Bab 13
PENCOPET
"Ya Tuhan," keluh Jasper. Tentu saja, dia punya ide siapa yang melakukan ini. Dia nggak akan kaget kalau Alister nyuruh JJ buat ngelakuinnya, dan JJ bakal ngelakuin apa pun yang disuruh Alister kayak pembantu sialan.
Nyadar tulisan itu ditulis pake cat semprot, Jasper dapat ide. Cepat-cepat balik ke dalam, dia balik lagi bawa kain dan botol. Ngejatuhin tasnya ke tanah di siang bolong tanpa peduli orang lain bisa lihat dia, Jasper naik ke kap mobil Daniel dan mulai nyiram cairan itu ke kain dan ngepel kaca depan. Beneran mempan, dia senyum sambil terus lanjut.
"Lo ngapain sih?! Turun dari mobil gue!" bentak Daniel, balik keluar setelah beberapa lama, kaget liat Jasper di mobilnya. Lompat turun, Jasper nggak ngomong apa-apa karena dia udah selesai juga. Daniel berhenti, kaget liat kaca depannya kinclong.
"Aseton," kata Jasper, "laboratorium punya beberapa dan bisa ngilangin cat semprot dari kaca," jelasnya terus nambahin, "pernah liat di video hack lima menit, tapi mereka pake penghilang kuteks yang ada asetonnya."
"Kenapa sih lo nggak biarin gue sendiri?" Daniel nengok ke Jasper, nanya dengan kasar. Dengan rahang menganga, Jasper bilang, "semua kerja keras dan nggak ada terima kasihnya?" "Gue nggak minta lo ngelakuin ini, gue nggak minta apa pun dari lo."
"Lo tau," Jasper mulai sambil ngambil barang-barangnya, "sikap martir lo ini jelas nggak mempan, gue tau lo tau kalau lo nggak pantes dapet ini—" "Lo nggak tau apa-apa," balas Daniel.
"Gue tau cukup," katanya sebelum pergi tapi balik badan buat nambahin, "dan martir sejati mati tanpa keluh kesah. Lo bukan martir beneran kalau siksaan itu ganggu lo." Dia ninggalin Daniel beneran kali ini.
Mungkin dia harus dengerin temen-temennya dan berhenti aja, Nggak ada yang berhasil! Daniel masih nggak mau ada urusan sama dia dan dia juga nggak dapet apa-apa dari Alister. Jadi, dia bakal nyerah aja. Daniel nggak mau temen dan Jasper nggak mau dibenci karena udah nyoba jadi temen, dan dia nggak yakin Daniel beneran pantas dia jadi musuh masyarakat. Dia nggak masalah orang lain nggak suka dia lagi karena udah nyoba jadi temen Daniel, tapi sekarang dia ngerti, Daniel nggak mau temen, dia mau dibiarin sendiri.
Sendirian di rumah, Jasper duduk di bangku, ngerjain PR di meja dapur. Terlalu ke distract buat fokus sama pekerjaannya, Jasper hilang dalam pikiran. Akhir-akhir ini, yang dia pikirin cuma Daniel, nggak masuk akal kenapa dia kepikiran Daniel Atkinson, cowok itu nggak mau ada urusan sama dia, tapi Jasper tetep nggak bisa lupain dia.
Kaget dari lamunannya karena pintu depan ditutup, Jasper nyoba keliatan lagi kerja waktu Ibunya masuk ke dapur, ngejatuhin barang-barangnya di ujung meja dapur. "Hai sayang," dia senyum nyapa anaknya
"Hai," Jasper nengok ke dia, "gimana kerjaan?" "Lumayan, gimana sekolah?"
"Panjang," jawabnya agak stres
Jalan ke dia, Ibunya Jasper nyium dia di atas kepalanya terus berhenti, mendekat dan ngendus dia, "kamu kok baunya aneh"
"Aseton," jawabnya dan Ibunya nunggu penjelasan, "ceritanya panjang." "Oke," dia pergi nggak repot-repot nanya apa-apa lagi. "Jonas mana?"
"Keluar sama Lola kayaknya," dia ngangguk. Dapur sepi lagi waktu Ibunya jalan ke sisi lain dari
meja dapur, cuci tangan sebelum
buka kulkas. Dengan punggung ke dia, Jasper nanya, "kamu ada denger apa pun di sekitar kota tentang keluarga Atkinson?"
"Nama itu kayaknya familiar," dia mikir, "ibu-ibu di kelas senam selalu jelek-jelekin seseorang namanya Nicole Atkinson, ada hubungannya?"
Jasper ngangguk, "itu istrinya Richard Atkinson," "Mereka siapa sih?"
"Ternyata sebelum kita pindah ke sini, keluarga Atkinsons nyolong banyak uang dari orang-orang di sini, dan sekarang Richard Atkinson di penjara karena penggelapan dan pencucian uang."
"Wow gue nggak tau semua itu,"
"Anak mereka sekolah di sekolah gue, dia pergi lebih dari setahun tapi sekarang dia balik lagi." "Beneran? Gimana rasanya?"
"Orang-orang jahat ke dia jadi dia nggak ngomong sama siapa pun, gue nyoba jadi temennya tapi nggak berhasil sama sekali"
"Setidaknya kamu udah nyoba Jasper, itu aja yang bisa kamu lakuin, kamu nggak bisa maksa seseorang buat jadi temen kamu." "Gue tau sekarang," Jasper menghela napas.
Hari lain di Everton berarti hari lain jadi target buat Alister dan temen-temennya, mungkin dia bukan martir karena ini mulai kena ke dia, dia harus ngebela diri. Tapi apa gunanya? Memicu mereka cuma akan bikin mereka makin marah, dan bukan itu kenapa dia ada di sini, Daniel bahkan nggak yakin kenapa dia balik lagi.
Ngelewatin harinya dengan ngehindarin semua orang dan kata-kata jahat mereka, cowok itu nemuin tempat-tempat sempurna di sekitar sekolah buat waktu dia butuh sendiri tapi nggak bisa ke mobilnya. Hari-hari kayak hari ini adalah hari terbaik Daniel, hari-hari yang nggak ada kejadian, hari-hari di mana dia cukup cepat buat ngehindarin Alister dan temen-temennya, mungkin mereka nggak akan ngecat mobilnya lagi... dia berharap. Tapi hari berakhir dan dia keluar buat nemuin itu nggak lecet.
Naik ke mobilnya, Daniel keluar dari tempat parkir dalam waktu singkat, cuma beberapa blok dari sekolah dia berhenti di lampu merah. Sementara dia nunggu Daniel natap jalanan dan matanya berhenti waktu mereka mendarat ke seorang cowok, di trotoar membungkuk natap sepedanya. Nggak butuh waktu lama buat dia buat nyadar cowok itu Jasper. Nyadar raut wajah tertekan di wajah Jasper waktu dia pelan-pelan nyetir lewat, Daniel mempertimbangkan buat terus jalan dan ninggalin Jasper di sana, tapi dia nggak bisa, di hatinya dia tau dia harus pergi nolong.
Berhenti agak di depan, dia keluar dari mobil dan jalan balik di trotoar sampe dia nyampe ke Jasper. Nyadar bayangan ngeblok sinar mataharinya, Jasper nengok nggak nyangka Daniel dari semua orang buat
berdiri di depannya. "Lo nyasar?"