botol bir, dan kita duduk di sofa.
Kita duduk di sana cuma minum, dan gue bener-bener bisa ngerasain ketegangan. Pahanya gesekan sama paha gue. "Mau nonton apa?"
"Gue gak percaya dia selingkuhin gue!" Dia nyembur. Gue duduk di sana, terlalu takut buat jawab, dan dia lanjut. "Gue udah jadi pacar yang baik, dan dia gak pernah ngehargain gue, dan dia bikin gue ngerasa gue yang salah, kayak gue ngelakuin sesuatu yang bikin dia selingkuh. Ada yang salah sama gue?"
Dia natap gue dengan mata anjing.