Bab 29
"Aneh banget, lo nangkap pake tangan kanan tapi ngelemparnya pake tangan kiri," kataku, memecah keheningan canggung saat dia menggunakan jarinya untuk mengoleskan krim di wajahku,
"Aneh juga lo kebalikannya," jawabnya lalu menggerakkan tangannya mengambil lebih banyak krim dan menaruhnya lagi di pipiku.
"Gak nyangka lo bisa ngelempar kayak gitu," mendengar dengkuran pelan setelah aku mengatakan itu, aku melihat ke arah Gentry yang berusaha untuk tidak tersenyum.
Saat matanya bertemu dengan mataku, Gentry menggerakkan tangannya ke bawah, sebelum aku bisa memalingkan muka atau mengatakan apapun, Gentry memajukan badannya membungkus bibirnya di bibirku. Aku tidak akan bohong, untuk sepersekian detik aku lupa.
Aku lupa omong kosong yang kudapat darinya dalam seminggu setengah terakhir, dan sebelum mataku benar-benar tertutup, aku mengingat semuanya sekaligus dan menarik bibirku. Saat matanya terbuka untuk menatap mataku, Gentry tetap mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Maaf banget, Shane."
Setelah itu Gentry berdiri berjalan melewati ku menuju pintu, sebelum dia sampai aku berkata "Lo emang bajingan."
"Aku tahu," jawabnya berbalik.
Berdiri, aku menatapnya, "Oke kalau gitu kenapa sekarang bersikap baik? Apa? Lo nyesel udah jadi brengsek?" "Iya,"
"Dan ngirim gue ke rumah sakit, lo nyesel juga?"
"Gue gak bermaksud, Shane—" Dia melangkah maju mencoba menjelaskan tapi aku menghentikannya
"Jangan" dia mundur, "Orang dewasa mana pun yang menyesal mencium seseorang pasti akan melupakan hal itu dan bersikap seolah-olah itu tidak terjadi, tapi sepertinya lo menjadikan itu misi untuk menyiksaku, sementara entah bagaimana membuat itu jadi salahku."
"Gue marah sama lo, Shane" akunya, "Gue cium lo dan itu bikin gue kesel" "Tapi kenapa gue?" Aku mendapati diriku berteriak "Gue kan bukan—"
"Gue tahu oke!" Dia berteriak di atasku, "setelah gue cium lo dan kita pelukan semalaman, gue panik," Gentry berkata dengan nada yang lebih tenang. "Gue gak bersikap seperti itu karena gue menyesal ciuman itu oke, dan itulah kebenarannya... hanya saja ciuman seperti itu seharusnya tidak terasa seenak itu."
"Ciuman seperti apa, Gentry?"
"Ciuman antara dua cowok!" Dia memejamkan mata mengakui, "Gue gak tahu gimana harus berdamai dengan itu jadi gue melampiaskannya ke lo, dan gue terus melakukannya karena kalau begitu itu bukan salah gue. Lo yang gay lo mungkin lebih menginginkannya daripada gue... Tapi gue tahu itu tidak benar."
Mendesah, aku duduk kembali di tempat tidur tidak yakin harus berkata apa, aku yakin ada seseorang di luar sana yang tahu bagaimana menghadapinya dengan lebih baik, atau apa yang pantas dia dapatkan, tapi aku? Aku sama sekali tidak tahu. "Lo harus mengakuinya Shane" dia berjalan dari pintu, "nggak ada apa pun tentang seberapa banyak kesamaan kita yang normal."
"Itu cuma kebetulan."
"Enggak, itu nggak, lo tahu itu nggak, Shane. Gue nggak tahu gimana harus menghadapinya oke, gue mencoba meyakinkan diri gue bahwa hal seperti ini memang terjadi, tapi nggak, itu nggak terjadi, setidaknya nggak ke gue."
Masih tidak dapat mengeluarkan apapun dariku, Gentry melanjutkan "meskipun gue belum siap menerima kenyataan, bodoh kalau nggak mencoba."
"Mencoba?" Aku menatapnya duduk di kursi mejaku, "mencoba apa?"
"Gue perlu tahu apakah yang gue rasakan itu nyata, sejak minggu kedua kenalan sama lo gue punya perasaan kayak gue harus kenal lo. Lo harusnya ke sini dan—"
"Lo harusnya nyium gue?" Aku bertanya mencoba membuatnya melihat betapa konyolnya dia terdengar, "bahkan jika gue merasakan sesuatu atau menyadari sesuatu, gue masih berhasil untuk nggak melakukan apa-apa, gue nggak mencoba menjatuhkan diri ke lo untuk membuktikan suatu poin bodoh."
"Membuktikan gue suka sama lo bukan poin bodoh," Aku mencibir tertawa saat dia menyelesaikan kalimat itu
"Lo suka sama gue?" Aku bertanya, "apa lo lihat muka gue? Atau fakta kalau lo udah bikin gue malu di depan rekan satu tim kita selama seminggu terakhir, apa lo sebut itu suka sama gue?"
"Gue minta maaf banget Shane" dia menggulirkan kursi lebih dekat ke arahku, "Gue takut dan bukannya mengakui kesalahan gue, gue nggak mau terlihat seperti jalang di depan mereka."
"Jadi lo lebih milih jadi homofob daripada jadi gay?" "Gue nggak..." Gentry menghentikan dirinya sendiri
"Nggak apa? Gay atau homofob?" Aku rasa Gentry bahkan tidak tahu bagaimana menjawabnya, mengatakan bahwa dia
bukan gay berarti dia homofob, dan jika dia mengatakan dia tidak homofob maka itu mengakui bahwa dia gay, dan aku rasa Gentry belum sampai di sana. Menarik napas dalam-dalam aku berdiri "Gue mau lo pergi" Aku memutuskan
"Shane—"
"Nggak, lo udah jadi brengsek sepanjang minggu ini dan setelah hari ini gue bahkan nggak yakin harus ngomong apa sama lo" dia berdiri mengangguk, "wajahku terasa seperti terbakar dan aku hanya ingin ditinggalkan sendiri."
Berjalan ke pintu, aku membukanya untuknya, "Gue bersumpah gue nggak bermaksud bola itu kena wajah lo."
"Gue nggak peduli Gentry, gue beneran nggak peduli, gue akan mengatasi semua yang lo lakukan ke gue karena sejujurnya, gue tahu itu bukan tentang gue. Lo punya banyak hal yang harus dipecahkan."
"Gue udah memecahkannya" dia berjalan ke arahku saat aku memegang pintu, "Gue punya perasaan sama lo, Shane Visser" Menggelengkan kepalaku, aku menghela napas, "nggak lo nggak gitu Gentry"
"Nggak apa-apa kalau lo nggak percaya sama gue tapi gue siap membuktikannya... lo bukan cuma cowok yang gue cium, dan gue akan memenangkan hati lo."