Bab 134
Tyler
"Gue pikir kita harus berhubungan seks," teman sekamarku masuk ke asrama kita saat gue lagi ngerjain PR di kasur. Ngelepas pensil gue, gue lepas kacamata dan ngeliatin dia, kata-kata itu keluar dari mulutnya bahkan sebelum dia nutup pintu. Akhirnya nutup pintu, dia berdiri di depannya, "Bisa gue jelasin."
Ngarahin seluruh perhatian gue ke dia, gue jawab, "Silakan."
"Dua minggu lalu gue lagi tidur siang," dia pake tanda kutip buat tidur siang, "dan lo telat ke kelas jadi setelah lo mandi lo harus balik lagi kesini dan ganti baju, lo mikir bisa karena gue tidur dan mungkin gak bakal ngeliat apa-apa. Gue gak tidur, gue ngeliat semuanya
dan-"
"Tunggu dulu!" Gue berhentiin dia. Ngambil HP gue, gue nge-teks temen gue, Kati, GUE BENER! GUE TAHU DIA GAK LAGI TIDUR HARI ITU, DIA BENERAN MERHATIIN GUE GANTI BAJU! Dan ngeliat balik ke dia.
"Lanjutin."
Bingung sama apa yang baru aja gue lakuin, dia coba inget apa yang dia omongin, "Oke, emm, lo lagi ganti baju dan gue gak bisa nahan diri, jadi gue ngeliatin. Maaf ya kalau itu aneh atau bikin lo bingung, lo tau gue straight dan gue punya pacar yang baru aja mutusin gue setelah telpon yang baru aja kita lakuin."
"Kelsie mutusin lo?" "Iya," dia nyibir.
"Kenapa?"
"Gue bilang ke dia kalau gue mikirin lo."
"Ya ampun, Tyler, lo mikirnya gimana sih?!" Gue turun dari kasur, berdiri kaget.
"Gue gak tau! Tunggu, iya, gue tau, gue mikirin lo! Gue udah mikirin lo, dan gue harus ngakuinnya ke seseorang."
"Kenapa lo gak dateng ke gue sebelum lo ke Kelsie?"
"Iya, gue bakalan dateng ke temen sekamar gue yang gay dan ngakuin kalau gue mikirin dia, dan apa? Gue pengen berhubungan seks sama dia," dia buang muka karena malu.
"Lo bilang itu ke Kelsie?"
"Iya, maaf ya Sam, gue bukan tipe orang yang nyembunyiin atau nyimpen perasaan gue di dalem," "Lo gak perlu minta maaf, ini cuma kita udah jadi temen sekamar setahun, gue pikir kalau ada sesuatu gue udah bisa ngerasainnya dari sekarang. Gue gak mikir berhubungan seks sama gue adalah yang lo mau, Tyler, mungkin itu cuma momen kebingungan-"
"Gue sebenernya mikirin itu," dia nyela gue, "Gue pikir itu kebingungan tapi-" jalan ke mejanya, dia buka laptop dan mulai ngetik, "Gue coba ngetes diri gue, jadi gue nyari video porno gay," berdiri di belakangnya gue ngeliatin dia ngelakuin apa yang dia omongin. Milih video, dia mulai muter, "Dan itu gak ganggu gue," dia ngeliatin cowok-cowok itu ciuman.
"Oooooke," gue nutup laptopnya, "Itu gak berarti apa-apa, Tyler, gue udah nonton porno straight sebelumya dan itu gak pernah ganggu gue."
Dia berdiri dari kursinya, "Ini beda."
"Beneran gak."
"Sam, gue cuma pengen tau gimana rasanya, gue bisa aja pergi dan nyari tau sendiri, tapi gue pikir-" "Lo pikir gue ada disini dan gue bakal nurutin aja."
"Iya, gue rasa, maksudnya lo gay dan gue kenal lo."
"Bukan gitu caranya, Tyler."
"Kenapa gak? Apa gue bukan tipe lo?" Tyler itu tipe semua orang.
"Bukan soal itu, berhubungan seks sama cowok tanpa ngomonginnya dulu itu kayak daftar buat bencana, apalagi lo belum pernah ngelakuinnya
sebelumnya. Lo pernah cium cowok sebelumnya?" "Gak, tapi-"
"Lo pernah punya interaksi sama cowok lain yang bikin lo mempertanyakan diri lo?" "Selain ngeliatin lo ganti baju?"
"Itu gak diitung," ini gak masuk akal buat gue, Tyler di tim baseball yang berarti dia mungkin ngeliat banyak cowok telanjang atau ganti baju setiap saat, kenapa itu gak ningkatin perasaan dia? "Lo harus mikirin ini lebih banyak oke, gue gak bakal berhubungan seks sama lo karena gue beneran gak mikir lo bakal ngerasain hal yang sama setelahnya."
"Bukankah itu inti dari pengalaman? Gue gak mau ngerasain hal yang sama setelahnya."
"Terus pikirin aja lebih banyak, oke? Kasih waktu," Tyler dan gue udah akur sejak kita pindah ke asrama dan gue gak mau ngerugiin itu dengan berhubungan seks sama dia dan ngerusak dinamika kita.
Setelah percakapan aneh itu, seminggu atau lebih berlalu. Gue lagi jalan ke kantin buat ketemu Kati buat makan siang. "Jadi, seberapa canggung sih keadaan sama Tyler sejak..."
"Gak canggung, cuma agak beda, dia gak terlalu sering nongkrong di kamar kita. Kalau gue teks dia, dia bilang lagi latihan atau di kelas, tapi gue tau dia cuma berusaha ngehindarin gue karena dia mungkin mikir gue nolak dia."
"Kenapa lo nolak dia lagi?" Kati nanya sambil makan saladnya.
"Gue gak nolak dia, Kati, gue mau dia yakin, kalau dia yakin dia pasti udah ngomong sesuatu dari sekarang. Tyler itu orangnya impulsif dan gue yakin itu cuma itu."
"Tapi gimana kalau lo beneran ngelakuinnya? Bukan buat dia, tapi buat lo, lo kan yang ngeluh kalau lo gak ada lagi belakangan ini karena lo sibuk banget sama sekolah. Sekarang temen sekamar lo yang cakep minta, dan apa? Lo bikin alasan buat gak mau," dia lumayan bener, maksudnya, dengan cara tertentu ini adalah kesempatan buat gue juga. "Pikirin aja gini, kalau kalian ngomonginnya duluan, pelan-pelan, dan cuma saling yakinin kalau itu gak bakal ngerusak apapun, gue gak liat kenapa lo gak bisa ngelakuinnya."
Saat kita lagi makan siang, pacar Kati jalan ke meja kita, "Hai, guys," "Hai, Sayang," mereka ciuman.
"Hai, Seth."
Seth narik kursi dan duduk di samping Kati, "Sayang, gue boleh nanya gak?" "Oke."
"Temen sekamar Sam bilang ke dia kalau dia bingung dan mereka harus berhubungan seks buat ngebantu dia nyari tau apa dia suka sama cowok atau gak," bukan cowok, gue. "Menurut lo dia harus ngelakuinnya?"
"Kati, jangan nanya dia gitu!"
"Gak apa-apa, Seth gak keberatan, kan?" "Nggak," dia senyum, "seberapa deket sih kalian?"
"Kita gak terlalu deket, tapi kita akur, maksudnya gue nganggep dia temen."