Bab 204
"Jangan khawatir, lo nggak akan jago matematika dalam sehari." Kita lanjut, dan pas kita belajar, dia mulai ngerti, dia ngerjain beberapa soal sendiri. "Nah, sekarang lo ngerti kan," gue senyum.
"Makasih ya," Sumpah, setiap kata yang cowok ini ucapin bikin gue pengen lompat dari kursi dan nyerang mukanya pake bibir gue. Tapi gue nggak bisa gitu, gue harus nahan diri. Pas gue duduk di sana, merhatiin dia ngerjain beberapa soal, hape gue geter, ngeganggu dia dikit.
"Sori, lanjut aja," Gue ngambil hape dari saku buat liat ada pesan dari Ibu. 'Kaiden, cepet pulang!' Gue bener-bener nggak sadar kalau udah hampir jam 10, FML! "Emm, gue harus cabut nih."
"Oh, oke. Mau gue anter pulang?" "Nggak, emm, kayaknya gue bisa jalan kaki."
"Lo tinggal di mana?"
"Clinton Ave." "Kaiden, itu jauh banget." "Gue punya kartu bus."
"Gue anterin aja," katanya, dan tanpa ngebolehin gue jawab, dia narik tangan gue, narik gue keluar pintu.
"Makasih ya udah nganterin," kata gue pas kita nyampe rumah.
"Nggak masalah, gue nggak bisa ketemu lo besok abis sekolah, gimana kalau pas jam makan siang aja?" "Boleh, nggak papa kok."
"Oke," jawabnya, dan gue keluar dari mobil, masuk ke rumah.
------------
"GILA LO NGGAK LIAT KAMARNYA DIA!" Tyson teriak pas kita jalan ke loker. "Beneran, dan gue kasih tau, itu luar biasa."
"Kok lo masih hidup sih?!"
"Gue juga nggak tau, gue bener-bener usaha buat tetep kalem."
"Gue kaget," Tyson ngos-ngosan, dan kita ketawa pas ngambil buku dari loker. Tyson sadar udah jam berapa, dan karena kita nggak sekelas di pelajaran pertama, dia bilang, "Ketemu lagi nanti ya," terus jalan pergi ninggalin gue sendirian.
Pas gue nutup pintu loker, Isaac muncul, dan langsung aja semua kupu-kupu di perut gue mulai beterbangan lagi. "Hai, Kaiden."
"Pagi," gue jawab kayak anak cupu. Dia senyum dan terus jalan.
Gue ngabisin tiga periode pertama cuma mikirin cara Isaac bisa nyentuh gue di kasurnya 'ASTAGFIRULLAH, NI COWO BIKIN LO GILA KAIDEN'. Kelas akhirnya selesai, dan gue ngebut ke loker buat naruh buku dan ngambil bahan trigonometri yang gue kerjain semalem khusus buat dia. Gue nyampe di lokernya dan nemuin dia nyandar di sana, lagi godain Kyle, kapten tim lacrosse. Gue berdiri jauh banget, merhatiin mereka goda-godan dan saling sentuh, itu menyakitkan jiwa.
"Pasti sakit banget ya," gue denger suara Tyson di belakang gue. "Kenapa harus sakit?"
"Ya, fakta kalau lo cinta sama dia harusnya bikin sakit," Gue benci pas dia ngomongin hal yang udah jelas.
"Pergi deh, Tyson," dia pergi sambil ketawa dan gue berdiri di sana, berusaha nyembunyiin diri sambil merhatiin mereka. Dia liat gue, dan gue langsung lari ke kamar mandi cowok, pura-pura mau ke sana.
Beberapa detik kemudian Isaac masuk. "Hai, gue nungguin lo," "Sori, gue harus ke kamar mandi," gue senyum palsu, dan dia bales senyum. "Udah siap? Kita bisa belajar di ruang Tuan Colt." Dia keluar, dan gue ngikutin.
