Bab 48
"Oh maaf."
"Jangan, kebanyakan mimpi buruk itu yang kita jalani, tapi kita berdoa kita cuma lagi tidur."
Dia tertawa lagi, apa aku lucu gitu?
"Oke, gimana kalau gini? Kita bisa jalan-jalan besok, dan kamu cerita tentang diri kamu dan mungkin kota ini, biar aku tahu apa yang harus kuhadapi." Hah?
Dia beneran nggak bisa lihat kalau aku orang terakhir yang pantas ditanya tentang tempat ini?
Aku nggak pernah pergi atau ngapa-ngapain, salah orang, bro.
"Mungkin kayak kencan," dia tersenyum.
"Uh," aku hampir bilang iya, terus dia ngomong gitu, "nggak, makasih."
"Nggak?"
"Iya, nggak, aku nggak gitu, tapi aneh banget kamu nanya. Aku malah denger hati nuraniku nyuruh aku jauhin kamu, jadi aku harus pergi, tapi makasih untuk muffinnya." Aku lari masuk, menutup dan mengunci pintu.
Apaan sih, sumpah?
-
Jalan ke bawah keesokan paginya, aku nemuin Ibu di dapur, baru bangun tidur, "Selamat pagi, sayang," sapa dia saat aku mengucek mata sambil masuk.
"Jadi, Ibu udah bikin sarapan dan selesai rencanain pelajaran minggu depan," dia ngomong sambil aku duduk di bangku di depan makanan, "Ibu butuh tugas sejarah kamu besok, oke? Dan Ibu mau lari ke toko buat-"
"Kamu tahu kan kalau aku nggak pernah ngapa-ngapain atau pergi kemana pun buat bikin interaksi aku dengan orang lain seminimal mungkin?"
"Makasih udah motong pembicaraan Ibu, dan iya Ibu tahu kamu aneh, mau kemana sih ini?"
"Tetangga baru kita ngajak aku kencan kemarin."
Dia kaget. "Apa? Dia ngajak?"
"Yang aneh itu, dia laki-laki."
Dia natap aku bingung. "Beneran?" Aku ngangguk.
"Dan dia gay?"
"Mungkin, aku nggak tahu."
"Kamu gay? Apa ini kamu mau keluar?"
"Keluar dari apa, Ibu?" aku tanya bingung.
"Lemari, Devin."
"Kamu mau aku masuk lemari itu dan keluar dari sana?" Aku nunjuk lemari jaket di lorong.
"Ya ampun, nggak, goblok! Lupakan, jadi dia pikir kamu gay?"
"Mungkin, tapi itu tiba-tiba, dan maksudku orang kayak apa yang dateng ke rumah kamu bawa muffin nggak jelas, yang aku akui enak banget, dan langsung ngajak kencan setelah ngomong tiga kalimat ke satu sama lain?" Aku natap dia. "Kenapa kamu senyum?"
"Karena ini yang Ibu mau dari dulu!" Dia nyamperin aku, megang muka aku. "Dilema remaja beneran, bukan cuma omongin soal kematian mulu."
Aku menjauhkan kepala. "Jadi, kalian mau kemana?"
"Nggak kemana-mana, aku bilang nggak."
"Apa? Kenapa?"
Natap dia dengan tatapan serius. "Kita udah pernah ketemu? Maksudnya, kita beneran udah duduk dan ngobrol beneran? Kamu mau aku keluar dari rumah ini?"
"Kayaknya nggak."
"Persis."
"Tapi gimana kalau kamu tetap aneh di sini dan beneran keluar dan have a great time? Demi Ibu nggak jadi satu-satunya teman kamu."
"Kita bukan teman, Darcy, hubungan kita cuma kewajiban, aku nggak minta buat di sini, atau aku nggak maksa kamu buat tetap di sini."
"Kita semua bikin kesalahan," dia geleng-geleng kepala sambil pergi. "Ini bisa jadi hal yang bagus, meskipun kamu nggak gay, mungkin cowok ini bisa jadi teman, kamu nggak mau punya teman?"
"Aku punya banyak teman."
"Suara-suara di kepala kamu nggak dihitung," dia tersenyum, ngambil kunci mobil dan tas. "Pokoknya Ibu cuma bilang, mungkin ini bisa jadi hal yang bagus, siapa tahu?"
Aku tahu, dan aku tahu ini hal yang buruk, siapa sih yang beneran mau duduk dan ngobrol sama orang yang baru dikenal? Maksudku, apa hasilnya? Beginilah orang jadi domba, mereka nurut sama kawanan dan cuma ngikutin massa. Aku bukan domba, oke? Aku individu yang berpikir bebas yang mungkin harusnya...cari teman dan berhenti manggil semua orang domba. Ya ampun, sekarang dia ada di kepalaku.
Nggak ada yang kayak ditinggal sendirian dengan kebijaksanaan Darcy buat bikin kamu mikir ulang keputusan yang terasa sempurna waktu kamu bikin itu.
Sekarang, kalau aku berani, aku bakal jalan ke rumah sebelah, ketuk pintu mereka, dan minta Ryan buat- apa? Aku bahkan nggak tahu mau kemana dari sana.
Dia suka mainan papan nggak ya, soalnya Ibu sama aku punya banyak banget.
Saat aku duduk di sana, melamun tentang betapa beraninya aku, aku denger suara mobil berhenti.
Jalan ke jendela, aku pegang gorden buat ngeliat Ryan keluar dari mobilnya.
Jalan muter mobil buat ke pintunya, dia noleh dan natap aku. "Sial!" Aku cepet-cepet lepas gorden. "Nggak bisa ngintip orang dengan bener."
Pergi dari jendela, aku berdoa dia nggak lihat aku, tapi doa itu jelas nggak nyampe ke Yang di Atas, karena selanjutnya aku denger ketukan di pintu.
Berhenti, aku diam banget, mungkin dia bakal mikir dia cuma lihat hantu yang natap dan pergi.
"Aku tahu kamu di sana," Ryan bilang, mengetuk lagi.
Jalan ke pintu, aku bukanya cuma sedikit, dia tersenyum.
"Hai." ya hai, kamu mau apa?
"Maaf aku bikin kamu kaget kemarin, kata orang aku kadang terlalu blak-blakan, emang gitu deh kelakuan leo. Tapi kamu nggak perlu khawatir, aku bisa kok kenalan sama kota ini sendiri."
Dia akhirnya berhenti, kami saling natap, dan aku bisa tahu dia nunggu aku ngomong sesuatu, tapi apa yang harus aku omongin?
"Oke, makasih udah ngasih aku kesempatan minta maaf," dia berbalik, pergi.
Ini kesempatan kamu, Devin!
Apa yang bakal Darcy bilang?
"Kamu gay?" aku tanya sebelum dia sampe anak tangga terakhir.
Berbalik, dia berdiri di anak tangga.
"Biseksual sebenernya," Ryan jawab. "Kamu?" aku geleng-geleng kepala.
"Setidaknya, aku nggak mikir aku begitu."
"Aku cukup yakin kamu bakal tahu kalau kamu begitu atau nggak."
"Kamu bakal kaget sama banyaknya hal yang aku nggak tahu," aku nggak tahu kenapa aku bermaksud itu kedengarannya sombong, kedengarannya cuma sedih.
Ryan tertawa. "Oke."
Dia cuma berdiri di sana, dan setiap kali aku mau nutup pintu buat mengakhiri ini, aku cuma denger suara Ibu di kepalaku, dan nggak, bukan sebagai teman, dia sebenernya musuh terburukku di sana. "Kamu pernah mau mati?" Ya Tuhan, mikir sebelum ngomong beneran nggak berguna, ya?
Dia mencibir. "Apa?"
"Ibu bilang aku harus cari teman, dan aku baca artikel online yang bilang kalau cara terbaik buat cari teman adalah kalau kamu punya ketertarikan yang sama. Minatku itu permainan papan, film koboi jadul, dan berdamai dengan kematian." Aku ngeliatin dia, menyerap setiap kata yang aku ucapkan, sedikit bingung tapi tetap mau denger.
"Kamu gimana?"
"Oh um," dia mikir. "Musik, sepak bola, dan keju."
"Keju?" aku bertanya.
Ryan mengangguk. "Iya, keju, aku suka keju kayak kamu suka kematian."
"Aku nggak pernah bilang aku suka kematian." apa dia pikir dia udah kenal aku?
"Iya, maaf, kamu bilang kamu berdamai dengan itu. Aku berdamai dengan obsesiku sama keju kayak kamu berdamai dengan kematian."
"Sekarang aku tahu makanan apa yang harus diharapkan di pemakaman kamu," Ryan tertawa. "Maksud kamu setelah kamu bunuh aku?"
Ya Tuhan, dia temanku, kan?
Maksudku, terlalu dini buat bilang, tapi aku beneran nggak benci orang ini, kalau ada aku malah mungkin mau-
"Kamu mau masuk?"
"Beneran? Pembunuh kayak apa kamu? Nggak mau ngejerat aku dulu?"
"Aku punya keju?"
"Iya, oke, kamu berhasil," dia jalan balik ke anak tangga, menghampiriku.
Dan saat dia masuk ke rumahku, aku tanya, "Ada yang pernah bilang ke kamu kalau sepak bola itu olahraga sampah?"
Saat dia masuk ke rumahku, "iya, kamu suka apa?"
Saat aku menutup pintu, "pernah coba quidditch?"