---------
Cuma beberapa hari lagi sebelum Isaac ujian. Dua minggu ini bareng-bareng luar biasa, setidaknya buat gue. Dia orangnya keren banget, dan dia beneran tertarik dengerin tentang gue, dia bukan tipe atlet yang cuma mikirin diri sendiri, dia beneran peduli. Ini sesi terakhir kita, dan Isaac sebenernya nggak butuh gue, dia udah hampir semuanya tau, dia emang cepet belajar. "Kayaknya semuanya bener, cuma 3 yang salah," gue bilang pas meriksa ujian simulasi yang gue suruh dia kerjain.
"Serius?" dia nanya dengan semangat. "Iya," jawab gue, "Gue rasa lo udah siap."
"Bagus banget," Gue nggak bisa nahan senyum karena dia senyum, tau kalau gue alasan dia senyum bikin gue ikut senyum. "Oke, gue harus pergi nih," Isaac berdiri.
"Oh, oke," kita lagi di rumah gue, orang tua gue keluar jadi gue punya rumah buat diri sendiri.
"Lo dateng kan hari Kamis, gue mau lo di sana, lo pembawa keberuntungan gue," 'DIA BARU AJA NYEBUT LO PEMBAWA KEBERUNTUNGANNYA!!! TENANGIN DIRI KAIDEN!'
Gue narik nafas panjang sebelum jawab, biar nggak pingsan. "Uhh, ya, tentu aja gue dateng," gue pelan-pelan bangun, jalan ngarahin dia ke pintu, dan pas kita nyampe, dia berbalik, gue nggak sadar sedeket apa gue jalan di belakangnya sampe dia berbalik dan wajah kita cuma beberapa inci aja. Mulutnya kebuka, tapi nggak ada kata-kata yang keluar, 'Ngomong sesuatu, woy!' gue teriak dalam hati, pas kita cuma berdiri di sana. Beberapa saat berlalu, dan akhirnya dia bilang, "Gue nggak pernah sadar mata lo sebiru ini."
"Makasih," gue berusaha jawab.
"Iya..." dia mundur, "Ketemu lagi ya."
"Oke," gue jawab sebelum dia pergi. Itu deket banget, gue cuma beberapa inci dari dia, gue bisa aja cium dia, kenapa dia nggak cium gue?! 'Aduh Kaiden, kenapa dia harus cium lo, lo liat sendiri tipe orang yang dia temenin dan pacarin, lo di urutan paling bawah orang yang pengen dia cium' Gue bener, kenapa dia mau sama gue. Gue balik ke dapur, ngepak semua barang, terus naik ke kamar buat tidur.
------
Gue berdiri di luar kelas pas dia ujian, iya, gue harus bolos kelas, tapi gue nggak peduli. Waktu kelasnya abis, dan gue berdiri di sana, nungguin dia keluar, dia keluar dengan senyum lebar di wajahnya. "Gimana ujiannya?" gue nanya dengan semangat.
"Bagus banget," dia senyum. "Lo mikir lo bisa?"
"Yakin gue bikin soalnya jadi gampang," jawabnya.
"Bagus banget."
"Tau nih." dia ngebut dan meluk gue, jantung gue berhenti berdetak, mulut gue kering, dan kaki gue terangkat dari tanah. Dia lepas setelah beberapa saat, dan gue masih kebawa suasana cinta, masih dalam gerakan meluk. "Gue mau berterima kasih banget atas bantuan lo," katanya, mendekat.
"Lo udah bilang makasih kok."
"Gue tau, tapi gue mau nunjukkin seberapa bersyukurnya gue." "Maksudnya gimana?"
"Kencan," dia senyum. "Kencan?" 'Tenang.'
"Iya, gue belum pernah ngajak cowok kencan yang bener sebelumnya. Tapi gue bener-bener menghargai apa yang lo lakuin, jadi gue mau ngajak lo kencan."
"Oke, boleh." Gue nggak mikir gue bisa ngomong. Gue beneran mau kencan sama Isaac Booker, gue nggak sabar.